Tuesday, January 17, 2017

ISTINJAK DENGAN KERTAS TISU

DESKRIPSI MASALAH:
Sudah tidak asing lagi di zaman era yang serba praktis dan maju sekarang ini. Contoh saja dalam sebuah restoran yang megah, para pengunjung ketika buang air kecil atau air besar, mereka biasaya beristinjak dengan menggunakan kertas tisu, sebab restoran tersebu tidak menyediakan air yang dibuat untuk beristinjak.

PERTANYAAN:
Bolehkah istinjak dengan kertas tisu?

JAWAB:
Diperbolehkan, asalkan pada kertas tisu tersebut tidak terdapat tulisan Asma'ul mu'adzdzom dan al-Qur'an.

REFERENSI:

Kitab Bughyatul Mustarsyidin (بُغْيَةُ الْمُسْتَرْشِدِيْنِ) Halaman 31:

[فَائِدَةٌ]: يَجُوْزُ الْاِسْتِنْجَاءُ بِأَوْرَاقِ الْبَيَاضِ الْخَالِيْ عَنْ ذِكِرِ اللهِ تَعَالٰى كَمَا فِي الْإِيْعَابِ، وَيَحْرُمُ الْاِسْتِجْمَارُ بِالْجُدْرَانِ الْمَوْقُوفَةِ وَالْمَمْلُوْكَةِ لِلْغَيْرِ قَالوهُ (سم)

Artinya:
[Faidah]: Diperbolehkan beristinjak dengan menggunakan kertas tisu yang tidak ada tulisan Alloh Ta'ala, sebagaimana keterangan dalam kitab al-I'ab. Dan haram beristinjak dengan pagar tembok yang diwaqofkan dan pagar tembok yang dimiliki oleh orang lain menurut pendapat Ibnu Ummi Qosim al-'Ubadi.

Kitab Fiqih 'ala Madzhabil Arba'ah (اَلْفِقْهُ عَلٰى مَذْهَبِ الْأَرْبَعَةِ) Juz 1 Halaman 79:

أَمَّا الْوَرَقُ الَّذِيْ لَا يَصْلُحُ لِلْكِتَابَةِ فَإِنَّهُ يَجُوْزُ الْاِسْتِجْمَارُ بِهِ بِدُوْنِ كَرَاهَةٍ. اهـ

Artinya:
Adapun kertas yang tidak layak untuk ditulisi, maka boleh digunakan untuk beristinjak tanpa disertai hukum makruh.

Monday, January 16, 2017

BERSEDEKAP KETIKA I'TIDAL

DESKRIPSI MASALAH:
Seperti yang dilakukan oleh beberapa jama'ah, ketika selesai dari ruku' dan ber-I'tidal, biasanya mereka menyedekapkan tangannya kembali di bagian dadanya.

PERTANYAAN:
Bagaimanakah yang benar, apakah disunnahkan untuk menyedekapkan tangan ataukah melepaskannya?

JAWAB:
Menurut pendapat yang mu'tamad (yang bisa dijadikan pegangan), sunnah melepaskan tangannya.

REFERENSI:

Kitab Al-Fatawi Al-Fiqhiyyah Al-Kubro (اَلْفَتَاوِيُّ الْفِقْهِيَّةُ الْكُبْرٰى) Juz 1 Halaman 150:

وَسُئِلَ نَفَعَ اللَّهُ بِهِ بِمَا لَفْظُهُ ذَكَرَ الشَّيْخُ زَكَرِيَّا رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالٰى فِي شَرْحِ الْبَهْجَةِ أَنَّهُ إِذَا اسْتَوٰى مُعْتَدِلًا بَعْدَ رُكُوْعِهِ أَرْسَلَ يَدَيْهِ إرْسَالًا خَفِيفًا إلٰى تَحْتِ صَدْرِهِ فَقَطْ. وَقَالَ غَيْرُهُ بِإِرْسَالِهِمَا فَمَا الْمُعْتَمَدُ مِنْ ذٰلِكَ. فَأَجَابَ بِقَوْلِهِ إنَّ الْمُعْتَمَدَ أَنَّهُ يُرْسِلُهُمَا وَلَا يَجْعَلُهُمَا تَحْتَ صَدْرِهِ، وَعِبَارَةُ شَرْحِي لِلْعُبَابِ بَعْدَ قَوْلِهِ فَإِذَا انْتَصَبَ أَرْسَلَهُمَا وَظَاهِرُ كَلَامِهِمْ هُنَا بَلْ صَرِيحُهُ أَنَّهُ لَا يَجْعَلُهُمَا تَحْتَ صَدْرِهِ، وَهُوَ ظَاهِرٌ

Artinya:
Imam Ibnu Hajar al-Haitamiy, semoga Alloh memberi kemanfaatan dengan sebab Beliu, pernah ditanya dengan pertanyaan yang redaksinya telah disebutkan oleh Syeh Zakariya al-Anshoriy, semoga Alloh Ta'ala merahmati Beliau, di dalam kitab syarah al-Bahjah, berupa: "Sesungguhnya apabila musholli (orang yang sholat) berdiri tegak dengan ber-I'tidal setelah ruku', maka hendaknya ia melepaskan kedua tangannya dengan pelan-pelan ke arah bagian bawah dadanya saja (bersedekap)". Sedangkan ulama' lainnya berkata: "Hendaknya melepaskan kedua tangannya". Manakah pendapat yang mu'tamad dari kedua pendapat tersebut? 
Lalu Beliau (Imam Ibnu Hajar al-Haitamiy) menjawab dengan perkataannya: "Sesungguhnya menurut pendapat mu'tamad adalah si musholli melepaskan kedua tangannya dan tidak meletakkan kedua tangannya di bawah dadanya (bersedekap). Dan Ibarot syarahku untuk kitab al-'Ubab setelah ucapan mushonnif (pengarang), berupa: 'Apabila si musholli berdiri tegak, maka hendaknya ia melepaskan kedua tangannya.' adalah: 'Dan menurut dlohirnya bahkan shorihnya ucapan para ulama' di sini adalah bahwa sesungguhnya musholli hendaknya tidak menjadikan kedua tangannya di bawah dadanya (bersedekap), dan keterangan itu sudah sangat jelas.'."

Kitab Hasyiyah Al-Jamal (حَاشِيَةُ الْجَمَلِ) Juz 3 Halaman 479:

أَمَّا زَمَنَ الِاعْتِدَالِ فَلَا يَجْمَعُهُمَا تَحْتَ صَدْرِهِ بَلْ يُرْسِلُهُمَا سَوَاءٌ كَانَ فِي ذِكْرِ الْاِعْتِدَالِ أَوْ بَعْدَ الْفَرَاغِ مِنْ الْقُنُوتِ. اهـ

Artinya:
Adapun pada saat I'tidal, maka musholli tidak disunnahkan mengumpulkan (menyedekapkan) kedua tangannya di bawah dadanya, akan tetapi disunahkan melepaskan kedua tangannya, baik itu ketika dalam waktu membaca dzikir I'tidal atau setelah selesai membaca dari do'a qunutnya.

Adzan Memakai Pengeras Suara

DESKRIPSI MASALAH:
Sudah tidak asing bagi kita, bahwa adzan yang dikumandangkan di masjid-masjid seluruh nusantara, sekarang menggunakan pengeras suara, yang mana corong spekernya ditaruh di atas masjid atau menara.

PERTANYAAN:
Apakah cara yang demikian ini sudah bisa mendapatkan kesunahan mengerjakan adzan di tempat yang tinggi?

JAWAB:
Belum bisa mendapatkan kesunahannya.

REFERENSI:

Kitab Tuhfatul Muhtaj (تُحْفَةُ الْمُحْتَاجْ) Juz 5 Halaman 89:

وَيُسْتَحَبُّ أَنْ يُؤَذِّنَ عَلٰى عَالٍ كَمَنَارَةٍ وَسَطْحٍ لِلْإِتِّبَاعِ وَلِزِيَادَةِ الْإِعْلَامِ بِخِلَافِ الْإِقَامَةِ لَا يُسْتَحَبُّ فِيْهَا ذٰلِكَ إِلَّا إِنْ اُحْتِيْجَ إِلَيْهِ لِكِبَرِ الْمَسْجِدِ كَمَا فِيْ الْمَجْمُوْعِ وَفِي الْبَحْرِ لَوْ لَمْ يَكُنْ لِلْمَسْجِدِ مَنَارَةٌ سُنَّ أَنْ يُؤَذِّنَ عَلَى الْبَابِ وَيَنْبَغِيْ تَقْيِيْدُهُ بِمَا إِذَا تَعَذَّرَ فِي سَطْحِهِ وَإِلَّا فَهُوَ أَوْلٰى فِيْمَا يَظْهَرُ. اهــ

Artinya:
Muadzin disunnahkan mengumandangkan adzan di atas tempat yang tinggi, seperti menara dan loteng, karena ittiba' (mengikuti) kepada Nabi Saw, dan agar suara lebih bertambah keras ketika menyampaikan pemberitahuannya. Berbeda dengan iqomah, maka tidak disunnahkan mengeraskan suara, kecuali bila dibutuhkan, semisal dikarenakan besarnya masjid, sebagaimana keterangan dalam kitab al-Majmu'. Sedangkan dalam kitab al-Bahr diterangakan bahwa jika Masjid tidak memiliki menara, maka muadzin disunnahkan mengumandangkan adzan di depan pintu Masjid. Dan seyogyanya mushonnif (pengarang) membatasi perkataannya dengan ucapan "jika muadzin sulit [mengumandangkan adzan] di atas lotengnya masjid, dan apabila tidak [sulit mengumandangkan adzan di atas lotengnya masjid], maka adzan di atas loteng masjid lebih utama, menurut pendapat yang jelas.

Kitab Hasyiyah Bujairomi 'Alal Manhaj (حَاشِيَةُ الْبُجَيْرَمِيِّ عَلَى الْمَنْهَجِ) Juz 1 Halaman 172-173:

(وَقِيَامٌ فِيهِمَا) أَيْ: فِي الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ عَلَى عَالٍ إنْ اُحْتِيجَ إلَيْهِ لِخَبَرِ الصَّحِيحَيْنِ {يَا بِلَالُ قُمْ فَنَادِ} ؛ وَلِأَنَّهُ أَبْلَغُ فِي الْإِعْلَامِ وَوَضَعَ مُسَبِّحَتَيْهِ فِي صِمَاخَيْ أُذُنَيْهِ فِي الْأَذَانِ.
----------------------------------
 وَأَمَّا الْأَذَانُ فَيُطْلَبُ فِيهِ أَنْ يَكُونَ عَلَى عَالٍ مُطْلَقًا كَمَا فِي شَرْحِ م ر. (قَوْلُهُ: قُمْ فَنَادِ) دَلِيلٌ لِسُنِّيَّةِ الْقِيَامِ لَا بِقَيْدِ كَوْنِهِ عَلَى عَالٍ؛ لِأَنَّهُ لَا يَدُلُّ عَلَيْهِ.

Artinya:
Disunnahkan mengumandangkan adzan dan iqomah di atas tempat yang tinggi jika itu dibutuhkan, karena berdasarkan hadis Bukhori dan Muslim, "Hai Bilal, berdirilah! Kemudian ber-adzanlah!". Karena adzan di tempat yang tinggi itu lebih bisa menyampaikan pengumumannya [untuk sholat], dan Bilal meletakkan kedua jari telunjuknya di kedua lubang telinganya ketika adzan.
---------------------------------------------
Sedangkan ketika adzan, maka muadzin dituntut [disunnahkan] berada di atas tempat yang tinggi secara mutlak, sebagaimana keterangan dalam kitab syarah imam Ar-Romli. (Sabda Nabi  Saw: "Berdirilah kemudian ber-adzanlah!") itu menjadi dalil disunnahkannya berdiri [ketika adzan], bukan menjadi keharusan bagi muadzin untuk mengumandangkan adzan di atas tempat yang tinggi, karena hadis di atas tidak menunjukkan hal tersebut [perintah adzan di tempat yang tinggi].

Hukum Adzan dan Iqomah bagi Orang yang Berhadats

DESKRIPSI MASALAH:
Sebagaimana kasus yang telah diperdebatkan oleh kang Fahmi dan kang Dul, bahwa keduanya saling berbeda pendapat dalam menyikapi masalah tentang adzan yang dilakukan oleh orang yang berhadats. Menurut kang Fahmi hukumnya haram, sedangkan menurut kang Dul hukumnya hanya makruh.

PERTANYAAN:
Bagaimana sebenarnya hukum tentang orang yang berhadats mengumandangkan adzan?

JAWAB:
Hukumnya makruh.

REFERENSI:

Kitab Fathul Mu'in (فَتْحُ الْمُعِيْنِ) Halaman 30:

(تَنْبِيْهٌ) يُسَنُّ رَفْعُ الصَّوْتِ بِالْأَذَانِ لِمُنفَرِدٍ فَوْقَ مَا يُسْمِعُ نَفْسَهُ وَلِمَنْ يُؤَذِّنُ لِجَمَاعَةٍ فَوْقَ مَا يُسْمِعُ وَاحِدًا مِنْهُمْ وَأَنْ يُبَالِغَ كُلٌّ فِيْ جَهْرٍ بِهِ لِلْأَمْرِ بِهِ وَخَفْضُهُ بِهِ فِيْ مُصَلًّى أُقِيْمَتْ فِيْهِ جَمَاعَةٌ وَانْصَرَفُوْا -إِلٰى أَنْ قَالَ- وَيُكْرَهَانِ مِنْ مُحْدِثٍ وَصَبِيٍّ وَفَاسِقٍ وَلَا يَصِحُّ نَصْبُهُ. اهــ

Artinya:
(Peringatan) Bagi oarang yang sholat munfarid [sendirian], disunnahkan mengeraskan suara adzan di atas pendengarannya sendiri. Sedangakan bagi orang yang adzan untuk sholat jama'ah, maka disunnahkan mengeraskan suaranya agar dapat didengar oleh salah satu dari mereka [orang-orang yang berjama'ah]. Dan setiap orang yang mengumandangkan adzan di atas, disunnahkan mengeraskan suaranya setinggi-tingginya karena hal itu diperintahkan. Dan sunnah merendahkan suara adzan jika dilakukan di tempat sholat [musholla] yang telah dibuat mendirikan jama'ah dan orang-orangnya telah bubar. ... Adzan dan iqomah keduanya dimakruhkan dilakukan oleh orang yang berhadats, anak kecil dan orang fasiq. Dan tidak sah menyerahkan [adzan dan iqomah] kepada anak kecil dan orang fasiq.

Sunday, January 15, 2017

Meninggalkan Sholat Karena Menjadi Suporter Sepak Bola

DESKRIPSI MASALAH:
Diakui ataupun tidak, ditengah maraknya pertandingan sepak bola antar Club memancing para suporter dari berbagai daerah ikut hadir da berjubel di lapangan, lebih-lebih mereka yang maniak sepak bola. Karena saking cintanya dengan Clubnya, ketika Clubnya bermain dimanapun, ia tetap setia menjadi suporter, bahkan sampai ia lupa dengan kewajiban sholatnya.

PERTANYAAN:
Apakah menjadi suporter sepak bola termasuk udzur diperbolehkannya meninggalkan sholat?

JAWAB:
Tidak dan hukumnya haram.

REFERENSI:

Kitab Syarah al-Yaqutun Nafis (شَرْحُ الْيَاقُوْتِ النَّفِيْسِ) Halaman 126:

اَلثَّانِيْ: اَلنِّسْيَانُ إِذَا اشْتَغَلَ بِأَمْرٍ غَيْرِ مُحَرَّمٍ حَتّٰى أَنْسَاهُ الصَّلَاةَ عُذِرَ لَكِنْ إِذَا حَصَلَ النِّسْيَانُ بِسَبَبِ لَعِبِ كُرَّةٍ أَوْ غَيْرِهَا مِنَ الْأَلْعَابِ الْمُضَيِّعَةِ الْأَوْقَاتِ فَإِنَّهُ لَا يُعْذَرُ. اهـــ

Artinya:
Udzur yang memperbolehkan meninggalkan sholat yang kedua adalah lupa. Bila seseorang disibukkan deengan perkara yang tidak diharamkan sehingga ia lupa dengan sholatnya, maka hukumnya dimaafkan. Akan tetapi jika kelupaannya itu disebabkan permainan sepak bola atau semacamnya, yakni dari permainan-permainan yang menyia-nyiakan waktu maka itu tidak dimaafkan.

Kitab Nihayatul Muhtaj (نِهَايَةُ الْمُحْتَاجْ) Juz 3 Halaman 274:

(قَوْلُهُ: وَنِسْيَانٍ) يَنْبَغِيْ إِلَّا أَنْ يَنْشَأَ النِّسْيَانُ عَنْ مَنْهِيٍّ عَنْهُ كَلَعِبِ الشِّطْرَنْجِ فَلَا يَكُوْنُ عُذْرًا. اهــ

Artinya:
Termasuk udzur sholat adalah lupa. Dan sebaiknya pengarang mengecualikan lupa yang ditimbulkan dari perkara yang dilarang, seperti main catur, karena hal itu tidak tergolong udzur.

Saturday, January 14, 2017

MARGA BAA-'ALAWI

Di dalam kitab Is'adur Rofiq (اِسْعَادُ الرَّفِيقْ) Juz 1 halaman 3 didapat keterangan sebagai berikut:
 
قَوْلُهُ بَاعَلْوِيٍّ هُوَ بِالْمَعْنَى الْخَاصِّ عِنْدَ أَهْلِ حَضْرَ مَوْتَ: كُلُّ مَنْ يُنْسَبُ لِسَيِّدِنَا عَلْوِيٍّ بْنِ عُبَيْدِ اللهِ بْنِ سَيِّدِيْ الشَّيْخِ أَحْمَدَ بْنَ عِيْسٰى اَلْمُهَاجِرِ إِلَى اللهِ. وَأَمَّا بِالْعَامِّ فَيُطْلَقُ عَلٰى كُلِّ مَنْ يُنِسَبُ لِسَيِّدِنَا الْإِمَامِ عَلِىٍّ بْنِ أَبِي الطَّالِبِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ وَكَرَّمَ اللهُ وَجْهَهُ.

Artinya:
Perkataan Mushonnif (Syeh Muhammad bin Salim bin Sa'id Baa-Bashil) berupa lafadz "Baa-'Alawiy" menurut penduduk Hadlro Maut mempunyai arti khusus, yaitu setiap orang yang nasabnya bersambung dengan Sayyid kita 'Alawiy bin Abaidillah bin Sayyidi Sheh Ahmad bin Isa al-Muhajir ilaAlloh. Sedangakan menurut arti umum Baa-'Alawiy adalah setiap orang yang nasabnya bersambung dengan Sayyidina Imam Ali bin Abu Tholib, semoga Alloh meridloi Beliau dan memuliakan wajah Beliau

DEFINISI SAYYID DAN SYARIF

Di dalam kitab Is'adur Rofiq (اِسْعَادُ الرَّفِيقْ) Juz 1 halaman 3 didapat keterangan sebagai berikut:
وَفِي الْعُرْفِ الشَّرْعِيِّ يُطْلَقُ لَفْظُ سَيِّدٍ وَشَرِيْفٍ عَلٰى كُلِّ مَنْ اِنْتَسَبَ لِلسِّبْطَيْنِ سَيِّدِ الْحَسَنِ وَسَيِّدِ الْحُسَيْنِ. وَقَدْ يَفْتَرِقَانِ فِيْ اصْطِلَاحِ أَهْلِ الْعِلْمِ فَيُطْلِقُوْنَ السَّيِّدَ عَلٰى كُلِّ مَنْ بَلَغَ مَقَامًا رَفِيْعًا فِي الْعِلْمِ وَالْوِلَايَةِ وَإِنْ كَانَ مِنْ غَيْرِ الْإِشْرَافِ. وَأَمَّا لَفْظُ شَرِيْفٍ فَخَاصٌّ بِمَنْ ذُكِرَ كَمَا ذَكَرُوْا ذٰلِكَ فِي نَحْوِ الْوَصِيَّةِ وَالْوَقْفِ أَفَادَهُ الشَّيْخُ عَبْدُ اللهِ بَاسْوَدَانَ فِي شَرْحِ الْخُطْبَةِ الطَّاهِرَةِ.

Artinya:
Dalam istilah syara' lafadz Sayyid dan Syarif diucapkan atas setiap orang yang nasabnya bersambung dengan kedua cucunda Nabi, yaitu Sayyid Hasan dan Sayyid Husein. Menurut istilah ahli ilmu, lafadz Sayyid dan Syarif mempunyai perbedaan. Menurut mereka Sayyid adalah orang yang mencapai kedudukan tinggi dalam bidang keilmuan dan kewalian, meskipun bukan dari golongan Asyrof (orang-orang mulia keturunan Rosululloh Saw). Sedangkan istilah Syarif khusus untuk mereka keturunan Sayyid Hasan dan Sayyid Husein. Hal itu sebagaimana yang telah dituturkan oleh para ulama' fiqih dalam bab wasiat dan bab waqof. Faedah di atas disampaikan oleh Syeh Abdulloh Baas-Wadan dalam kitabnya Syarah Khutbah Thohiroh.

DEFINISI HABIB

Di dalam kitab Is'adur Rofiq (اِسْعَادُ الرَّفِيقْ) Juz 1 halaman 3 didapat keterangan sebagai berikut:

قَوْلُهُ اَلْحَبِيْبُ فَعِيْلٌ بِمَعْنٰى فَاعِلٌ وَبِمَعْنٰى مَفْعُوْلٌ، فِيْ عُرفِ حَضْرَ مَوْتَ يُطْلَقُ عَلٰى مَنْ يُنْسَبُ لِسَيِّدِنَا عَلْوِيِّ بْنِ عُبَيْدِ اللهِ وَصَارَ عُرْفًا خَاصًّا عِنْدَهُمْ مِنْ عَصْرِ الْحَبِيْبِ عُمَرَ بْنَ عَبْدِ الرَّحْمٰنِ الْعَطَّاسِ قَدَّسَ اللهُ رُوْحَهُ اِسْتِدْعاَءً لِتَحْقِيْقِ الْمَحَبَّةِ مِنْ كُلِّ مُؤْمِنٍ مُصَدِّقٍ لِمَا لِأَهْلِ الْبَيْتِ عَلٰى سَائِرِ الْأُمَّةِ مِنَ الْمَحَبَّةِ وَالْمَوَدَّةِ الْوَارِدِ بِهَا الْكِتَابُ وَالسُّنَّةُ، وَإِلَّا فَالْعُرْفُ الْعَامُّ يُطْلِقُهَا عَلٰى كُلِّ مَحْبُوبٍ وَمُحِبٍّ.

Artinya:
Perkataan mushonnif (Syeh Muhammad bin Salim bin Sa'id Ba-Bashil) : Kata اَلْحَبِيْبُ (Habib), dengan mengikuti wazan فَعِيْلٌ, adalah kata yang menggunakan maknanya wazan فَاعِلٌ (orang yang mencintai) dan wazan مَفْعُوْلٌ (orang yang dicintai), Habib menurut istilah penduduk Hadlro Maut adalah orang yang nasabnya bersambung dengan Sayyid Alwi bin Ubaidillah. Dan kata اَلْحَبِيْبُ ini menjadi istilah khusus bagi penduduk Hadlro Maut yang diberlakukan sejak zamannya Umar bin Abdurrohman al-'Aththos, semoga Alloh mensucikan ruh beliau, dengan tujuan menarik rasa cinta yang tulus dari setiap orang mukmin yang membenarkan adanya kewajiban mencintai dan menyayangi Ahlu Bait mengalahkan pada yang lainnya, sebagaimana keterangan dalam Al-Qur'an dan Hadits, dan jika kata اَلْحَبِيْبُ tidak diberlakukan sebagai istilah khusus, maka kata اَلْحَبِيْبُ ini menjadi istilah umum yang diucapkan untuk setiap orang yang dicintai dan orang yang mencintai.

KEAGUNGAN HARI JUM'AT

PERTANYAAN:
Apa alasannya hari Jum'at disebut dengan Sayyidul Ayyam?
JAWAB:
Sebab pada hari Jum'at Alloh telah menciptakan Adam as., pada hari Jum'at kiamat akan terjadi, pada hari Jum'at Alloh memberi izin penduduk surga untuk menziarahi-Nya. Para Malaikat menyebut hari Jum'at sebagai yaumul mazid, karena banyaknya pintu-pintu rahat Alloh yang dibuka pada hari itu. Alloh melimpahkan anugerah dan melampangkan kebaikan. Pada hari ini terdapat waktu yang mulia, yang pada waktu tersebut Alloh mengabulkan do'a secara mutlak, dll.
 
 REFERENSI:
Kitab I'aatut Tholibin Juz 2 halaman 63: 

قَالَ سَيِّدُنَا الْقُطْبُ الْغَوْثُ سَيِّدِ الْحَبِيْبُ عَبْدُ اللهِ ابْنُ عَلَوِيِّ الْحَدَّادِ: (وَاعْلَمْ) أَسْعَدَكَ اللهُ أَنَّ يَوْمَ الْجُمُعَةِ سَيِّدُ الْاَيَّامِ، وَلَهُ شَرَفٌ عِنْدَ اللهِ الْعَظِيْمِ وَفِيْهِ خَلَقَ اللهُ اٰدَمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ وَفِيْهِ يُقِيْمُ السَّاعَةَ وَفِيْهِ يَأْذَنُ لِأَهْلِ الْجَنَّةِ فِيْ زِيَارَتِهِ وَالْمَلَائِكَةُ تُسَمِّيْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ يَوْمَ الْمَزِيْدِ لِكَثْرَةِ مَا يَفْتَحُ اللهُ فِيْهِ مِنْ أَبْوَابِ الرَّحْمَةِ وَيُفِيْضُ مِنَ الْفَضْلِ وَيَبْسُطُ مِنَ الْخَيْرِ. وَفِيْ هٰذَا الْيَوْمِ سَاعَةٌ شَرِيْفَةٌ يُسْتَجَابُ فِيْهَا الدُّعَاءُ مُطْلَقًا، وَهِيَ مُبْهَمَةٌ فِيْ جَمِيْعِ الْيَوْمِ كَمَا قَالَهُ الْإِمَامُ الْغَزَالِيُّ رَحِمَهُ اللهُ وَغَيْرُهُ فَعَلَيْكَ فِيْ هٰذَا الْيَوْمِ بِمُلَازَمَةِ الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ وَالْوَظَائِفِ الدِّيْنِيَّةِ وَلَا تَجْعَلْ لَكَ شُغْلًا بِغَيْرِهَا إِلَّا أَنْ يَكُوْنَ شُغْلًا ضَرُوْرِيًّا لَا بُدَّ مِنْهُ فَإِنَّ هٰذَا الْيَوْمَ لِلْآخِرَةِ خُصُوْصًا وَكَفٰى بِشُغْلِ بَقِيَّةِ الْأَيَّامِ بِأَمْرِ الدُّنْيَا غَبْنًا وَإِضَاعَةً. وَكَانَ يَنْبَغِيْ لِلْمُؤْمِنِ أَنْ يَجْعَلَ جَمِيْعَ أَيَّامِهِ وَلَيَالِيْهِ مُسْتَغْرِقَةً بِالْعَمَلِ لِآخِرَتِهِ فَإِذَا لَمْ يَتَيَسَّرْ ذٰلِكَ وَعَوَّقَتْهُ عَنْهُ أَشْغَالُ دُنْيَاهُ فَلَا أَقَلَّ لَهُ مِنَ التَّفَرُّغِ فِيْ هٰذَا الْيَوْمِ لِأُمُوْرِ الْآخِرَةِ.

Artinya:
Sayyid kami, al-Qutub [seorang wali qutub] al-Ghouts [seorang wali ghouts] Habib Abdulloh 'Alawiy al-Haddad telah berkata: "Ketahuilah! Semoga Alloh memberimu keberuntungan. Sesungguhnya hari Jum'at adalah pemimpinnya hari. Ia memiliki kemuliaan di sisi Alloh yang Maha Agung. Pada hari Jum'at Alloh telah menciptakan Adam as., pada hari Jum'at kiamat terjadi, pada hari Jum'at Alloh memberi izin penduduk surga untuk menziarahi-Nya. Para Malaikat menyebut hari Jum'at sebagai yaumul mazid, karena banyaknya pintu-pintu rahmat Alloh yang dibuka pada hari itu. Dan Alloh melimpahkan anugerah dan melepangkan kebaikan. Pada hari ini terdapat waktu yang mulia yang pada waktu tersebut Alloh mengabulkan do'a secara mutlak. Waktu tersebut dirahasiakan pada keseluruhan hari sebegaimana yang disampaikan oleh Imam Ghozali ra. dan yang lain. Pada hari ini hendaknya engkau melazimkan berbagai amal soleh dan kegiatan agama. Janganlah engkau memiliki kesibukan lain, kecuali kesibukan darurat yang tidak bisa ditinggalkan. Sesungguhnya hari ini hanya untuk akhirat. Cukuplah kerugian dan ketersia-siaan hari-hari lain untuk kesibukan duniawi. Sebaiknya bagi seorang mukmin menjadikan seluruh hari dan malamnya dihabiskan untuk amal akhirat. Jika tidak mampu dan kesibukan dunawi menghalanginya, minimal dia mrnghabiskan hari Jum'at ini untuk perkara-perkara akhirat."