Monday, March 23, 2026

Matriks — Kenalan Dulu, Yuk!

Haii semuanya! ๐Ÿ‘‹ Kalau kamu baru masuk SMA atau lagi belajar matematika tingkat lanjut, pasti udah mulai denger kata "matriks" dong? Tenang, jangan langsung panik! Di artikel ini kita bakal bahas matriks dari awal, dengan bahasa yang simpel dan nggak bikin pusing. Siap? Yuk mulai! ๐Ÿ˜„


๐Ÿ“Œ Apa Sih Matriks Itu?

Jadi gini, matriks itu sebenernya konsep baru yang belum pernah kamu pelajarin sebelumnya — baik di SD maupun SMP. Jadi wajar banget kalau terasa asing. Tapi justru itu seru-nya!

Di bab ini, kita bakal kenalan sama banyak hal seputar matriks, di antaranya:

  • ✅ Pengertian, notasi, dan ordo suatu matriks
  • ✅ Kesamaan dua matriks
  • ✅ Penjumlahan dan pengurangan matriks
  • ✅ Perkalian bilangan real (skalar) dengan matriks
  • ✅ Perkalian matriks
  • ✅ Invers matriks
  • ✅ Pemakaian matriks untuk menyelesaikan sistem persamaan linear dua variabel (SPLDV)

Wah, lumayan banyak ya? Tapi santai aja, kita bahas pelan-pelan kok. ๐Ÿ˜Š

๐Ÿ’ก Target belajar: Setelah mempelajari bab ini, kamu diharapkan bisa menggunakan aturan dan rumus matriks, serta mampu menyelesaikan masalah yang bisa disederhanakan menggunakan matriks.

๐Ÿ“ Pengertian, Notasi, dan Ordo Matriks

Apa Itu Matriks?

Coba deh bayangin kamu lagi lihat jadwal pertandingan bulu tangkis. Data skornya biasanya disajikan dalam bentuk tabel, kan? Nah, contoh sederhananya kayak gini:

Set I Set II
Susi 11 12
Huang-Hua 9 10

Set I dan Set II adalah judul baris. Sedangkan Susi dan Huang-Hua adalah judul kolom.

Nah, kalau dari tabel di atas kita ambil angkanya aja (tanpa judul baris dan kolom), kita bakal dapet kelompok bilangan kayak gini:

11    12
9    10

Inilah yang disebut matriks! Simpelnya, matriks adalah susunan bilangan yang diatur dalam baris dan kolom. Gampang, kan? ๐Ÿ˜„


๐Ÿ“Š Contoh Lain: Data Absensi Siswa

Supaya makin paham, yuk kita lihat contoh lain! Coba bayangin kamu punya data absensi siswa selama satu semester (satu periode penilaian). Datanya kira-kira kayak tabel ini:


Sakit Ijin Tanpa Keterangan
Boy 4 1 5
Carli 2 1 0
Dadang 1 1 3
Eman 2 3 1

Sakit, Ijin danTanpa Keterangan adalah judul baris. Sedangkan Boy, Carli, Dadang, dan Eman adalah judul kolom.

Nah, sama seperti contoh bulu tangkis sebelumnya — kalau kita ambil angkanya aja tanpa judul baris dan kolom, kita bakal dapet susunan bilangan seperti ini:

4    1    5
2    1    0
1    1    3
2    3    1

Kalau kita bandingkan dua kelompok bilangan yang udah kita bahas — dari data bulu tangkis dan data absensi ini — ternyata keduanya punya kesamaan pola, lho! ๐Ÿค”


๐Ÿ” Pola yang Bisa Kita Temukan

Dari kedua contoh di atas, ada dua hal menarik yang bisa kita perhatikan:

  1. ✅ Kelompok bilangan itu disusun dalam bentuk persegi atau persegi panjang
  2. ✅ Kelompok bilangan itu disusun dalam baris (horizontal) dan kolom/lajur (vertikal)

Nah, kelompok bilangan yang disusun secara teratur seperti itulah yang disebut matriks! ๐ŸŽฏ

๐Ÿ“– Definisi: Matriks adalah susunan sekelompok bilangan dalam bentuk persegi atau persegi panjang yang diatur menurut baris dan kolom.

✍️ Cara Menulis Matriks

Supaya kelihatan jelas batas-batasnya, susunan bilangan dalam matriks itu diapit oleh tanda kurung — boleh kurung biasa ( ) maupun kurung siku [ ]. Selain itu, matriks biasanya diberi nama dengan huruf kapital, misalnya A, B, C, dan seterusnya.

Dari dua contoh data di atas, kalau ditulis dalam bentuk matriks jadinya kayak gini:


➡️ Dengan kurung biasa ( ) :

A = (
1112
910
)
dan B = (
415
210
113
231
)

➡️ Dengan Kurung Siku [ ] :

Selain kurung biasa, matriks juga bisa ditulis pakai kurung siku. Hasilnya tetap sama, cuma tampilannya beda dikit:

A = [
1112
910
]
dan B = [
415
210
113
231
]
Gampang banget kan cara bacanya? Matriks A itu punya 2 baris dan 2 kolom, sementara matriks B punya 4 baris dan 3 kolom. Ukuran inilah yang nanti kita sebut ordo matriks — yang bakal kita bahas lebih lanjut! ๐Ÿ˜‰

๐Ÿ“ Catatan: Dalam pembahasan selanjutnya, kita sepakat pakai kurung biasa ( ) ya untuk menulis matriks. Jadi lebih seragam dan enak dibacanya! ๐Ÿ˜Š

๐Ÿ’ก Contoh 1: Mana yang Matriks, Mana yang Bukan?

Nah, sekarang kita tes pemahaman kita yuk! Dari kelompok-kelompok bilangan berikut, mana yang termasuk matriks dan mana yang bukan? Cek satu per satu! ๐Ÿ‘‡


a) Kelompok bilangan:

2    4
3    1

Ini MATRIKS! Susunannya berbentuk persegi (2 baris, 2 kolom). Rapi dan teratur! ๐Ÿ˜„


b) Kelompok bilangan:

2    4    1
3    2    5

Ini MATRIKS! Susunannya berbentuk persegi panjang (2 baris, 3 kolom). Tetap teratur! ๐Ÿ‘


c) Kelompok bilangan:

     2     
1         4

Ini BUKAN matriks! Susunannya berbentuk segitiga — baris pertama cuma punya 1 elemen, baris kedua punya 2 elemen. Nggak rata, jadi nggak memenuhi syarat! ๐Ÿ˜…


d) Kelompok bilangan:

3        6
                         2
4        1

Ini BUKAN matriks! Susunannya berbentuk segilima — jumlah elemen tiap baris tidak sama. Matriks harus persegi atau persegi panjang! ✋


๐Ÿ’ก Ingat ya: Syarat utama sebuah susunan bilangan disebut matriks adalah bentuknya harus persegi atau persegi panjang — artinya setiap baris punya jumlah elemen yang sama!

๐Ÿ“ Baris, Kolom, dan Elemen Matriks

Oke, sekarang kita kenalan lebih dalam sama bagian-bagian dari sebuah matriks. Setelah tahu bentuknya, kita juga perlu tahu nama-nama komponennya supaya nggak bingung waktu baca soal! ๐Ÿ˜Š

Bilangan-bilangan yang ada di dalam sebuah matriks disebut unsur-unsur atau elemen-elemen matriks. Nah, sekarang pertanyaannya: bagian mana yang disebut baris dan bagian mana yang disebut kolom?

Coba kita perhatiin matriks A ini:


             ( 11 12 ← baris pertama )
9 10 ← baris kedua


kolom
pertama

kolom
kedua

Jadi simpelnya begini:

  • ๐Ÿ”ต Baris = susunan bilangan yang mendatar (horizontal)
    → Baris 1: 11 dan 12  |  Baris 2: 9 dan 10

  • ๐ŸŸ  Kolom = susunan bilangan yang tegak (vertikal)
    → Kolom 1: 11 dan 9  |  Kolom 2: 12 dan 10

  • Elemen/Unsur = setiap bilangan yang ada di dalam matriks
    → Contoh: 11, 12, 9, dan 10 masing-masing adalah elemen dari matriks A


๐Ÿ”Ž Lebih Detail: Posisi Elemen dalam Matriks

Sekarang kita zoom in lebih jauh ke matriks A tadi. Setiap elemen punya posisi yang spesifik berdasarkan baris dan kolomnya. Perhatiin ilustrasi berikut:

( 11 12 )
9 10

  • ๐ŸŸก 11 → elemen pada baris pertama, kolom pertama
  • ๐Ÿ”ด 12 → elemen pada baris pertama, kolom kedua
  • ๐ŸŸข 9  → elemen pada baris kedua, kolom pertama
  • ๐Ÿ”ต 10 → elemen pada baris kedua, kolom kedua

  1. ๐Ÿ“ Baris sebuah matriks adalah susunan bilangan yang mendatar (horisontal) dalam matriks itu.
  2. ๐Ÿ“ Kolom sebuah matriks adalah susunan bilangan yang tegak (vertikal) dalam matriks itu.
  3. ๐Ÿ”ข Elemen sebuah matriks adalah bilangan (real maupun kompleks) yang menyusun matriks itu.

๐Ÿ’ก Contoh 2: Latihan Menentukan Baris, Kolom, dan Elemen

Oke, sekarang waktunya latihan! Misalkan kita punya matriks B seperti ini:

(
1 5 3
3 −1 2
2 3 −5
−4 4 6
)

Pertanyaannya:

  1. Tentukan baris pertama, kedua, ketiga, dan keempat beserta elemen-elemennya!
  2. Tentukan kolom pertama, kedua, dan ketiga beserta elemen-elemennya!
  3. Tentukan elemen pada baris kedua kolom ketiga, dan baris keempat kolom pertama!

✏️ Jawab:

a) Baris-baris dari matriks B:

Nama Baris Elemen-elemennya
Baris pertama 1, 5, dan 3
Baris kedua 3, −1, dan 2
Baris ketiga 2, 3, dan −5
Baris keempat −4, 4, dan 6

Gampang kan? Tinggal baca mendatar dari kiri ke kanan! ๐Ÿ˜„


b) Kolom-kolom dari matriks B:

Kalau tadi kita baca mendatar untuk dapat barisnya, sekarang kita baca tegak ke bawah untuk dapat kolomnya. Cek tabel berikut:

Nama Kolom Elemen-elemennya
Kolom pertama 1, 3, 2, dan −4
Kolom kedua 5, −1, 3, dan 4
Kolom ketiga 3, 2, −5, dan 6

Ingat ya: kolom dibaca dari atas ke bawah! ๐Ÿ‘†


c) Elemen pada posisi tertentu:

  • ๐ŸŽฏ Elemen pada baris kedua kolom ketiga = 2
  • ๐ŸŽฏ Elemen pada baris keempat kolom pertama = −4

Cara bacanya: baris dulu, baru kolom. Jadi "baris kedua kolom ketiga" artinya kita lihat di baris ke-2, terus geser ke kolom ke-3 → ketemu angka 2. Gampang kan? ๐Ÿ˜„


๐Ÿ’ก Contoh 3: Matriks dari Sistem Persamaan Linear

Nah, ini dia salah satu kegunaan matriks yang super keren — bisa dipakai buat sistem persamaan linear! ๐Ÿ”ฅ

Ingat kan pelajaran tentang persamaan linear? Yang bentuknya ax + by = c, di mana a dan b disebut koefisien? Nah, matriks bisa dipakai untuk merangkum koefisien-koefisien itu dengan rapi!

Misalnya kita punya sistem persamaan linear berikut:

4x − 2y=1
2x + 5y=3
−3x + y=−6

Pertanyaannya:

  1. Tuliskan koefisien x dan koefisien y untuk setiap persamaan!
  2. Tentukan matriks koefisiennya!
  3. Berapa banyak baris dan kolom pada matriks tersebut?
  4. Sebutkan elemen-elemen pada baris ketiga!
  5. Sebutkan elemen-elemen pada kolom kedua!
  6. Sebutkan elemen pada baris kedua kolom kedua!

✏️ Jawab:

a) Koefisien x dan koefisien y dari setiap persamaan:

Persamaan Koefisien x Koefisien y
4x − 2y = 1 4 −2
2x + 5y = 3 2 5
−3x + y = −6 −3 1

Perlu diingat ya: untuk persamaan −3x + y = −6, koefisien y-nya adalah 1 (bukan nol, bukan kosong — karena y = 1·y). Jangan sampai kelewat! ๐Ÿ˜‰


b) Matriks Koefisien dari Sistem Persamaan Linear:

Nah, cara dapetin matriks koefisiennya gampang banget! Kita tinggal hilangkan judul baris dan judul kolom dari tabel koefisien yang udah kita buat tadi. Yang tersisa cuma angka-angkanya aja, dan itulah matriks koefisiennya! ๐Ÿ˜„

Kalau matriks koefisiennya kita kasih nama P, jadinya:

P = (
4 −2
2 5
−3 1
)

Sekarang kita jawab pertanyaan (c) sampai (f) berdasarkan matriks P di atas:

Soal Jawaban
(c) Banyak baris dan kolom? Matriks P punya 3 baris dan 2 kolom
(d) Elemen baris ketiga? −3 dan 1
(e) Elemen kolom kedua? −2, 5, dan 1
(f) Elemen baris kedua kolom kedua? 5

๐Ÿ’ก Trik baca posisi elemen: Selalu baca baris dulu, baru kolom. Jadi "baris kedua kolom kedua" → pergi ke baris 2, geser ke kolom 2 → ketemu angka 5. Mudah kan? ๐Ÿ˜„

๐Ÿ’ก Contoh 4: Matriks dari Data Hewan Piaraan

Yuk kita coba contoh yang lebih seru — data nyata dari kehidupan sehari-hari! ๐Ÿ”๐Ÿ„๐Ÿ

Misalkan ada tabel yang menunjukkan jumlah hewan piaraan yang dimiliki penduduk di sebuah desa:


๐Ÿ” Ayam ๐Ÿฆ† Itik ๐Ÿ„ Kerbau ๐Ÿ Kambing
Badrun 4315
Ahmad 2153
Parjuli 10022
Parjio 81211
Sastro 502020

Pertanyaannya:

  1. Tuliskan matriks yang diperoleh dari tabel tersebut!
  2. Berapa banyak baris dan kolomnya?
  3. Sebutkan elemen-elemen pada baris keempat!
  4. Sebutkan elemen-elemen pada kolom ketiga!
  5. Sebutkan elemen pada baris kelima kolom keempat!

✏️ Jawab:

a) Matriks dari tabel (kita kasih nama Q):

Q = (
43 15
21 53
100 22
812 11
5020 20
)

Soal Jawaban
(b) Banyak baris dan kolom? Matriks Q punya 5 baris dan 4 kolom
(c) Elemen baris keempat? 8, 12, 1, dan 1 → (punya hewan: 8 ayam, 12 itik, 1 kerbau, 1 kambing — itu data milik Parjio!)
(d) Elemen kolom ketiga? 1, 5, 2, 1, dan 2 → (ini semua data kolom Kerbau!)
(e) Elemen baris kelima kolom keempat? 0 → (Sastro tidak punya kambing sama sekali! ๐Ÿ˜…)

Seru kan? Ternyata matriks bisa dipakai buat nyimpen data apapun — dari skor badminton, absensi siswa, koefisien persamaan, sampai jumlah hewan ternak! ๐Ÿ”๐Ÿ“Š


Di bagian selanjutnya kita bakal masuk ke topik ordo matriks — yaitu cara resmi menyebut ukuran sebuah matriks. Nggak boleh kelewat! ๐Ÿš€

Semangat terus ya belajarnya! Kalau ada pertanyaan, drop di kolom komentar. ๐Ÿ’™

FADHILAH ADZAN

Terjemah kitab Tanqihul Qoul (ุชَู†ْู‚ِูŠْุญُ ุงู„ْู‚َูˆْู„ِ) karya Syeh Nawawi Banten


(ุงู„ْุจَุงุจُ ุงู„ุซَّุงู…ِู†ُ: ูِูŠْ ูَุถِูŠْู„َุฉِ ุงู„ْุฃَุฐَุงู†ِ)

Bab Kedelapan: Keutamaan Adzan

 

ูˆَู‚ِูŠْู„َ ูِูŠْ ุชَูْุณِูŠْุฑِ ู‚َูˆْู„ِู‡ِ ุนَุฒَّ ูˆَุฌَู„َّ: {ูˆَู…َู†ْ ุฃَุญْุณَู†ُ ู‚َูˆْู„ًุง ู…ِู…َّู†ْ ุฏَุนَุง ุฅِู„َู‰ ูฑู„ู„ّٰู‡ِ ูˆَุนَู…ِู„َ ุตَุงู„ِุญًุง}، ู†َุฒَู„َุชْ ู‡ٰุฐِู‡ِ ุงู„ْุขูŠَุฉُ ูِูŠ ุงู„ْู…ُุคَุฐِّู†ِูŠْู†َ.

Dikatakan dalam tafsir firman Alloh 'azza wajalla: "Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Alloh dan mengerjakan amal sholeh?" (QS. Fussilat: 33). Bahwa ayat ini turun berkenaan dengan para muadzin (orang yang mengumandangkan adzan).

 

(ู‚َุงู„َ ๏ทบ: ู…َู†ْ ุฃَุฐَّู†َ ู„ِู„ุตَّู„َุงุฉِ ุณَุจْุนَ ุณِู†ِูŠْู†َ ู…ُุญْุชَุณِุจًุง) ุฃَูŠْ ู…ِู†ْ ุบَูŠْุฑِ ุฃُุฌْุฑَุฉٍ (ูƒَุชَุจَ ุงู„ู„ّٰู‡ُ ู„َู‡ُ ุจَุฑَุงุกَุฉً ู…ِู†َ ุงู„ู†َّุงุฑِ) ุฑَูˆَุงู‡ُ ุงู„ุชِّุฑْู…ِุฐِูŠُّ ูˆَุงุจْู†ُ ู…َุงุฌَู‡ْ ุนَู†ِ ุงุจْู†ِ ุนَุจَّุงุณٍ.

Nabi ๏ทบ bersabda: "Barangsiapa yang mengumandangkan adzan untuk sholat selama tujuh tahun secara muhtasiban" —yakni semata-mata mengharap pahala tanpa mengambil upah— "maka Alloh akan menetapkan baginya kebebasan dari api neraka." (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah dari Ibnu Abbas)

 

(ูˆَู‚َุงู„َ ๏ทบ: ู…َู†ْ ุฃَุฐَّู†َ ุงุซْู†َุชَูŠْ ุนَุดْุฑَุฉَ ุณَู†َุฉً) ุฃَูŠْ ู…ُุญْุชَุณِุจًุง (ูˆَุฌَุจَุชْ ู„َู‡ُ ุงู„ْุฌَู†َّุฉُ) ุฑَูˆَุงู‡ُ ุงุจْู†ُ ู…َุงุฌَู‡ْ ูˆَุงู„ْุญَุงูƒِู…ُ ุนَู†ِ ุงุจْู†ِ ุนُู…َุฑَ.

Nabi ๏ทบ bersabda: "Barangsiapa yang mengumandangkan adzan selama dua belas tahun"—yakni secara muhtasib (mengharap pahala)—"maka wajib baginya surga." (HR. Ibnu Majah dan Al-Hakim dari Ibnu Umar)

 

ูˆَุญِูƒْู…َุฉُ ุฐٰู„ِูƒَ ุฃَู†َّ ุฃَูƒْุซَุฑَ ู…َุง ูŠُุนَู…َّุฑُ ุงู„ْุฅِู†ْุณَุงู†ُ ู…ِู†ْ ุฃُู…َّุฉِ ุงู„ู†َّุจِูŠِّ ๏ทบ ู…ِุงุฆَุฉٌ ูˆَุนِุดْุฑُูˆْู†َ ุณَู†َุฉً، ูˆَุงู„ْุงِุซْู†َุชَุง ุนَุดْุฑَุฉَ ู‡ٰุฐِู‡ِ ุนُุดْุฑُ ู‡ٰุฐَุง ุงู„ْุนُู…ْุฑِ، ูˆَู…ِู†ْ ุณُู†َّุฉِ ุงู„ู„ّٰู‡ِ ุฃَู†َّ ุงู„ْุนُุดْุฑَ ูŠَู‚ُูˆْู…ُ ู…َู‚َุงู…َ ุงู„ْูƒُู„ِّ، ูƒَู…َุง ู‚َุงู„َ ุงู„ู„ّٰู‡ُ ุชَุนَุงู„ٰู‰: {ู…َู†ْ ุฌَุงุกَ ุจِูฑู„ْุญَุณَู†َุฉِ ูَู„َู‡ُ ุนَุดْุฑُ ุฃَู…ْุซَุงู„ِู‡َุง}.

Adapun hikmah dari hal tersebut adalah: Bahwa batas maksimal usia manusia dari umat Nabi ๏ทบ umumnya adalah 120 tahun. Masa dua belas tahun ini merupakan sepersepuluh dari total usia tersebut. Sudah menjadi sunnatulloh (ketentuan Alloh) bahwa nilai sepersepuluh dapat mewakili keseluruhan, sebagaimana firman Alloh Ta'ala: "Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya." (QS. Al-An'am: 160).

 

ูˆَุฃَู…َّุง ุญَุฏِูŠْุซُ ู…َู†ْ ุฃَุฐَّู†َ ุณَุจْุนَ ุณِู†ِูŠْู†َ ูَุฅِู†َّู‡َุง ุนُุดْุฑُ ุงู„ْุนُู…ْุฑِ ุงู„ْุบَุงู„ِุจِ، ูƒَุฐَุง ู‚َุงู„َ ุจَุนْุถُ ุงู„ْู…ُุญَุฏِّุซِูŠْู†َ.

Sedangkan mengenai hadits [sebelumnya] tentang orang yang mengumandangkan adzan selama tujuh tahun, maka itu adalah hitungan sepersepuluh dari usia rata-rata (umumnya umat Nabi ๏ทบ yakni 60-70 tahun). Demikianlah penjelasan yang disampaikan oleh sebagian ahli hadits.

 

(ูˆَู‚َุงู„َ ๏ทบ: ู…َู†ْ ุฃَุฐَّู†َ ุฎَู…ْุณَ ุตَู„َูˆَุงุชٍ ุฅِูŠْู…َุงู†ًุง) ุฃَูŠْ ุชَุตْุฏِูŠْู‚ًุง ุจِุฃَู†َّ ุงู„ْุฃَุฐَุงู†َ ู…ِู†ْ ุฃُู…ُูˆْุฑِ ุงู„ุดَّุฑِูŠْุนَุฉِ (ูˆَุงุญْุชِุณَุงุจًุง) ุฃَูŠْ ุทَู„َุจًุง ู„ِู„ْุฃَุฌْุฑِ ู…ِู†َ ุงู„ู„ّٰู‡ِ ุชَุนَุงู„ٰู‰ (ุบُูِุฑَ ู„َู‡ُ) ุจِุงู„ْุจِู†َุงุกِ ู„ِู„ْู…َูْุนُูˆْู„ِ (ู…َุง ุชَู‚َุฏَّู…َ ู…ِู†ْ ุฐَู†ْุจِู‡ِ) ุฃَูŠْ ู…ِู†َ ุงู„ุตَّุบَุงุฆِุฑِ. ุฑَูˆَุงู‡ُ ุงู„ْุจَูŠْู‡َู‚ِูŠُّ ุนَู†ْ ุฃَุจِูŠْ ู‡ُุฑَูŠْุฑَุฉَ ุจِุฅِุณْู†َุงุฏٍ ุถَุนِูŠْูٍ.

Nabi ๏ทบ bersabda: "Barangsiapa yang mengumandangkan adzan untuk sholat lima waktu karena iman" —yakni membenarkan bahwa adzan adalah bagian dari syari'at— "dan ihtisab" —yakni semata-mata mencari pahala dari Alloh Ta'ala— "maka diampunilah baginya dosa-dosa yang telah lalu" —yaitu dosa-dosa kecil. (HR. Al-Baihaqi dari Abu Huroiroh dengan sanad yang dhoif)

 

ูˆَุงู„ْุฎَู…ْุณُ ุตَุงุฏِู‚َุฉٌ ุจِุฃَู†ْ ุชَูƒُูˆْู†َ ู…ِู†ْ ูŠَูˆْู…ٍ ูˆَู„َูŠْู„َุฉٍ ุฃَูˆْ ู…ِู†ْ ุฃَูŠَّุงู…ٍ.

Frasa "lima waktu" di sini bisa berarti dilakukan dalam satu hari satu malam, atau dilakukan secara terpisah di hari-hari yang berbeda.

 

(ูˆَู‚َุงู„َ ๏ทบ: ุซَู„َุงุซَุฉٌ ูŠَุนْุตِู…ُู‡ُู…ُ ุงู„ู„ّٰู‡ُ ุชَุนَุงู„ٰู‰ ู…ِู†ْ ุนَุฐَุงุจِ ุงู„ْู‚َุจْุฑِ: ุงู„ุดَّู‡ِูŠْุฏُ)

Nabi ๏ทบ bersabda: "Ada tiga golongan yang Alloh Ta'ala pelihara dari azab/siksa kubur, yaitu: Orang yang mati syahid..."

 

ูˆَู‡ُูˆَ ูŠَุตْุฏُู‚ُ ุนَู„ٰู‰ ุดَู‡ِูŠْุฏِ ุงู„ْุขุฎِุฑَุฉِ ูَู‚َุทْ، ูƒَู…َู†ْ ู‚ُุชِู„َ ุธُู„ْู…ًุง، ูˆَู„َูˆْ ุจِุญَุณَุจِ ุงู„ْู‡َูŠْุฆَุฉِ، ูƒَู…َู†ْ ุงِุณْุชَุญَู‚َّ ุงู„ْู‚َุชْู„َ ุจِู‚َุทْุนِ ุงู„ุฑَّุฃْุณِ، ูَู‚ُุชِู„َ ุจِุงู„ุชَّูˆَุณُّุทِ ู…َุซَู„ًุง. ูˆَู…َู†ْ ู…َุงุชَ ุจِุบَุฑَู‚ٍ ูˆَุฅِู†ْ ุนَุตٰู‰ ูِูŠْู‡ِ ุจِู†َุญْูˆِ ุดُุฑْุจِ ุฎَู…ْุฑٍ، ุจِุฎِู„َุงูِ ู…َู†ْ ุบَุฑِู‚َ ุจِุณَูŠْุฑِ ุณَูِูŠْู†َุฉٍ ูِูŠْ ูˆَู‚ْุชِ ู‡َูŠَุฌَุงู†ِ ุงู„ุฑِّูŠْุญِ ูَู„َูŠْุณَ ุจِุดَู‡ِูŠْุฏٍ.

Yang dimaksud "mati syahid" di sini adalah mencakup Syahid Akhirat saja, seperti:

  • Orang yang dibunuh secara zalim, meskipun secara teknis ia berhak dihukum mati dengan hukuman penggal kepala namun dibunuh dengan cara lain, misalnya dengan cara dibelah bagian tengah tubuhnya.
  • Orang yang mati tenggelam, meskipun ia sedang bermaksiat saat itu, seperti meminum khamr (arak); berbeda dengan orang yang tenggelam karena nekat berlayar saat badai besar, maka ia bukan mati syahid.

 

ูˆَู…َู†ْ ู…َุงุชَ ุจِู‡َุฏْู…ٍ ุฃَูˆْ ุญَุฑِูŠْู‚ٍ. ูˆَู…َู†ْ ู…َุงุชَ ุบَุฑِูŠْุจًุง ูˆَุฅِู†ْ ุนَุตٰู‰ ุจِุบُุฑْุจَุชِู‡ِ ูƒَุขุจِู‚ٍ ูˆَู†َุงุดِุฒَุฉٍ. ูˆَู…َู†ْ ู…َุงุชَ ูِูŠْ ุทَู„َุจِ ุงู„ْุนِู„ْู…ِ ูˆَู„َูˆْ ุนَู„ٰู‰ ูِุฑَุงุดِู‡ِ. ูˆَู…َู†ْ ู…َุงุชَ ู…َุจْุทُูˆْู†ًุง. ูˆَู…َู†ْ ู…َุงุชَ ุจِุงู„ุทَّุงุนُูˆْู†ِ ูˆَู„َูˆْ ูِูŠْ ุบَูŠْุฑِ ุฒَู…َู†ِู‡ِ ุฃَูˆْ ุจِุบَูŠْุฑِู‡ِ ูِูŠْ ุฒَู…َู†ِู‡ِ ุฃَูˆْ ุจَุนْุฏَู‡ُ ุญَูŠْุซُ ูƒَุงู†َ ุตَุงุจِุฑًุง ู…ُุญْุชَุณِุจًุง.

  • Orang yang mati tertimpa bangunan atau terbakar.
  • Orang yang mati dalam pengasingan (perantauan), meskipun ia bermaksiat dalam pengasingannya tersebut; seperti budak yang kabur atau istri yang nusyuz (minggat).
  • Orang yang mati saat menuntut ilmu, meskipun matinya di atas tempat tidurnya.
  • Orang yang mati karena penyakit perut.
  • Orang yang mati karena penyakit tho'un (wabah pes/kolera), meskipun matinya bukan di masa wabah itu terjadi; atau mati karena penyakit lain di masa terjadinya wabah tersebut; atau mati setelah masa wabah berakhir; selama ia bersabar dan berharap pahala (muhtasiban).

 

ูˆَู…َู†ْ ู…َุงุชَ ุนِุดْู‚ًุง ุจِุดَุฑْุทِ ุงู„ْูƒَูِّ ุนَู†ِ ุงู„ْู…َุญَุงุฑِู…ِ ุญَุชّٰู‰ ุนَู†ِ ุงู„ู†َّุธَุฑِ، ุจِุญَูŠْุซُ ู„َูˆِ ุงุฎْุชَู„ٰู‰ ุจِู…َุญْุจُูˆْุจِู‡ِ ู„َู…ْ ูŠَุชَุฌَุงูˆَุฒِ ุงู„ุดَّุฑْุนَ، ูˆَุจِุดَุฑْุทِ ุงู„ْูƒِุชْู…َุงู†ِ ุญَุชّٰู‰ ุนَู†ْ ู…َุนْุดُูˆْู‚ِู‡ِ. ูˆَูƒَุงู„ْู…َุฑْุฃَุฉِ ุงู„َّุชِูŠْ ู…َุงุชَุชْ ุทَู„ْู‚ًุง ูˆَู„َูˆْ ู…ِู†ْ ุฒِู†ًู‰ ุฅِุฐَุง ู„َู…ْ ุชَุชَุณَุจَّุจْ ูِูŠْ ุฅِุณْู‚َุงุทِ ุงู„ْูˆَู„َุฏِ، ูˆَูƒَุฐَุง ู…َู†ْ ู…َุงุชَ ูَุฌْุฃَุฉً ุฃَูˆْ ูِูŠْ ุฏَุงุฑِ ุงู„ْุญَุฑْุจِ، ู‚َุงู„َู‡ُ ุงุจْู†ُ ุงู„ุฑِّูْุนَุฉِ.

  • Orang yang mati karena jatuh cinta ('isyq), dengan syarat: menjaga diri dari hal yang haram bahkan dari memandang, sekiranya ia berduaan dengan kekasihnya (orang yang dicintainya) ia tidak melanggar syari'at, serta dengan syarat merahasiakan cintanya bahkan dari orang yang dicintainya.
  • Wanita yang mati saat melahirkan, meskipun dari hasil zina, selama ia tidak sengaja menggugurkan kandungannya.
  • Orang yang mati mendadak atau mati di wilayah perang (Darul Harb), sebagaimana dinyatakan oleh Ibnu Al-Rif’ah.

 

ูˆَู…َุนْู†َู‰ ุงู„ุดَّู‡َุงุฏَุฉِ ู„َู‡ُู…ْ ุฃَู†َّู‡ُู…ْ ุฃَุญْูŠَุงุกٌ ุนِู†ْุฏَ ุฑَุจِّู‡ِู…ْ ูŠُุฑْุฒَู‚ُูˆْู†َ ูƒَู…َุง ู‚َุงู„َู‡ُ ุงู„ْุญِุตْู†ِูŠُّ.

Makna "syahadah" (mati syahid) bagi mereka adalah bahwa mereka hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki, sebagaimana dinyatakan oleh imam Al-Hishni.

 

ูˆَูŠَุตْุฏُู‚ُ ุฃَูŠْุถًุง ุนَู„ٰู‰ ุดَู‡ِูŠْุฏِ ุงู„ุฏُّู†ْูŠَุง ูˆَุงู„ْุขุฎِุฑَุฉِ ู…َุนًุง، ูˆَู‡ُูˆَ ู…َู†ْ ู…َุงุชَ ุจِุณَุจَุจٍ ู…ِู†ْ ุฃَุณْุจَุงุจِ ู‚ِุชَุงู„ِ ุงู„ْู…ُุดْุฑِูƒِูŠْู†َ ู„ِุฅِุนْู„َุงุกِ ุฏِูŠْู†ِ ุงู„ู„ّٰู‡ِ ู„َุง ู„ِุฑِูŠَุงุกٍ ูˆَุณُู…ْุนَุฉٍ.

Dan makna "syahadah" (mati syahid) di sini juga mencakup Syahid Dunia dan Akhirat sekaligus, yaitu mereka yang wafat dalam peperangan melawan kaum musyrikin demi meninggikan (meluhurkan) agama Alloh, bukan karena riya' (pamer) atau mencari reputasi.

 

ุจِุฎِู„َุงูِ ุดَู‡ِูŠْุฏِ ุงู„ุฏُّู†ْูŠَุง ูَู‚َุทْ، ูَู„َุง ูŠَุฏْุฎُู„ُ ูِูŠْ ู‡ٰุฐَุง ุงู„ْุญُูƒْู…ِ، ูˆَู‡ُูˆَ ู…َู†ْ ู…َุงุชَ ูِูŠْ ู‚ِุชَุงู„ِ ุงู„ْูƒُูَّุงุฑِ ู…ُุฏْุจِุฑًุง ุนَู„ٰู‰ ูˆَุฌْู‡ٍ ุบَูŠْุฑِ ู…َุฑْุถِูŠٍّ ุดَุฑْุนًุง، ุฃَูˆْ ู…َุงุชَ ุจِู‚ِุชَุงู„ِู‡ِู…ْ ุฑِูŠَุงุกً ูˆَุณُู…ْุนَุฉً.

Berbeda halnya dengan Syahid Dunia saja, maka ia tidak termasuk ke dalam hukum [pembebasan dari azab kubur] ini, yaitu mereka yang mati dalam perang melawan kaum kafir namun dalam keadaan melarikan diri (mundur) dengan cara yang tidak diridhoi syari'at, atau mati karena riya dan mencari ketenaran.

 

(ูˆَุงู„ْู…ُุคَุฐِّู†ُ) ุฃَูŠْ ู„ِูˆَุฌْู‡ِ ุงู„ู„ّٰู‡ِ ุชَุนَุงู„ٰู‰ ู„َุง ู„ِุทَู„َุจِ ุฃُุฌْุฑٍ ู…ِู†ْ ุฃَุญَุฏٍ.

"Dan [terrmasuk tiga golongan yang Alloh Ta'ala pelihara dari azab kubur adalah] Muadzin (orang yang adzan)"—yakni yang mengumandangkan adzan semata-mata karena Alloh Ta'ala, bukan untuk mencari upah dari siapapun.

 

(ูˆَุงู„ْู…ُุชَูˆَูّٰู‰) ุจِูَุชْุญِ ุงู„ْูَุงุกِ (ูŠَูˆْู…َ ุงู„ْุฌُู…ُุนَุฉِ ูˆَู„َูŠْู„َุฉَ ุงู„ْุฌُู…ُุนَุฉِ).

"Dan [terrmasuk tiga golongan yang Alloh Ta'ala pelihara dari azab kubur adalah] orang yang wafat pada hari Jum'at atau malam Jum'at." —kata "al-mutawaffฤ" dengan dibaca fathah huruf fa'-nya.

 

ู‚َุงู„َ ุจَุนْุถُู‡ُู…ْ: ูَู…َู†ْ ู…َุงุชَ ู…ِู†َ ุงู„ْู…ُุคْู…ِู†ِูŠْู†َ ูŠَูˆْู…َ ุงู„ْุฌُู…ُุนَุฉِ ุฃَูˆْ ู„َูŠْู„َุชَู‡ُ، ุฅِู†ْ ุนُุฐِّุจَ ูƒَุงู†َ ุนَุฐَุงุจُู‡ُ ุณَุงุนَุฉً ูˆَุงุญِุฏَุฉً، ุซُู…َّ ูŠَู†ْู‚َุทِุนُ ูˆَู„َุง ูŠَุนُูˆْุฏُ ุฅِู„ٰู‰ ูŠَูˆْู…ِ ุงู„ْู‚ِูŠَุงู…َุฉِ، ูˆَูƒَุฐٰู„ِูƒَ ุถَุบْุทَุฉُ ุงู„ْู‚َุจْุฑِ، ูˆَุงู„ู„ّٰู‡ُ ุฃَุนْู„َู…ُ.

Sebagian ulama berkata: Barangsiapa di antara kaum mukminin yang wafat pada hari Jum'at atau malam Jum'at, jika ia diazab, maka azabnya hanya sesaat kemudian terputus dan tidak akan kembali lagi hingga hari kiamat. Demikian pula dengan urusan dhoghthotul qobr (himpitan kubur). Wallรตhu a'lam.

 

(ูˆَู‚َุงู„َ ๏ทบ: ู„َูˆْ ูŠَุนْู„َู…ُ ุงู„ู†َّุงุณُ) ูˆُุถِุนَ ุงู„ْู…ُุถَุงุฑِุนُ ู…َูˆْุถِุนَ ุงู„ْู…َุงุถِูŠْ ู„ِูŠُูِูŠْุฏَ ุงุณْุชِู…ْุฑَุงุฑَ ุงู„ْุนِู„ْู…ِ

Nabi ๏ทบ bersabda: "Seandainya manusia mengetahui..." —penggunaan fi'il mudhori' (kata kerja bentuk sekarang) di sini menggantikan fi'il madhi (kata kerja bentuk lampau) untuk menunjukkan kesinambungan pengetahuan tersebut—

 

(ู…َุง ูِูŠ ุงู„ู†ِّุฏَุงุกِ) ุฃَูŠْ ุงู„ุชَّุฃْุฐِูŠْู†ِ (ูˆَุงู„ุตَّูِّ ุงู„ْุฃَูˆَّู„ِ) ุฃَูŠْ ู…ِู†َ ุงู„ْูَุถْู„ِ (ุซُู…َّ ู„َู…ْ ูŠَุฌِุฏُูˆْุง) ูˆَูِูŠْ ุฑِูˆَุงูŠَุฉٍ: ู„َุง ูŠَุฌِุฏُูˆْุง ุจِู€«ู„َุง» ุงู„ู†َّุงูِูŠَุฉِ، ูˆَุจِุญَุฐْูِ ู†ُูˆْู†ِ ุงู„ุฑَّูْุนِ، ูˆَู‡ُูˆَ ุซَุงุจِุชٌ ู„ُุบَุฉً

"...apa yang ada pada seruan (adzan) dan shof pertama" —yakni keutamaannya— "kemudian mereka tidak mendapatkan jalan" —dalam sebuah riwayat yang lain menggunakan lฤ nafiah (peniadaan) dengan membuang nun alamat rofa', yang mana hal ini tetap dibenarkan secara bahasa—

 

(ุฅِู„َّุง ุฃَู†ْ ูŠَุณْุชَู‡ِู…ُูˆْุง) ุจِุชَุฎْูِูŠْูِ ุงู„ْู…ِูŠْู…ِ (ุนَู„َูŠْู‡ِ) ุฃَูŠْ ุงู„ْู…َุฐْูƒُูˆْุฑِ ู…ِู†َ ุงู„ْุฃَุฐَุงู†ِ ูˆَุงู„ุตَّูِّ ุงู„ْุฃَูˆَّู„ِ (ู„َุงุณْุชَู‡َู…ُูˆْุง).

"kecuali dengan cara melakukan undian untuknya…" → kata "yastahimลซ" (melakukan undian) dengan diringankan (tanpa tasydid) huruf mim-nya —maksudnya adalah undian untuk adzan dan shof pertama tersebut— "niscaya mereka benar-benar akan melakukan undian."

 

ูˆَุงู„ْู…َุนْู†ٰู‰: ู„َูˆْ ุนَู„ِู…ُูˆْุง ูَุถِูŠْู„َุฉَ ุงู„ْุฃَุฐَุงู†ِ ูˆَุงู„ุตَّูِّ ุงู„ْุฃَูˆَّู„ِ ูˆَุนَุธِูŠْู…َ ุฌَุฒَุงุฆِู‡ِู…َุง، ุซُู…َّ ู„َุง ูŠَุฌِุฏُูˆْู†َ ุทَุฑِูŠْู‚ًุง ูŠَุญْุตُู„ُูˆْู†َู‡ُู…َุง ุจِู‡ِ ู„ِุถِูŠْู‚ِ ุงู„ْูˆَู‚ْุชِ، ุฃَูˆْ ู„ِูƒَูˆْู†ِู‡ِ ู„َุง ูŠُุคَุฐَّู†ُ ู„ِู„ْู…َุณْุฌِุฏِ ุฅِู„َّุง ูˆَุงุญِุฏٌ، ู„َุงู‚ْุชَุฑَุนُูˆْุง ูِูŠْ ุชَุญْุตِูŠْู„ِู‡ِู…َุง.

Maknanya: Seandainya mereka mengetahui keutamaan adzan dan shof pertama [sholat berjamaah] serta besarnya pahala keduanya, kemudian mereka tidak mendapati jalan untuk meraihnya karena sempitnya waktu, atau karena masjid tersebut hanya boleh memiliki satu muadzin, niscaya mereka akan melakukan undian (qur'ah) demi mendapatkannya.

 

(ูˆَู„َูˆْ ูŠَุนْู„َู…ُูˆْู†َ ู…َุง ูِูŠ ุงู„ุชَّู‡ْุฌِูŠْุฑِ) ุฃَูŠْ ุงู„ุชَّุจْูƒِูŠْุฑِ ุจِุฃَูŠِّ ุตَู„َุงุฉٍ ูƒَุงู†َ، ูˆَู„َุง ูŠُุนَุงุฑِุถُู‡ُ ุฃَู…ْุฑُ ุงู„ْุฅِุจْุฑَุงุฏِ ู„ِู„ุธُّู‡ْุฑِ؛ ู„ِุฃَู†َّู‡ُ ุชَุฃْุฎِูŠْุฑٌ ู‚َู„ِูŠْู„ٌ (ู„َุงุณْุชَุจَู‚ُูˆْุง ุฅِู„َูŠْู‡ِ) ุฃَูŠْ ุงู„ุชَّู‡ْุฌِูŠْุฑَ.

"Dan seandainya mereka mengetahui apa yang ada pada bergegas-gegas" —yakni menyegerakan datang di awal waktu untuk sholat apa pun. Hal ini tidak bertentangan dengan perintah ibrod (menunda sejenak hingga cuaca agak dingin) untuk sholat Zuhur, karena penundaan tersebut hanya sedikit— "niscaya mereka akan berlomba-lomba kepadanya." —yakni [berlomba untuk] bergegas-gegas.

 

(ูˆَู„َูˆْ ูŠَุนْู„َู…ُูˆْู†َ ู…َุง ูِูŠ ุงู„ْุนَุชَู…َุฉِ ูˆَุงู„ุตُّุจْุญِ) ุฃَูŠْ ู…َุง ูِูŠْ ุตَู„َุงุฉِ ุงู„ْุนِุดَุงุกِ ูˆَุงู„ุตُّุจْุญِ ูِูŠْ ุฌَู…َุงุนَุฉٍ ู…ِู†َ ุงู„ุซَّูˆَุงุจِ (ู„َุฃَุชَูˆْู‡ُู…َุง ูˆَู„َูˆْ ุญَุจْูˆًุง) ุจِูَุชْุญِ ุงู„ْุญَุงุกِ ูˆَุณُูƒُูˆْู†ِ ุงู„ْู…ُูˆَุญَّุฏَุฉِ، ุฃَูŠْ ูˆَู„َูˆْ ูƒَุงู†َ ุงู„ْุฅِุชْูŠَุงู†ُ ู…َุดْูŠًุง ุนَู„َู‰ ุงู„ุฑُّูƒَุจِ ูˆَุงู„ْูŠَุฏَูŠْู†ِ. ุฑَูˆَุงู‡ُ ู…َุงู„ِูƒٌ ูˆَุฃَุญْู…َุฏُ ูˆَุงู„ْุจُุฎَุงุฑِูŠُّ ูˆَู…ُุณْู„ِู…ٌ ูˆَุงู„ู†َّุณَุงุฆِูŠُّ ูˆَุฃَุจُูˆْ ุฏَุงูˆُุฏَ ุนَู†ْ ุฃَุจِูŠْ ู‡ُุฑَูŠْุฑَุฉَ.

"Dan seandainya mereka mengetahui apa yang ada pada al-'atamah (Isyak) dan Subuh" —yakni pahala yang ada dalam sholat Isyak dan Subuh secara berjamaah— "niscaya mereka akan mendatangi keduanya walaupun dengan merangkak (แธฅabwan)" —yakni meskipun harus datang dengan berjalan menggunakan lutut dan tangan. (HR. Malik, Ahmad, Bukhori, Muslim, Nasai, dan Abu Daud dari Abu Huroiroh)

 

(ูˆَู‚َุงู„َ ๏ทบ: ู…َู†ْ ุณَู…ِุนَ ุงู„ู†ِّุฏَุงุกَ) ุฃَูŠْ ุงู„ْุฃَุฐَุงู†َ (ูَู‚َุจَّู„َ ุฅِุจْู‡َุงู…َูŠْู‡ِ) ุฃَูŠْ ุจِุงู„ْูَู…ِ (ูَูˆَุถَุนَ) ุฃَูŠِ ุงู„ْุฅِุจْู‡َุงู…َูŠْู†ِ (ุนَู„ٰู‰ ุนَูŠْู†َูŠْู‡ِ ูˆَู‚َุงู„َ ู…َุฑْุญَุจًุง ุจِุฐِูƒْุฑِ ุงู„ู„ّٰู‡ِ ุชَุนَุงู„ٰู‰ ู‚ُุฑَّุฉُ ุฃَุนْูŠُู†ِู†َุง ุจِูƒَ ูŠَุง ุฑَุณُูˆْู„َ ุงู„ู„ّٰู‡ِ، ูَุฃَู†َุง ุดَูِูŠْุนُู‡ُ ูŠَูˆْู…َ ุงู„ْู‚ِูŠَุงู…َุฉِ ูˆَู‚َุงุฆِุฏُู‡ُ ุฅِู„َู‰ ุงู„ْุฌَู†َّุฉِ.

Nabi ๏ทบ bersabda: "Barangsiapa yang mendengar seruan (adzan), lalu ia mencium kedua ibu jarinya" —yakni dengan mulut— "kemudian meletakkan (kedua ibu jari tersebut) pada kedua matanya sembari berucap: 'Marแธฅaban bi dzikrillฤhi Ta'ฤla, qurrotu a'yuninฤ bika yฤ Rosลซlullรตh' (Selamat datang sebutan Alloh Ta'ala, wahai Rosululloh engkaulah penyejuk pandangan mata kami), maka aku adalah pemberi syafaat baginya di hari kiamat dan penuntunnya menuju surga."

 

ูˆَู‚َุงู„َ ๏ทบ: ุฅِุฐَุง ูƒَุงู†َ) ุฃَูŠْ ุฌَุงุกَ (ูˆَู‚ْุชُ ุงู„ْุฃَุฐَุงู†ِ ูُุชِุญَุชْ ุฃَุจْูˆَุงุจُ ุงู„ุณَّู…َุงุกِ ูˆَุงุณْุชُุฌِูŠْุจَ ุงู„ุฏُّุนَุงุกُ، ูˆَุฅِุฐَุง ูƒَุงู†َ ูˆَู‚ْุชُ ุงู„ْุฅِู‚َุงู…َุฉِ ู„َู…ْ ุชُุฑَุฏَّ ุฏَุนْูˆَุชُู‡ُ).

Dan Nabi ๏ทบ juga bersabda: "Apabila telah datang waktu adzan, maka pintu-pintu langit akan dibuka dan doa-doa dikabulkan. Dan apabila tiba waktu iqomah, maka doa seseorang tidak akan ditolak."

 

ู‚َุงู„َ ุงู„ู†َّูˆَูˆِูŠُّ ูِูŠ ุงู„ْุฃَุฐْูƒَุงุฑِ: ุฑَูˆَูŠْู†َุง ุนَู†ْ ุฃَู†َุณٍ ู‚َุงู„َ: ู‚َุงู„َ ุฑَุณُูˆْู„ُ ุงู„ู„ّٰู‡ِ ๏ทบ: «ู„َุง ูŠُุฑَุฏُّ ุงู„ุฏُّุนَุงุกُ ุจَูŠْู†َ ุงู„ْุฃَุฐَุงู†ِ ูˆَุงู„ْุฅِู‚َุงู…َุฉِ». ุฑَูˆَุงู‡ُ ุฃَุจُูˆْ ุฏَุงูˆُุฏَ ูˆَุงู„ุชِّุฑْู…ِุฐِูŠُّ ูˆَุงู„ู†َّุณَุงุฆِูŠُّ ูˆَุงุจْู†ُ ุงู„ุณُّู†ِّูŠِّ ูˆَุบَูŠْุฑُู‡ُู…ْ.

Imam An-Nawawi dalam kitab Al-Adzkar menyebutkan: Kami telah meriwayatkan dari Anas r.a., ia berkata: Rosululloh ๏ทบ bersabda: "Doa di antara adzan dan iqomah tidak akan ditolak." (HR. Abu Daud, Tirmidzi, Nasai, Ibnu Sunni, dan lainnya)

 

ูˆَุฒَุงุฏَ ุงู„ุชِّุฑْู…ِุฐِูŠُّ ูِูŠْ ุฑِูˆَุงูŠَุชِู‡ِ: ู‚َุงู„ُูˆْุง: ูَู…َุงุฐَุง ู†َู‚ُูˆْู„ُ ูŠَุง ุฑَุณُูˆْู„َ ุงู„ู„ّٰู‡ِ؟ ู‚َุงู„َ: «ุณَู„ُูˆْุง ุงู„ู„ّٰู‡َ ุงู„ْุนَุงูِูŠَุฉَ ูِูŠ ุงู„ุฏُّู†ْูŠَุง ูˆَุงู„ْุขุฎِุฑَุฉِ». ุงู‡ู€.

Imam Tirmidzi menambahkan dalam riwayatnya, para sahabat bertanya: "Lalu apa yang harus kami ucapkan (kami minta) wahai Rosululloh?" Beliau ๏ทบ menjawab: "Mintalah kepada Alloh al-'afiyah (keselamatan/kesejahteraan) di dunia dan akhirat."

 

(ูˆَู‚َุงู„َ ๏ทบ: ู…َู†ْ ู‚َุงู„َ ุนِู†ْุฏَ ุงู„ْุฃَุฐَุงู†ِ: ู…َุฑْุญَุจًุง ุจِุงู„ْู‚َุงุฆِู„ِูŠْู†َ ุนَุฏْู„ًุง، ู…َุฑْุญَุจًุง ุจِุงู„ุตَّู„َูˆَุงุชِ ูˆَุฃَู‡ْู„ًุง، ูƒَุชَุจَ ุงู„ู„ّٰู‡ُ ุชَุนَุงู„ٰู‰ ู„َู‡ُ ุฃَู„ْูَ ุญَุณَู†َุฉٍ، ูˆَู…َุญَุง ุนَู†ْู‡ُ ุฃَู„ْูَ ุณَูŠِّุฆَุฉٍ، ูˆَุฑَูَุนَ ู„َู‡ُ ุฃَู„ْูَ ุฏَุฑَุฌَุฉٍ.

Nabi ๏ทบ bersabda: "Barangsiapa yang ketika mendengar adzan mengucapkan: 'Marhaban bil qรต-ilรฎna 'adlan, marhaban bish-sholawฤti wa ahlan' (Selamat datang bagi para penyeru keadilan, selamat datang dan selamat tiba waktu sholat), maka Alloh Ta'ala menuliskan baginya seribu kebaikan, menghapus darinya seribu keburukan, dan mengangkat baginya seribu derajat."

 

ูˆَู‚َุงู„َ ๏ทบ: ู…َู†ْ ุณَู…ِุนَ ุงู„ْุฃَุฐَุงู†َ ูˆَู„َู…ْ ูŠَู‚ُู„ْ ู…ِุซْู„َ ู…َุง ู‚َุงู„َ ุงู„ْู…ُุคَุฐِّู†ُ ูَุฅِู†َّู‡ُ ูŠُู…ْู†َุนُ ู…ِู†َ ุงู„ุณُّุฌُูˆْุฏِ ูŠَูˆْู…َ ุงู„ْู‚ِูŠَุงู…َุฉِ ุฅِุฐَุง ุณَุฌَุฏَ ุงู„ْู…ُุคَุฐِّู†ُูˆْู†َ).

Nabi ๏ทบ bersabda: "Barangsiapa yang mendengar adzan namun tidak mengucapkan (tidak menjawab) seperti apa yang diucapkan oleh muadzin, maka sesungguhnya ia akan terhalang untuk bersujud pada hari kiamat, di saat para muadzin bersujud."

 

ูˆَุฑُูˆِูŠَ ุฃَู†َّู‡ُ ๏ทบ ู‚َุงู„َ: «ุฅِุฐَุง ุณَู…ِุนْุชُู…ُ ุงู„ู†ِّุฏَุงุกَ ูَู‚ُูˆْู„ُูˆْุง ู…ِุซْู„َ ู…َุง ูŠَู‚ُูˆْู„ُ ุงู„ْู…ُุคَุฐِّู†ُ». ุฑَูˆَุงู‡ُ ู…َุงู„ِูƒٌ ูˆَุฃَุญْู…َุฏُ ูˆَุฃَุจُูˆْ ุฏَุงูˆُุฏَ ูˆَุงู„ุชِّุฑْู…ِุฐِูŠُّ ูˆَุงู„ู†َّุณَุงุฆِูŠُّ ูˆَุงุจْู†ُ ู…َุงุฌَู‡َ.

Diriwayatkan bahwasanya Nabi ๏ทบ bersabda: "Apabila kalian mendengar adzan, maka ucapkanlah seperti apa yang diucapkan oleh muadzin." (HR. Malik, Ahmad, Abu Daud, Tirmidzi, Nasai, dan Ibnu Majah)

 

ู‚َุงู„َ ุงู„ْู…ُู†َุงูˆِูŠُّ: ุฅِุฌَุงุจَุฉُ ุงู„ْู…ُุคَุฐِّู†ِ ู…َู†ْุฏُูˆْุจٌ، ูˆَู‚ِูŠْู„َ: ูˆَุงุฌِุจٌ.

Imam Al-Munawi berkata: "Menjawab muadzin hukumnya adalah mandub (sunnah), namun ada pula yang berpendapat wajib."

 

ู‚َูˆْู„ُู‡ُ: ู…َุง ูŠَู‚ُูˆْู„ُ، ูˆَู„َู…ْ ูŠَู‚ُู„ْ: ู…ِุซْู„َ ู…َุง ู‚َุงู„َ ุงู„ْู…َุงุถِูŠْ؛ ู„ِูŠُุดْุนِุฑَ ุจِุฃَู†َّู‡ُ ูŠُุฌِูŠْุจُู‡ُ ุจَุนْุฏَ ูƒُู„ِّ ูƒَู„ِู…َุฉٍ.

Mengenai sabda beliau "seperti apa yang ia (muadzin) ucapkan" (menggunakan bentuk mudhori'/present): Beliau tidak menggunakan kata "seperti apa yang telah ia ucapkan" (bentuk madhi/past) untuk memberi isyarat bahwa seseorang hendaknya menjawab muadzin setelah setiap kalimat diucapkan (secara beriringan).

 

ูˆَู„َู…ْ ูŠَู‚ُู„ْ: ู…ِุซْู„َ ู…َุง ุชَุณْู…َุนُูˆْู†َ ุฅِูŠْู…َุงุกً ุฅِู„ٰู‰ ุฃَู†َّู‡ُ ูŠُุฌِูŠْุจُู‡ُ ูِูŠ ุงู„ุชَّุฑْุฌِูŠْุนِ، ุฃَูŠْ ูˆَุฅِู†ْ ู„َู…ْ ูŠَุณْู…َุนْ.

Beliau juga tidak bersabda "seperti apa yang kalian dengar", hal ini sebagai isyarat agar seseorang tetap menjawab muadzin dalam bagian Tarji' (pengulangan syahadat dengan suara lirih sebelum suara keras), yakni meskipun ia tidak mendengarnya secara jelas.

________________________________________

Tata Cara Praktik Tarji'.

Urutan praktiknya adalah sebagai berikut:

  1. Muadzin mengucapkan Allohu Akbar (4x) dengan suara keras.
  2. Sebelum masuk ke Asyhadu alla ilaha illalloh, muadzin membacanya terlebih dahulu sebanyak 2x dengan suara rendah/lirih.
  3. Muadzin membaca Asyhadu anna Muhammadar Rosululloh sebanyak 2x juga dengan suara rendah/lirih.
  4. Setelah itu, muadzin kembali mengulang kedua kalimat syahadat tersebut (masing-masing 2x) dengan suara keras sebagaimana mestinya.

________________________________________

 

ู‚َูˆْู„ُู‡ُ: ู…ِุซْู„َ ู…َุง ูŠَู‚ُูˆْู„ُ ุงู„ْู…ُุคَุฐِّู†ُ ุธَุงู‡ِุฑُู‡ُ ุฃَู†َّู‡ُ ูŠَู‚ُูˆْู„ُ ู…ِุซْู„َ ู‚َูˆْู„ِู‡ِ ูِูŠْ ุฌَู…ِูŠْุนِ ุงู„ْูƒَู„ِู…َุงุชِ، ู„ٰูƒِู†ْ ูˆَุฑَุฏَุชْ ุฃَุญَุงุฏِูŠْุซُ ุจِุงุณْุชِุซْู†َุงุกِ ุญَูŠَّ ุนَู„َู‰ ุงู„ุตَّู„َุงุฉِ ูˆَุญَูŠَّ ุนَู„َู‰ ุงู„ْูَู„َุงุญِ، ูˆَุฃَู†َّู‡ُ ูŠَู‚ُูˆْู„ُ ุจَูŠْู†َู‡ُู…َุง: ู„َุง ุญَูˆْู„َ ูˆَู„َุง ู‚ُูˆَّุฉَ ุฅِู„َّุง ุจِุงู„ู„ّٰู‡ِ، ูˆَู‡ٰุฐَุง ู‡ُูˆَ ูฑู„ْู…َุดْู‡ُูˆْุฑُ ุนِู†ْุฏَ ุงู„ْุฌُู…ْู‡ُูˆْุฑِ.

Sabda Nabi: "seperti apa yang diucapkan muadzin" secara zahir menunjukkan bahwa seseorang harus mengucapkan kalimat yang sama persis dalam semua lafal. Namun, telah warid (datang) hadits-hadits lain yang mengecualikan kalimat Hayya 'alash-sholฤh dan Hayya 'alal-falฤh (kedua kalimat ini disebut dengan แธคai'alah), di mana seseorang hendaknya mengucapkan di antara keduanya: Lฤ แธฅaula walฤ quwwata illฤ billฤh (แธคauqolah). Inilah pendapat yang masyhur di kalangan Jumhur (mayoritas ulama).

 

ูˆَุนِู†ْุฏَ ุงู„ْุญَู†َุงุจِู„َุฉِ ูˆَุฌْู‡ٌ ุฃَู†َّู‡ُ ูŠَุฌْู…َุนُ ุจَูŠْู†َ ุงู„ْุญَูŠْุนَู„َุฉِ ูˆَุงู„ْุญَูˆْู‚َู„َุฉِ.

Sedangkan di kalangan Madzhab Hanbali, terdapat satu pandangan bahwa seseorang boleh menggabungkan antara แธคai'alah (แธคayya 'ala ...) dan แธคauqolah (Lฤ แธฅaula ...).

 

ูˆَู‚َุงู„َ ุงู„ْุฃَุฐْุฑَุนِูŠُّ: ูˆَู‚َุฏْ ูŠُู‚َุงู„ُ ุงู„ْุฃَูˆْู„ٰู‰ ุฃَู†ْ ูŠَู‚ُูˆْู„َู‡ُู…َุง. ูƒَุฐَุง ู‚َุงู„َู‡ُ ุงู„ْุนَุฒِูŠุฒِูŠُّ ู†َู‚ْู„ًุง ุนَู†ِ ุงู„ْุนَู„ْู‚َู…ِูŠِّ. ุซُู…َّ ู‚َุงู„َ ุงู„ْุนَุฒِูŠุฒِูŠُّ: ู‚ُู„ْุชُ، ูˆَู‡ُูˆَ ุงู„ْุฃَูˆْู„ٰู‰ ู„ِู„ْุฎُุฑُูˆْุฌِ ู…ِู†ْ ุฎِู„َุงูِ ู…َู†ْ ู‚َุงู„َ ุจِู‡ِ ู…ِู†َ ุงู„ْุญَู†َุงุจِู„َุฉِ، ูˆَุฃَูƒْุซَุฑُ ุงู„ْุฃَุญَุงุฏِูŠْุซِ ุนَู„َู‰ ุงู„ْุฅِุทْู„َุงู‚ِ. ุงู†ْุชَู‡ٰู‰.

Syeh Al-Adzro'i berkata: "Ada yang berpendapat bahwa yang lebih utama adalah mengucapkan keduanya (แธคai'alah dan แธคauqolah sekaligus)." Demikian pula yang dikatakan oleh Al-'Azizi saat menukil pendapat dari Al-'Alqomi. Kemudian Al-'Azizi berkata: "Aku berpendapat, hal itu (mengucapkan keduanya) lebih utama demi keluar dari khilaf (perbedaan pendapat) dengan ulama Hanbali yang berpendapat demikian, apalagi sebagian besar hadits menyebutkan perintah ini secara mutlak (tanpa pengecualian)." Selesai.

 

ูˆَู‚َุงู„َ ุงู„ู†َّูˆَูˆِูŠُّ ูِูŠ ุงู„ْุฃَุฐْูƒَุงุฑِ: ุฅِุฐَุง ุณَู…ِุนَ ุงู„ْู…ُุคَุฐِّู†َ ุฃَูˆِ ุงู„ْู…ُู‚ِูŠْู…َ ูˆَู‡ُูˆَ ูŠُุตَู„ِّูŠْ ู„َู…ْ ูŠُุฌِุจْู‡ُ ูِูŠ ุงู„ุตَّู„َุงุฉِ، ูَุฅِุฐَุง ุณَู„َّู…َ ู…ِู†ْู‡َุง ุฃَุฌَุงุจَู‡ُ ูƒَู…َุง ูŠُุฌِูŠْุจُู‡ُ ู…َู†ْ ู„َุง ูŠُุตَู„ِّูŠْ. ูَู„َูˆْ ุฃَุฌَุงุจَู‡ُ ูِูŠ ุงู„ุตَّู„َุงุฉِ ูƒُุฑِู‡َ، ูˆَู„َู…ْ ุชَุจْุทُู„ْ ุตَู„َุงุชُู‡ُ.

Imam An-Nawawi berkata dalam kitab Al-Adzkar: "Apabila seseorang mendengar muadzin (orang yang adzan) atau muqim (orang yang iqomah) sedangkan ia sedang dalam keadaan sholat, maka ia tidak boleh menjawabnya di dalam sholat tersebut. Namun, setelah ia salam, ia menjawabnya sebagaimana orang yang tidak sedang sholat menjawabnya. Jika ia tetap menjawabnya [dengan lisan] di dalam sholat, maka hukumnya makruh, meskipun sholatnya tidak batal."

 

ูˆَู‡ٰูƒَุฐَุง ุฅِุฐَุง ุณَู…ِุนَู‡ُ ูˆَู‡ُูˆَ ุนَู„َู‰ ุงู„ْุฎَู„َุงุกِ ู„َุง ูŠُุฌِูŠْุจُู‡ُ ูِูŠ ุงู„ْุญَุงู„ِ، ูَุฅِุฐَุง ุฎَุฑَุฌَ ุฃَุฌَุงุจَู‡ُ.

"Demikian pula jika ia mendengar adzan saat sedang berada di kamar mandi (buang hajat), maka ia tidak menjawabnya saat itu juga. Namun, setelah ia keluar, barulah ia menjawabnya."

 

ูَุฃَู…َّุง ุฅِุฐَุง ูƒَุงู†َ ูŠَู‚ْุฑَุฃُ ุงู„ْู‚ُุฑْุขู†َ ุฃَูˆْ ูŠُุณَุจِّุญُ ุฃَูˆْ ูŠَู‚ْุฑَุฃُ ุญَุฏِูŠْุซًุง ุฃَูˆْ ุนِู„ْู…ًุง ุขุฎَุฑَ ุฃَูˆْ ุบَูŠْุฑَ ุฐٰู„ِูƒَ، ูَุฅِู†َّู‡ُ ูŠَู‚ْุทَุนُ ุฌَู…ِูŠْุนَ ู‡ٰุฐَุง ูˆَูŠُุฌِูŠْุจُ ุงู„ْู…ُุคَุฐِّู†َ، ุซُู…َّ ูŠَุนُูˆْุฏُ ุฅِู„ٰู‰ ู…َุง ูƒَุงู†َ ูِูŠْู‡ِ؛ ู„ِุฃَู†َّ ุงู„ْุฅِุฌَุงุจَุฉَ ุชَูُูˆْุชُ، ูˆَู…َุง ู‡ُูˆَ ูِูŠْู‡ِ ู„َุง ูŠَูُูˆْุชُ ุบَุงู„ِุจًุง.

"Adapun jika ia sedang membaca Al-Qur'an, bertasbih, membaca hadits, mempelajari ilmu lainnya, atau kegiatan serupa, maka hendaknya ia memutus (menghentikan sejenak) semua aktivitas tersebut untuk menjawab muadzin, kemudian barulah ia kembali melanjutkan apa yang sedang dikerjakannya tadi. Hal ini dikarenakan kesempatan menjawab adzan akan terlewatkan (terbatas waktu), sedangkan aktivitas yang ia kerjakan umumnya tidak akan terlewatkan (bisa ditunda)."

 

ูˆَุญَูŠْุซُ ู„َู…ْ ูŠُุชَุงุจِุนْู‡ُ ุญَุชّٰู‰ ูَุฑَุบَ ุงู„ْู…ُุคَุฐِّู†ُ ูŠُุณْุชَุญَุจُّ ุฃَู†ْ ูŠَุชَุฏَุงุฑَูƒَ ุงู„ْู…ُุชَุงุจَุนَุฉَ ู…َุง ู„َู…ْ ูŠَุทُู„ِ ุงู„ْูَุตْู„ُ. ุงู‡ู€.

"Sekiranya ia tidak mengikuti (tidak menjawab) muadzin hingga muadzin tersebut selesai, maka disunnahkan baginya untuk menyusul (meng-qodho) jawaban tersebut selama jeda waktunya belum terlalu lama." (Selesai kutipan dari kitab Al-Adzkar)

 

(ูˆَู‚َุงู„َ ุงู„ู†َّุจِูŠُّ ๏ทบ: ุซَู„َุงุซَุฉٌ ูِูŠْ ุธِู„ِّ ุงู„ْุนَุฑْุดِ ูŠَูˆْู…َ ู„َุง ุธِู„َّ ุฅِู„َّุง ุธِู„ُّู‡ُ: ุฅِู…َุงู…ٌ ุนَุงุฏِู„ٌ) ุฃَูŠْ ุฃَู‡ْู„ُ ู…َู…ْู„َูƒَุชِู‡ِ، (ูˆَู…ُุคَุฐِّู†ٌ ุญَุงูِุธٌ).

Nabi ๏ทบ bersabda: "Ada tiga golongan yang berada di bawah naungan Arasy pada hari di mana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya, yaitu: Imam (pemimpin) yang adil" —yakni adil terhadap rakyat atau wilayah kekuasaannya— "dan Muadzin yang menjaga [lafazh adzan dan waktu sholat]"

 

ู‚َุงู„َ ุณَูŠِّุฏِูŠ ุงู„ุดَّูŠْุฎُ ุนَุจْุฏُ ุงู„ْู‚َุงุฏِุฑِ ุงู„ْุฌَูŠْู„َุงู†ِูŠُّ: ูˆَูŠَุฌِุจُ ุนَู„َู‰ ุงู„ْู…ُุคَุฐِّู†ِ ุงู„ْุงِุญْุชِุฑَุงุฒُ ุนَู†ِ ุงู„ู„َّุญْู†ِ ูِูŠ ุงู„ุดَّู‡َุงุฏَุชَูŠْู†ِ، ูˆَูŠَูƒُูˆْู†ُ ุนَุงุฑِูًุง ุจِุงู„ْุฃَูˆْู‚َุงุชِ. ูˆَุฃَู†ْ ู„َุง ูŠُุคَุฐِّู†َ ุฅِู„َّุง ุจَุนْุฏَ ุฏُุฎُูˆْู„ِ ุงู„ْูˆَู‚ْุชِ ุฅِู„َّุง ูِูŠ ุงู„ْูَุฌْุฑِ ุฎَุงุตَّุฉً. ูˆَูŠَุญْุชَุณِุจُ ุจِุฃَุฐَุงู†ِู‡ِ ูˆَุฌْู‡َ ุงู„ู„ّٰู‡ِ ุชَุนَุงู„ٰู‰، ูˆَู„َุง ูŠَุฃْุฎُุฐُ ุนَู„ٰู‰ ุฃَุฐَุงู†ِู‡ِ ุฌَุฒَุงุกً، ูˆَูŠَุณْุชَู‚ْุจِู„ُ ุงู„ْู‚ِุจْู„َุฉَ ุจِูˆَุฌْู‡ِู‡ِ ูِูŠ ุงู„ุชَّูƒْุจِูŠْุฑِ ูˆَุงู„ุดَّู‡َุงุฏَุชَูŠْู†ِ، ูˆَูŠُูˆَู„ِّูŠْ ูˆَุฌْู‡َู‡ُ ูŠَู…ِูŠْู†ًุง ูˆَุดِู…َุงู„ًุง ูِูŠ ุงู„ุฏُّุนَุงุกِ ุฅِู„َู‰ ุงู„ุตَّู„َุงุฉِ. ูˆَุฅِุฐَุง ุฃَุฐَّู†َ ู„ِุตَู„َุงุฉِ ุงู„ْู…َุบْุฑِุจِ ุฌَู„َุณَ ุจَูŠْู†َ ุงู„ْุฃَุฐَุงู†ِ ูˆَุงู„ْุฅِู‚َุงู…َุฉِ ุฌَู„ْุณَุฉً ุฎَูِูŠْูَุฉً. ูˆَูŠُูƒْุฑَู‡ُ ู„َู‡ُ ุฃَู†ْ ูŠُุคَุฐِّู†َ ูˆَู‡ُูˆَ ุฌُู†ُุจٌ ุฃَูˆْ ู…ُุญْุฏِุซٌ.

Tuanku Syekh Abdul Qodir al-Jailani berkata: "Wajib bagi seorang muadzin untuk menjaga diri dari kesalahan dalam pelafalan (lahn) pada kalimat dua syahadat. Ia juga harus mengetahui waktu-waktu sholat, dan tidak mengumandangkan adzan kecuali setelah masuk waktu sholat—kecuali khusus untuk adzan Subuh [awal]. Ia hendaknya mengharapkan ridho Alloh Ta'ala dengan adzannya, tidak mengambil upah atas adzannya tersebut, serta menghadap kiblat dengan wajahnya saat melafalkan takbir dan syahadat. Ia memalingkan wajahnya ke kanan dan ke kiri saat menyeru/mengajak sholat (แธคai'alah). Apabila ia mengumandangkan adzan untuk shhlat Maghrib, hendaknya ia duduk sebentar di antara adzan dan iqomah. Dan dimakruhkan baginya mengumandangkan adzan dalam keadaan junub atau berhadats."

 

(ูˆَู‚َุงุฑِุฆُ ุงู„ْู‚ُุฑْุขู†ِ ูŠَู‚ْุฑَุฃُ ูِูŠْ ูƒُู„ِّ ู„َูŠْู„َุฉٍ ู…ِุงุฆَุชَูŠْ ุขูŠَุฉٍ).

"...Dan pembaca Al-Qur'an yang membaca dua ratus ayat setiap malam."

 

ู‚َุงู„َ ุณَูŠِّุฏِูŠ ุงู„ุดَّูŠْุฎُ ุนَุจْุฏُ ุงู„ْู‚َุงุฏِุฑِ ุงู„ْุฌَูŠْู„َุงู†ِูŠُّ: ูˆَูŠُุณْุชَุญَุจُّ ุฃَู†ْ ู„َุง ูŠَู†َุงู…َ ุญَุชّٰู‰ ูŠَู‚ْุฑَุฃَ ุซَู„َุงุซَ ู…ِุงุฆَุฉِ ุขูŠَุฉٍ ู„ِูŠَุฏْุฎُู„َ ูِูŠْ ุฒُู…ْุฑَุฉِ ุงู„ْุนَุงุจِุฏِูŠْู†َ، ูˆَู„َุง ูŠُูƒْุชَุจَ ู…ِู†َ ุงู„ْุบَุงูِู„ِูŠْู†َ.

Tuanku Syekh Abdul Qodir al-Jailani berkata: "Disunnahkan [bagi pembaca Al-Qur'an] untuk tidak tidur hingga ia membaca 300 ayat agar ia termasuk dalam golongan para ahli ibadah dan tidak dicatat sebagai golongan orang-orang yang lalai."

 

ูَู„ْูŠَู‚ْุฑَุฃْ ุณُูˆْุฑَุฉَ ุงู„ْูُุฑْู‚َุงู†ِ ูˆَุงู„ุดُّุนَุฑَุงุกِ ูَุฅِู†َّ ูِูŠْู‡ِู…َุง ุซَู„َุงุซَ ู…ِุงุฆَุฉِ ุขูŠَุฉٍ، ูˆَุฅِู†ْ ู„َู…ْ ูŠُุญْุณِู†ْู‡ُู…َุง ู‚َุฑَุฃَ ุณُูˆْุฑَุฉَ ุงู„ْูˆَุงู‚ِุนَุฉِ ูˆَู†ۤ ูˆَุงู„ْุญَุงู‚َّุฉِ ูˆَุณُูˆْุฑَุฉَ ุณَุฃَู„َ ุณَุงุฆِู„ٌ ูˆَุงู„ْู…ُุฏَّุซِّุฑِ. ูَุฅِู†ْ ู„َู…ْ ูŠُุญْุณِู†ْู‡ُู†َّ ูَู„ْูŠَู‚ْุฑَุฃْ ุณُูˆْุฑَุฉَ ุงู„ุทَّุงุฑِู‚ِ ุฅِู„ٰู‰ ุฎَุงุชِู…َุฉِ ุงู„ْู‚ُุฑْุขู†ِ، ูَุฅِู†َّู‡َุง ุซَู„َุงุซُ ู…ِุงุฆَุฉِ ุขูŠَุฉٍ.

"Maka hendaknya ia membaca surah Al-Furqon dan Asy-Syu'aro', karena pada keduanya terdapat tiga ratus ayat. Jika ia tidak dapat membaguskan bacaan keduanya, maka ia bisa membaca surah Al-Waqi'ah, Al-Qolam (Nลซn), Al-Haqqoh, Al-Ma'arij (Sa-ala Sฤ-il), dan Al-Muddatstsir. Jika ia tidak dapat membaguskan bacaan surah-surah tersebut pula, hendaknya ia membaca mulai dari surah At-Thoriq hingga akhir Al-Qur'an, karena jumlahnya adalah 300 ayat."

 

ูَุฅِู†ْ ู‚َุฑَุฃَ ู…ِู‚ْุฏَุงุฑَ ุฃَู„ْูِ ุขูŠَุฉٍ ูƒَุงู†َ ุฃَุญْุณَู†َ ูˆَุฃَูƒْู…َู„َ ู„ِู„ْูَุถْู„ِ، ูˆَูƒُุชِุจَ ู„َู‡ُ ู‚ِู†ْุทَุงุฑٌ ู…ِู†َ ุงู„ْุฃَุฌْุฑِ، ูˆَูƒُุชِุจَ ู…ِู†َ ุงู„ْู‚َุงู†ِุชِูŠْู†َ. ูˆَุฐٰู„ِูƒَ ู…ِู†ْ ุณُูˆْุฑَุฉِ {ุชَุจَุงุฑَูƒَ ุงู„َّุฐِูŠْ ุจِูŠَุฏِู‡ِ ุงู„ْู…ُู„ْูƒُ} ุฅِู„ٰู‰ ุฎَุงุชِู…َุฉِ ุงู„ْู‚ُุฑْุขู†ِ. ูَุฅِู†ْ ู„َู…ْ ูŠُุญْุณِู†ْู‡َุง ูَู„ْูŠَู‚ْุฑَุฃْ ู…ِุงุฆَุชَูŠْู†ِ ูˆَุฎَู…ْุณِูŠْู†َ ู…َุฑَّุฉً {ู‚ُู„ْ ู‡ُูˆَ ุงู„ู„ّٰู‡ُ ุฃَุญَุฏٌ}، ูَุฅِู†َّ ู…َุฌْู…ُูˆْุนَู‡َุง ุฃَู„ْูُ ุขูŠَุฉٍ، ุฃَูŠْ ูˆَุฐٰู„ِูƒَ ู…َุนَ ุงู„ْุจَุณْู…َู„َุฉِ.

"Apabila ia membaca hingga kadar 1.000 ayat, maka itu lebih baik dan lebih sempurna keutamaannya; baginya akan dicatat satu qinthor pahala dan ia dicatat sebagai golongan orang yang taat (al-qรตnitin). Jumlah [seribu ayat] itu terdapat mulai dari surah Al-Mulk hingga akhir Al-Qur'an. Jika ia tidak dapat membaguskan bacaan seribu ayat tersebut, maka hendaknya ia membaca surah Al-Ikhlas sebanyak 250 kali, karena jumlahnya mencapai seribu ayat (jika dihitung bersama Basmalah)."

________________________________________

๐Ÿ“˜ CATATAN:

·       Satu Qinthor (ู‚ِู†ْุทَุงุฑٌ) adalah satuan ukuran harta atau pahala yang sangat besar.

·       Secara harfiah, qinthor berarti "harta yang bertumpuk-tumpuk".

·       Dalam timbangan klasik satu qinthor sering disetarakan dengan 4.000 Dinar.

·       Dalam hitungan modern satu Dinar adalah 4,25 gram emas, maka 1 qinthor setara dengan 17 Kg emas. Ini menggambarkan jumlah yang sangat fantastis bagi seorang individu.

________________________________________

 

ูˆَูŠَู†ْุจَุบِูŠْ ุฃَู†ْ ู„َุง ูŠَุฏَุนَ ู‚ِุฑَุงุกَุฉَ ุฃَุฑْุจَุนِ ุณُูˆَุฑٍ ูِูŠْ ูƒُู„ِّ ู„َูŠْู„َุฉٍ: {ุงู„ٰู€ู€ู…ۤ ุชَู†ْุฒِูŠْู„ُ ุงู„ุณَّุฌْุฏَุฉِ} ูˆَุณُูˆْุฑَุฉَ ูŠٰุณۤ ูˆَุญٰู€ู€ู…ۤ ุงู„ุฏُّุฎَุงู†ِ ูˆَุชَุจَุงุฑَูƒَ. ูˆَุฅِู†ْ ู‚َุฑَุฃَ ู…َุนَู‡َุง ุณُูˆْุฑَุฉَ ุงู„ْู…ُุฒَّู…ِّู„ِ ูˆَุงู„ْูˆَุงู‚ِุนَุฉِ ูƒَุงู†َ ุฃَุญْุณَู†َ.

"Hendaknya pula ia tidak meninggalkan membaca empat surah setiap malam, yaitu: Al-Sajdah, Yasin, Ad-Dukhon, dan Al-Mulk. Jika ia menambahnya dengan surah Al-Muzzammil dan Al-Waqi'ah, maka itu lebih baik."

 

ูƒَุงู†َ ุงู„ู†َّุจِูŠُّ ๏ทบ ู„َุง ูŠَู†َุงู…ُ ุญَุชّٰู‰ ูŠَู‚ْุฑَุฃَ ุงู„ุณَّุฌْุฏَุฉَ ูˆَุชَุจَุงุฑَูƒَ ุงู„ْู…ُู„ْูƒُ. ูˆَูِูŠْ ุฎَุจَุฑٍ ุขุฎَุฑَ: ุญَุชّٰู‰ ูŠَู‚ْุฑَุฃَ ุณُูˆْุฑَุฉَ ุจَู†ِูŠْ ุฅِุณْุฑَุงุฆِูŠْู„َ ูˆَุงู„ุฒُّู…َุฑِ. ูˆَูِูŠْ ุฎَุจَุฑٍ ุขุฎَุฑَ: ุญَุชّٰู‰ ูŠَู‚ْุฑَุฃَ ุงู„ْู…ُุณَุจِّุญَุงุชِ، ูˆَูŠُู‚َุงู„ُ ูِูŠْู‡َุง ุขูŠَุฉٌ ุฃَูْุถَู„ُ ู…ِู†ْ ู…ِุงุฆَุฉِ ุฃَู„ْูِ ุขูŠَุฉٍ.

"Dahulu Nabi ๏ทบ tidak akan tidur hingga beliau membaca surah As-Sajdah dan Al-Mulk. Dalam riwayat lain disebutkan: hingga beliau membaca surah Bani Isroil (Al-Isro') dan Az-Zumar. Dan dalam riwayat lainnya: hingga beliau membaca Al-Musabbiแธฅฤt (surah-surah yang diawali dengan tasbih), dan dikatakan bahwa di dalamnya terdapat satu ayat yang lebih utama dari 100.000 ayat."

 

 

Matriks — Kenalan Dulu, Yuk!

Haii semuanya! ๐Ÿ‘‹ Kalau kamu baru masuk SMA atau lagi belajar matematika tingkat lanjut, pasti udah mulai denger kata "matriks" d...