Thursday, October 19, 2017

█ CARA MEMINTA MAAF KEPADA ORANG YANG TELAH MENINGGAL █

DESKRIPSI MASALAH:
Betapa kagetnya Parjo saat mendengar temannya Kadir meninggal dunia. Ia merasa punya banyak salah pada Kadir semasa hidupnya. Lebih-lebih dia masih punya tanggungan hutang yang lumayan banyak pada Kadir. Parjo pun bingung bagaimana caranya dia minta maaf kepada Kadir.
PERTANYAAN:
Bgaimana cara meminta maaf pada orang yang sudah meninggal dunia?

JAWAB:
Diperinci sebagai berikut:
Jika berkaitan dengan harta, maka caranya dengan mengembalikannya kepada ahli waris atau meminta kehalalan dari mereka. Jika tidak menemukan ahli waris, maka cukup menyedekahkan harta tersebut pada orang-orang faqir atas nama orang yang sudah meninggal tersebut dan janji akan mengembalikan kepada ahli waris jika sudah ketemu.
Jika tidak berkaitan dengan harta, seperti menggunjing, menghasut, mendengki, dll, maka cukup mendoakan orang yang sudah meninggal. Hal ini sesuai hadits:
إِنَّ مِنْ كَفَّارَةِ الْغِيْبَةِ أَنْ تَسْتَغْفِرَ لِمَنِ اغْتَبْتَهُ تَقُوْلُ اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلَهُ (رَوَاهُ الْحَاكِمُ)
Artinya: 
"Sesungguhnya termasuk kafarot (pelebur dosa) ghibah (menggunjing) adalah engkau memohonkan ampunan untuk orang yang telah kau gunjing dengan doa: Ya Alloh semoga engkau berkenan mengampuni dosa kami dan ia." (HR. Hakim)

Catatan:
Menurut Imam Syeh Abu Hasan as-Syadzili dianjurkan membaca surat al-Fatihah, al-Ikhlash, Mu'auwidzatain dan pahalanya ditujukan pada buku catatan amal mayit tersebut.

REFERENSI:

Kitab Salalimul Fudhola' (سَلَالِمُ الْفُضَلَاءِ), karya Syeh Nawawi Banten, halaman 25 :

إِذَا تَعَلَّقَ بِالتَّائِبِ حَقٌّ لِآدَمِيٍّ اُشْتُرِطَ تَبْرِئَتُهُ بِأَنْ يُؤَدِّيَ الْمَالَ إِنْ بَقِيَ وَيَغْرَمُ بَدَلَهُ إِنْ تَلِفَ أَوْ يَسْتَحِلُّ الْمُسْتَحِقَّ لِيُبْرِئَهُ وَيَجِبُ إِعْلَامُهُ إِلَّا إِذَا كَانَ الْحَقُّ حَدًّا فَلَهُ السَّتْرُ عَلٰى نَفْسِهِ وَلَا يَجِبُ عَلٰى مَنْ سَرَقَ مَالًا وَرَدَّهُ أَنْ يُخْبِرَ بِأَنَّهُ أَخْذَهُ سَرِقَةً فَإِنْ مَاتَ الْمُسْتَحِقُّ سَلَّمَهُ إِلَى الْوَارِثِ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ وَانْقَطَعَ خَبَرُهُ فَإِلٰى قَاضٍ ثِقَةٍ تُرْضٰى سِيْرَتُهُ وَدِيَانَتُهُ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ فَإِلٰى عَالِمٍ مُتَدَيِّنٍ فَإِنْ تَعَذَّرَا صَرَّفَهُ إِلَى الْمَصَالِحِ كَالْقَنَاطِرِ بِنِيَّةِ الْغَرْمِ لَهُ إِذَا وَجَدَهُ فَإِنْ عَجَزَ عَنْهُ أَوْ شَقَّ عَلَيْهِ لِخَوْفٍ أَوْ غَيْرِهِ تَصَدَّقَ بِهِ عَلَى الْأَحْوَجِ فَالْأَحْوَجِ وَلَهُ أَنْ يُصْرِفَ مِنْهُ عَلٰى نَفْسِهِ عِنْدَ الْحَاجَةِ هٰذَا كُلُّهُ إِنْ كَانَ مُوْسِرًا فَإِنْ كَانَ مُعْسِرًا نَوَى الْأَدَاءَ إِنْ قَدَرَ فَإِنْ مَاتَ قَبْلَهُ فَالْمَرْجُوُّ مِنْ فَضْلِ اللّٰهِ الْمَغْفِرَةُ وَتَعْوِيْضُ صَاحِبِ الْحَقِّ .......... وَرَوَى الْحَاكِمُ عَنْ أَنَسٍ عَنْ رَسُوْلِ اللّٰهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ مِنْ كَفَّارَةِ الْغِيْبَةِ أَنْ تَسْتَغْفِرَ لِمَنِ اغْتَبْتَهُ تَقُوْلُ اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلَهُ. وَهٰذَا إِذَا لَمْ تَبْلُغِ الْمَتَابَ وَإِنْ بَلَغَهُ اُشْتَرِطَ اسْتِحِلَالُهُ فَإِنْ تَعَذَّرَ لِمَوْتِهِ أَوْ تَعَسَّرَ لِغَيْبَتِهِ الْبَعِيْدَةِ اِسْتَغْفَرَ اللهَ لَهُ وَلَا اعْتِبَارَ بِتَحْلِيْلِ وَارِثِهِ كَذَا أَفَادَهُ عَلِيٌّ بْنُ أَبِي الْجَيْزِيِّ فِيْ تُحْفَةِ الْخَوَاصِّ.

Artinya:
Apabila orang yang bertaubat mempunyai keterkaitan dengan hak manusia, maka disyaratkan baginya untuk meminta pembebasan dengan cara menyerahkan harta, jika masih tersisa. Dan ia berhutang sebagai pengganti harta itu jika rusak, atau ia memohon pembebasan kepada orang berhak tersebut, agar ia membebaskannya [tidak mengganti rugi]. Dan ia wajib mengumumkannya, kecuali apabila hak itu berupa had [hukum pidana], maka ia harus menutupi dirinya [menyembunyikannya]. Dan tidak wajib bagi orang yang mencuri harta dan telah mengembalikannya untuk memberitahukan bahwa ia telah mengambil harta itu dengan mencuri. Lalu jika orang yang berhak menerimanya telah mati, maka harta curian tersebut diserahkan kepada ahli warisnya. Lalu jika tidak ada dan terputus kabar ahli warisnya, maka [harta itu diserahkan] kepada Qodhi [hakim] yang terpercaya, yang diridhoi tingkah laku dan ilmu agamanya [diakui kredibilitasnya]. Lalu jika tidak ada, maka [diserahkan] kepada orang alim yang konsisten menjalankan agama. Lalu jika darurat [sulit], maka diserahkan untuk kepentingan-kepentingan sosial, seperti membangun jembatan-jembatan dengan niat untuk melunasi hutangnya, apabila ia menemukan hal itu. Jika ia tidak mampu atau ia merasa keberatan karena takut atau lainnya, maka ia boleh menyedekahkannya kepada orang yang paling membutuhkan, lalu kepada orang yang lebih membutuhkan. Dan hal itu dilakukannya ketika kebutuhan sudah mendesak [bagi mereka] dan semua ini [dapat dibebankan] jika keadannya orang kaya. Namun jika ia orang miskin, [ia wajib] berniat menunaikan apabila ia telah mampu. Jika ia mati sebelum melakukan hal itu, maka semoga saja Alloh mengampuninya dan mengganti pemilik hak [dengan berlipat ganda] .......... Imam al-Hakim meriwayatkan dari Anas, dari Rosululloh Saw: "Sesungguhnya diantara kafarot [tebusan] ghibah [menggunjing] adalah engkau harus memohonkan ampunan untuk orang yang telah engkau gunjingi, seraya engkau berdoa : 'Ya Alloh ampunilah aku dan dirinya'." Ini apabila ghibah-nya belum sampai [kepada orang itu], dan jika ghibah-nya telah sampai kepadanya, maka disyaratkan meminta kehalalan darinya. Lalu jika ada kendala [sulit] karena telah mati atau kesulitan karena orang yang di-ghibah bertempat tinggal juah, maka ia memohon ampunan kepada Alloh untuk orang yang di-ghibah-nya, dan tidak diperhitungkan meminta kehalalan [pembebasan] dari ahli warisnya. Demikian faedah dari Syeh Ali bin Ahmad al-Jaiziy dalam kitab Tuhfatul Khowash.

Kitab al-Minahus Saniyyah (اَلْمِنَحُ السَّنِيَّةِ), karya Syeh Abdul Wahab as-Sya'roni halaman 54 :

(تَنْبِيْهٌ) اَلْأَعْرَاضُ أَشَدُّ مِنَ الْأَمْوَالِ. قَالَ الْعُلَمَاءُ لَوْ أَنَّ شَخْصًا أَخَذَ مَالَ شَخْصٍ ثُمَّ تَوَرَّعَ فَجَاءَ بِهِ بَعْدَ مَوْتِهِ إِلٰى وَرَثَتِهِ وَإِلٰى جَمِيْعِ أَهْلِ الْأَرْضِ فَجَعَلُوْهُ فِيْ حِلِّ مَا كَانَ فِيْ حِلٍّ فَعِرْضُ الْمُؤْمِنِ أَشَدُّ مِنْ مَالِهِ. وَمِنْ كَلَامِ الشَّيْخِ أَبِي الْمَوَاهِبِ الشَّاذِلِيِّ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالٰى مِمَّا يُوْقِفُ الْمُرِيْدَ عَنِ التَّرَقِّيْ وُقُوْعُهُ فِيْ غِيْبَةِ أَحَدٍ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ وَمَنْ اُبْتُلِيَ بُوُقُوْعِهِ فِيْ ذٰلِكَ فَلْيَقْرَأِ الْفَاتِحَةَ وَسُوْرَةَ الْإِخْلَاصِ وَالْمُعَوِّذَتَيْنِ وَيَجْعَلُ ثَوَابَهُنَّ فِيْ صَحَائِفِ ذٰلِكَ الشَّخْصِ فَإِنِّيْ رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ فِي الْمَنَامِ وَأَخْبَرَنِيْ بِذٰلِكَ وَقَالَ إِنَّ الْغِيْبَةَ وَالثَّوَابَ يَقِفَانِ بَيْنَ يَدَيِ اللهِ تَعَالٰى وَأَرْجُوْ أَنْ يَتَوَازَنَا فَاعْلَمْ ذٰلِكَ يَا أَخِيْ.
Artinya:
(Peringatan) [penganiayaan terhadap] harga diri adalah lebih berat daripada [penganiayaan terhadap] harta. Para ulama' berkata: "Seandainya seseorang mengambil harta orang lain, kemudian ia menahan diri [dari mempergunakan harta orang lain itu], lalu ia datang dengan membawa harta itu, setelah kematian orang yang ia ambil hartanya, kepada ahli warisnya [orang yang ia ambil hartanya] dan kepada seluruh penghuni bumi, lalu mereka [ahli waris dan seluruh penghuni bumi] menghalalkannya, maka ia tetap tidak berada dalam kehalalan [belum terhalalkan]. Namun, masalah harga diri seorang mukmin adalah lebih berat [urusannya] daripada masalah hartanya." Dan termasuk diantara perkataan Syeh Abul Mawahib imam as-Syadzili, semoga Alloh merahmati Beliau, adalah: "Termasuk diantara hal-hal yang bisa menghentikan seorang murid dari menaiki [tangga kemuliaan berthoriqoh] adalah ia jatuh di dalam ghibah [menggunjing] terhadap salah seorang dari kaum muslimin. Dan barang siapa yang tertimpa musibah dengan jatuh dalam ghibah tersebut, maka hendaklah ia membaca surat al-Fatikhah, al-Ikhlash dan mu'awwidzataian [surat al-Falaq dan an-Nas]. Dan ia jadikan pahala dari bacaannya itu berada di dalam lembaran-lembaran amalnya orang yang ia gunjingkan tersebut. Karena sesungguhnya aku telah melihat Rosululloh Saw di dalam mimpi, dan Beliau telah memberitahuku tentang hal itu. Dan Rosululloh juga besabda: 'Sesungguhnya ghibah dan pahala bacaan surat-surat itu, keduanya akan berhenti di hadapan Alloh Ta'ala, dan aku berharap keduanya akan saling seimbang.' Maka ketahuilah hal itu wahai saudaraku!"

Thursday, October 12, 2017

HUKUM MERIWAYATKAN HADIS PALSU

✦✦✦✦✦✦✦✦✦✦✦✦✦✦✦
Di dalam kitab Minhatul Mughits (مِنْحَةُ الْمُغِيْثِ) halaman 27, karya Syeh Hafidz Hasan al-Mas'udi, terdapat keterangan sebagai berikut:
✦✦✦✦✦✦✦✦✦✦✦✦✦✦✦
  اَلْحَدِيْثُ الْمَوْضُوْعُ هُوَ الْمَكْذُوْبُ عَلٰى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ قَوْلٍ أَوْ فِعْلٍ أَوْ تَقْرِيْرٍ أَوْ نَحْوِ ذٰلِكَ عَمْدًا. .......... وَحُكْمُ رِوَايَةِ الْمَوْضُوْعِ مُطْلَقًا تَحْرِيمُهَا عَلٰى مَنْ عَلِمَ أَوْ ظَنَّ أَنَّهُ مَوْضُوْعٌ إِلَّا مَعَ بَيَانِ حَالِهِ. فَإِنْ جَهِلَ أَنَّهُ مَوْضُوْعٌ فَرَوٰى فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ.

TERJEMAH: 
Hadis maudlu' (palsu) adalah kebohongan yang disandarkan atas nama Rosululloh Saw, ---baik berupa ucapan, perbuatan, ketetapan atau semacamnya--- dengan sengaja. .......... Dan hukum meriwayatkan (menceritakan) hadis maudlu' (palsu) itu adalah haram secara mutlak bagi orang yang mengetahui atau menduga bahwa hadis yang hendak diceritakan itu adalah maudlu', kecuali disertai dengan penjelasan kondisi kemaudlu'annya. Namun, jika tidak mengetahui bahwa hadis yang hendak diceritakan itu adalah maudlu', lalu meriwayatkannya, maka ia tidak berdosa.
Wallohu A'lam.

Thursday, October 5, 2017

█ KISAH: INDAHNYA BALASAN ALLOH KEPADA YAHUDI YANG MEMPERCAYAI HARI ASYURO █

✦✦✦✦✦✦✦✦✦✦✦✦✦✦✦
Di dalam kitab I'anatuth Tholibin (إِعَانَةُ الطَّالِبِينْ) Juz 2 halaman 302, karya Syeh Abu Bakar Utsman bin Muhammad Syatho ad-Dimyathi, terdapat keterangan sebagai berikut:
✦✦✦✦✦✦✦✦✦✦✦✦✦✦✦
 (فَائِدَةٌ أُخْرٰى) رُوِيَ أَنَّ فَقِيْرًا كَانَ لَهُ عِيَالٌ فِيْ يَوْمِ عَاشُوْرَاءَ، فَأَصْبَحَ هُوَ وَعِيَالُهُ صِيَامًا، وَلَمْ يَكُنْ عِنْدَهُمْ شَيْءٌ. فَخَرَجَ يَطُوْفُ عَلٰى شَيْءٍ يُفْطِرُوْنَ عَلَيْهِ فَلَمْ يَجِدْ شَيْئًا فَدَخَلَ سُوْقَ الصَّرْفِ فَرَأٰى رَجُلًا مُسْلِمًا قَدْ فَرَّشَ فِيْ دُكَّانِهِ النُّطُوْعَ الْمُثْمِنَةَ. وَسَكَبَ عَلَيْهَا أَكْوَامَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ فَتَقَدَّمَ إِلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَقَالَ لَهُ: يَا سَيِّدِيْ أَنَا فَقِيْرٌ لَعَلَّ أَنْ تُقْرِضَنِيْ دِرْهَمًا وَاحِدًا أَشْتَرِيْ بِهِ فُطُوْرًا لِعِيَالِيْ وَأَدْعُوْ لَكَ فِيْ هٰذَا الْيَوْمِ. فَوَلّٰى بِوَجْهِهِ عَنْهُ وَلَمْ يُعْطِهِ شَيْئًا، فَرَجَعَ الْفَقِيْرُ وَهُوَ مَكْسُوْرُ الْقَلْبِ، وَوَلّٰى وَدَمْعُهُ يَجْرِيْ عَلٰى خَدِّهِ. فرَآهُ جَارٌ لَهُ صَيْرَفِيٌّ وَكَانَ يَهُوْدِيًّا فَنَزَلَ خَلْفَ الْفَقِيْرِ وَقَالَ لَهُ أَرَاكَ تَكَلَّمْتَ مَعَ جَارِيْ فُلَانٌ، فَقَالَ قَصَدْتُهُ فِيْ دِرْهَمٍ وَاحِدٍ لِأَفْطَرَ بِهِ عِيَالِيْ فَرَدَّنِيْ خَائِبًا وَقُلْتُ لَهُ أَدْعُوْ لَكَ فِيْ هٰذَا الْيَوْمِ فَقَالَ الْيَهُوْدِيُّ: وَمَا هٰذَا لْيَوْمُ؟ فَقَالَ الْفَقِيْرُ: هٰذَا يَوْمُ عَاشُوْرَاءَ، وَذَكَرَ لَهُ بَعْضَ فَضَائِلِهِ، فَنَاوَلَهُ الْيَهُوْدِيُّ عَشْرَةَ دَرَاهِمَ وَقَالَ لَهُ: خُذْ هٰذِهِ وَأَنْفِقْهَا عَلٰى عِيَالِكَ إِكْرَمًا لِهٰذَا الْيَوْمِ. فَمَضٰى الْفَقِيْرُ وَقَدِ انْشَرَحَ لِذٰلِكَ وَوَسَعَ عَلٰى أَهْلِهُ النَّفَقَةَ. فَلَمَّا كَانَ اللَّيْلُ رَأٰى الصَّيْرَفِيُّ الْمُسْلِمُ فِي الْمَنَامِ كَأَنَّ الْقِيَامَةَ قَدْ قَامَتْ وَقَدِ اشْتَدَّ الْعَطْشُ وَالْكَرْبُ فَنَظَرَ، فَإِذًا قَصْرٌ مِنْ لُؤْلُؤَةٍ بَيْضَاءَ، أَبْوَابُهُ مِنَ الْيَاقُوتِ الْأَحْمَرِ، فَرَفَعَ رَأْسَهُ وَقَالَ: يَا أَهْلَ هٰذَا الْقَصْرِ اَسْقُوْنِيْ شُرْبَةَ مَاءٍ. فَنُوْدِيَ: هٰذَا الْقَصْرُ كَانَ قَصْرَكَ بِالْأَمْسِ، فَلَمَّا رَدَدْتَ ذٰلِكَ الْفَقِيْرَ مَكْسُوْرَ الْقَلْبِ، مُحِيَ اِسْمُكَ مِنْ عَلَيْهِ وَكُتِبَ بِاسْمِ جَارِكَ الْيَهُوْدِيِّ جَبَّرَهُ وَأَعْطَاهُ عَشْرَةَ دَرَاهِمَ. فَأَصْبَحَ الصَّيْرَفِيُّ مَعْذُوْرًا فَنَادٰى عَلٰى نَفْسِهِ بِالْوَيْلِ وَالثُّبُوْرِ. فَجَاءَ إِلٰى جَارِهِ الْيَهُوْدِيِّ وَقَالَ: أَنْتَ جَارِيْ، وَلِيْ عَلَيْكَ حَقٌّ وَلِيْ إِلَيْكَ حَاجَةٌ. قَالَ: وَمَا هِيَ؟ قَالَ: تَبِيْعَنِيْ ثَوَابَ الْعَشْرَةِ دَرَاهِمَ الَّتِيْ دَفَعْتَهَا بِالْأَمْسِ لِلْفَقِيْرِ بِمِائَةِ دِرْهَمٍ. فَقَالَ وَاللهِ وَلَا بِمِائَةِ أَلْفِ دِيْنَارٍ، وَلَوْ طَلَبْتَ أَنْتَدْخُلَ مِنْ بَابِ الْقَصْرِ الَّذِيْ رَأَيْتَهُ الْبَارِحَةَ لَمَا مَكَّنْتُكَ مِنَ الدُّخُوْلِ فِيْهِ. فَقَالَ: وَمَنْ كَشَفَ لَكَ عَنْ هٰذَا السِّرِّ الْمَصُوْنِ؟ قَالَ: اَلَّذِيْ يَقُوْلُ لِلشَّيْءِ كُنْ فَيَكُوْنُ، وَأَنَا أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. (إِخْوَانِيْ) كَانَ هٰذَا يَهُوْدِيًا، فَأَحِسِنِ الظَّنَّ بِيَوْمِ عَاشُوْرَاءَ وَمَا كَانَ يَعْرِفُ فَضْلَهُ. فَأَعْطَاهُ اللهُ مَا أَعْطَاهُ وَمَنَّ عَلَيْهِ بِالْإِسْلَامِ. فَكَيْفَ بِمَنْ يَعْرِفُ فَضْلَهُ وَثَوَابَهُ وَيُهْمِلُ الْعَمَلَ فِيْهِ؟ وَلِلّٰهِ دَرُّ الْقَائِلِ:
 يَا غَادِيًا فِيْ غَفْلَةٍ وَرَائِحًا * إِلٰى مَتٰى تَسْتَحْسِنُ الْقَبَائِحَا؟ 
 وَكَمْ أَخِيْ كَمْ لَا تَخَافُ مَوْقِفَا * يَسْتَنْطِقُ اللهُ بِهِ الْجَوَارِحَا؟
 وَاعَجَبَا مِنْكَ وَأَنْتَ مُبْصِرُ * كَيْفَ تَجَنَّبْتَ الطَّرِيْقَ الْوَاضِحَا؟  
كَيْفَ تَكُوْنُ حِيْنَ تَقْرَأُ فِيْ غَدٍ * صَحِيْفَةً قَدْ حَوَتِ الْفَضَائِحَا؟  
وَكَيْفَ تَرْضٰى أَنْ تَكُوْنَ خَاسِرًا * يَوْمَ يَفُوْزُ مَنْ يَكُوْنُ رَابِحًا؟  
فَاعْمَلْ لِمْيْزَانِكَ خَيْرًا فَعَسٰى * يَكُوْنُ فِيْ يَوْمِ الْحِسَابِ رَاجِحًا!  
وَصُمْ فَهٰذَا يَوْمُ عَاشُوْرَاءَ الَّذِيْ * مَا زَالَ بِالتَّقْوٰى شَذَاهُ فَائِحًا! 
 يَوْمٌ شَرِيْفٌ خَصَّنَا اللهُ بِهِ * يَا فَوْزَ مَنْ قَدَّمَ فِيْهِ صَالِحًا!!

TERJEMAH: 
(Faedah lain) Diriwayatkan bahwa ada seorang faqir yang memiliki keluarga di hari 'Asyuro (tanggal 10 Muharrom). Di pagi harinya si faqir dan keluarganya itu berpuasa, dan mereka tidak memiliki sedikitpun makanan untuk berbuka puasa. Lalu si faqir itu keluar untuk mencari makanan yang bisa digunakan untuk berbuka puasa di sekitar tempat tinggalnya. Namun tetap saja ia tidak menemukannya. Kemudian ia memasuki pasar penukaran mata uang dan melihat seorang lelaki muslim yang tengah menghamparkan tikar mewah lagi berharga mahal di tokonya, dan lelaki itu menuangkan tumpukan emas dan perak di atas tikarnya. 

Lalu si faqir mendekati sang lelaki itu dan mengucapkan salam kepadanya sambil mengatakan: “Wahai tuanku. aku adalah seorang faqir. Aku harap engkau mau memberiku hutang satu dirham agar aku bisa membelikan makanan untuk berbuka puasa keluargaku. Dan aku akan berdo'a untuk engkau di hari ini”. Sang lelaki itu memalingkan wajahnya dan ia tidak memberinya apapun. 

Maka pulanglah si faqir itu dengan hati yang merana dan air matanya mengalir di atas pipinya. Lalu di tengah jalan, ia terlihat oleh seorang Yahudi tetangga sang lelaki muslim tersebut yang berprofesi sebagai tukang penukar mata uang. Lalu si Yahudi itu membuntutinya dan berkata kepadanya: "Ceritakanlah kepadaku! Apa yang telah engkau bicarakan bersama si fulan tetanggaku itu?" 

Si faqir menjawab: “Aku bermaksud hutang satu dirham kepadanya untuk bekal berbuka puasa keluargaku, namun ia menolakku. Aku sangat kecewa. Aku juga mengatakan kepadanya bahwa aku akan berdo'a untuknya pada hari ini.” 

Lalu si Yahudi bertanya: “Sebenarnya ada apa dengan hari ini?” 

Si faqir menjawab: “Ini adalah hari 'Asyuro." Dan ia juga menuturkan sebagian keutamaan hari 'Asyuro kepada si Yahudi. 

Setelah mendengar penjelasan si faqir, Yahudi itu memberikan 10 dirham kepada si faqir seraya berkata: “Ambillah 10 dirham ini dan belanjakanlah untuk keluargamu untuk memuliakan hari Asyura’ ini!”. Lalu si faqir merasa senang berkat bantuan orang Yahudi itu dan ia pun dapat memberikan kelapangan nafkah kepada keluarganya. 

Di malam harinya, sang lelaki muslim (yang berprofesi sebagi tukang penukar mata uang juga) yang membuat kecewa si faqir bermimpi seakan hari kiamat telah tiba. Suasananya sangat mencekam, saat di mana semua orang mengalami dahaga dan kesusahan yang luar biasa. Dalam mimpi tersebut tiba-tiba ia melihat istana megah dengan bangunan yang berbahan dasar intan putih dan pintunya terbuat dari yaqut merah. Lalu ia mengangkat kepalanya dan mengatakan: “Wahai penghuni istana ini, berilah satu teguk minuman kepadaku!”. Lalu diserukan kepadanya: “Istana ini tadinya dipersiapkan untukmu. Namun ketika kamu menolak seorang faqir hingga hatinya merana, maka namamu yang berada di atas istana itu diganti dengan nama tetanggamu yang beragama Yahudi. Ia telah membantu si faqir itu dan memeberinya 10 dirham”. 

Keesokan harinya sang lelaki muslim tersebut merasa ketakutan dan ia berseru kepada dirinya sendiri dengan kecelakaan dan kebinasaan. Lalu ia menghampiri tetangganya yang beragama Yahudi dan berkata: “Engkau adalah tetanggaku, aku punya hak atasmu dan aku punya hajat kepadamu.

" Si Yahudi bertanya: “Dan apakah hak dan hajatmu itu?" 

Sang lelaki muslim menjawab: “Juallah pahala sedekah 10 dirham yang telah engkau berikan kepada si fakir kemarin dengan harga 100 dirham!" 

Si Yahudi berkata: “Demi Allah, meski engkau bayar dengan 100.000 dirham pun tidak akan aku jual. Andai engkau menuntutku untuk memasuki pintu istana yang engkau lihat di mimpimu semalam, sungguh aku tidak akan mempersilahkanmu memasukinya” 

Sang lelaki muslim bertanya: “Siapakah yang telah menyingkapkan rahasia mimpiku yang terjaga ini kepadamu?” 

Si Yahudi menjawab: “Dialah Dzat yang memberitahuku, dzat yang apabila menghendaki sesuatu, maka Dia berfirman: 'Jadilah!', maka seketika wujud. Dan aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Alloh yang Maha Esa lagi tiada sekutu bagi-Nya dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya”. 

Di hadapan lelaki muslim tersebut, si Yahudi menyatakan keIslamannya. 

Setelah memaparkan kisah di atas, Syeh Abu Bakar bin Syatho berpesan: 
 “(Wahai Saudaraku) Orang ini adalah seorang Yahudi, ia berperasangka baik terhadap hari 'Asyuro, padahal ia tidak mengetahui keutamaanya. Allah memberinya kenikmatan, memberinya anugerah besar dengan memeluk agama Islam. Lalu bagaimanakah nasib seorang muslim yang mengetahui keutamaan dan pahalanya ‘Asyuro, namun ia mengabaikan amal kebaikan di dalamnya?”. Dan alangkah indahnya ucapan seorang penyair beriku ini:

Wahai orang yang berada di dalam kelalaian diwaktu pagi dan sore hari * sampai kapankah engkau anggap baik suatu keburukan?
Dan sudah berapa banyakkah wahai saudaraku, banyaknya orang yang tidak takut terhadap tempat perhentian * yang Alloh mengajak bicara kepada seluruh anggota tubuhnya?
Alangkah anehnya engkau, sementara engkau bisa melihat * namun bagaimana bisa engkau menjahui jalan terang?
Bagaimanakah keadaanmu di hari esok nanti disaat engkau membaca  * lembaran catatan amal yang berisi pembokaran terhadap keburukanmu?
Dan bagaimana mungkin engkau merelakan dirimu sebagai orang merugi * di hari orang yang beruntung memperoleh keuntungan?
Lakukanlah kebaikan untuk neraca amalmu, semoga saja * di hari perhitungan amal nanti kabaikanmu itulah yang unggul!  
Dan berpuasalah, karena ini adalah hari 'Asyuro yang * semerbak bau harumannya adalah senantiasa dengan taqwa!
Yaitu hari mulya yang Alloh khususkan kepada kita * Aduhai betapa beruntungnya orang yang menghaturkan amal sholih di dalamnya!!

█ HUKUM MEMPUNYAI GURU THORIQOH █

✦✦✦✦✦✦✦✦✦✦✦✦✦✦✦
Di dalam kitab Tanwirul Qulub (تَنْوِيْرُ الْقُلُوْبِ) halaman 433-434, karya Syeh Muhammad Amin al-Kurdi, terdapat keterangan sebagai berikut:
✦✦✦✦✦✦✦✦✦✦✦✦✦✦✦

فَقَدْ أَجْمَعَ أَهْلُ الطَّرِيْقِ عَلٰى وُجُوْبِ اتِّخَاذِ الْإِنْسَانِ شَيْخًا لَهُ يُرْشِدُهُ إِلٰى زَوَالِ تِلْكَ الصِّفَاتِ الَّتِيْ تَمْنَعُهُ مِنْ دُخُوْلِ حَضْرَةِ اللهِ بِقَلْبِهِ لِيَصِحَّ حُضُوْرُهُ وَخُشُوْعُهُ فِيْ سَائِرِ الْعِبَادَاتِ مِنْ بَابِ مَا لَا يَتِمُّ الْوَاجِبُ إِلَّا بِهِ فَهُوَ وَاجِبٌ وَلَا شَكَّ أَنَّ عِلَاجَ أَمْرَاضِ الْبَاطِنِ وَاجِبٌ فَيَجِبُ عَلٰى مَنْ غَلَبَتْ عَلَيْهِ الْأَمْرَاضُ أَنْ يَطْلُبَ شَيْخًا يُخْرِجُهُ مِنْ كُلِّ وَرَطَةٍ وَإِنْ لَمْ يَجِدْ فِيْ بَلَدِهِ أَوْ إِقْلِيْمِهِ وَجَبَ عَلَيْهِ السَّفَرُ إِلَيْهِ. اهـ

TERJEMAH:
Para ulama ahli thoriqoh telah bersepakat mengenai wajibnya mengambil seseorang sebagai Syeh (guru thoriqoh/guru mursyid) yang dapat membimbingnya untuk menghilangkan sifat-sifat tercela yang dapat menghalanginya untuk masuk ke hadirat Alloh dengan hatinya, agar benar kehadirannya (konsentrasinya) dan kekhusuannya dalam semua ritual ibadah. Kewajiban ini termasuk dari babnya qo'idah fiqih yang berbunyi:
مَا لَا يَتِمُّ الْوَاجِبُ إِلَّا بِهِ فَهُوَ وَاجِبٌ
Artinya:
“Sesuatu yang (menyebabkan) sebuah kewajiban tak mungkin bisa dilakukan dengan sempurna kecuali dengannya, maka sesuatu itu hukumnya adalah wajib." 
Dan tak diragukan lagi bahwa mengobati penyakit-penyakit hati/batin itu hukumnya wajib. Maka bagi orang yang menderita berbagai penyakit batin, ia wajib mencari seorang Syeh yang dapat mengeluarkannya dari setiap kerusakan. Jika ia tidak mendapati Syeh tersebut di daerah tempat tinggalnya, maka ia wajib pergi untuk mencarinya ke daerah lain. Selesai.

Wallohu A'lam

Monday, October 2, 2017

█ SYARAT AIR BISA MENJADI MUSTA'MAL █

DESKRIPSI MASALAH:

Dalam membedakan antara air musta'mal dan yang tidak, bagi masyarakat awam masih banyak yang belum bisa membedakannya. Bahkan kadang-kadang orang yang sudah biasa mempelajari juga masih belum bisa membedakan ciri-cirinya.

PERTANYAAN:

Bagaimanakah kriteria air dapat digolongkan sebagai air musta'mal?

JAWAB:

Syarat-syarat air bisa menjadi musta'mal antara lain:

Air yang dipergunakan sedikit.

Air telah digunakan dalam perkara yang wajib.

Air telah berpisah dari perkara yang dibasuh.

Tidak adanya niat ightirof (menciduk air) ketika mengambil air dari tempatnya apabila air itu sedikit.


RUJUKAN:

Kitab I'anatut Tholibin (إِعَانَةُ الطَّالِبِيْنَ) juz 1 halaman 28:

وَاعْلَمْ أَنَّ شُرُوْطَ الْإِسْتِعْمَالِ أَرْبَعَةٌ تُعْلَمُ مِنْ كَلَامِهِ قِلَّةُ الْمَاءِ وَاسْتِعْمَالُهُ فِيْمَا لَا بُدَّ مِنْهُ وَأَنْ يَنْفَصِلَ عَنِ الْعُضْوِ وَعَدَمُ نِيَّةِ الْإِغْتِرَافِ فِيْ مَحَلِّهَا وَهُوَ فِي الْغُسْلِ بَعْدَ نِيَّتِهِ وَعِنْدَ مُمَاسَةِ الْمَاءِ لِشَيْءٍ مِنْ بَدَنِهِ فَلَوْ نَوَى الْغُسْلَ مِنَ الْجَنَابَةِ ثُمَّ وَضَعَ كَفَّهُ فِيْ مَاءٍ قَلِيْلٍ وَلَمْ يَنْوِ الْإِغْتِرَافَ صَارَ مُسْتَعْمَلًا وَفِي الْوُضُوْءِ بَعْدَ غَسْلِ الْوَجْهِ وَعِنْدَ إِرَادَةِ غَسْلِ الْيَدَيْنِ فَلَوْ لَمْ يَنْوِ الْإِغْتِرَافَ حِيْنَئِذٍ صَارَ الْمَاءُ مُسْتَعْمَلًا. اهـ
Artinya:
Ketahuilah bahwa syarat-syarat air bisa dikatakan musta'mal itu ada empat syarat yang diketahui dari perkataan mushonnif (Syeh Zainuddin al-Malibari). Di antaranya adalah air itu sedikit, air telah dipergunakan untuk membasuh anggota yang wajib,air yang digunakan telah berpisah dari anggota yang wajib dibasuh, dan tidak ada niat meciduk air (ightirof) dari tempatnya. Air musta'mal di dalam mandi adalah setelah niat dan ketika air mengenai sesuatu dari anggota badan. Apabila seseorang telah berniat mandi jinabat (mandi besar) kemudian ia meletakkan tangannya ke dalam air yang sedikit tanpa disertai niat menciduk air, maka air itu menjadi musta'mal. Sedangkan air musta'mal ketika dalam wudhu ialah setelah membasuh wajah dan ketika menghendaki membasuh kedua tangannya, kemudian ia mengambil air tanpa disertai niat menciduk air, maka air itu menjadi musta'mal.