Terjemah kitab Al-Mawa'izhul Ushfuriyyah (الْمَوَاعِظُ الْعُصْفُوْرِيَّةُ)
اَلْحَدِيْثُ
التَّاسِعَ عَشَرَ
Hadits
Kesembilan Belas.
عَنْ
عَلِيِّ بْنِ أَبِيْ طَالِبٍ كَرَّمَ اللّٰهُ وَجْهَهُ قَالَ: بَيْنَمَا نَحْنُ
مَعَ رَسُوْلِ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ تَعَالٰى عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيْ أَوَّلِ
الْإِسْلَامِ إِذْ وَرَدَ عَلَيْنَا رَجُلٌ عَلٰى نَاقَةٍ وَقَدْ أَثَّرَ
السَّيْرُ فِيْهِ وَفِيْهَا وَبَانَ عَلَيْهِ عَنَاءُ السَّفَرِ. فَوَقَفَ
عَلَيْنَا فَقَالَ: أَيُّكُمْ مُحَمَّدٌ؟
Dari Ali bin Abi Tholib karramallõhu
wajhah, ia berkata: Tatkala kami sedang bersama Rosululloh ﷺ di masa awal Islam, tiba-tiba datang
kepada kami seorang lelaki yang menunggangi unta. Bekas perjalanan jauh tampak
jelas pada dirinya dan juga pada untanya, serta terlihat jelas kelelahan safar
(perjalanan jauh) padanya. Ia pun berhenti di hadapan kami lalu bertanya: "Siapakah
di antara kalian yang bernama Muhammad?"
فَأَوْمَأْنَا
إِلَى النَّبِيِّ عَلَيْهِ السَّلَامُ فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ أَتُعْرِضُ عَلَيَّ
مَا أَمَرَكَ بِهِ رَبُّكَ أَوْ أَعْرِضُ عَلَيْكَ مَا أَمَرَنِيْ بِهِ صَنَمِيْ؟
Maka kami pun memberi isyarat kepada
Nabi ﷺ.
Lelaki itu kemudian berkata: "Wahai Muhammad, apakah engkau yang akan
menawarkan kepadaku apa yang diperintahkan Tuhanmu kepadamu, atau aku yang akan
menawarkan kepadamu apa yang diperintahkan berhalaku kepadaku?"
فَقَالَ
لَهُ النَّبِيُّ عَلَيْهِ السَّلَامُ: بَلْ أُخْبِرُكَ بِمَا أَمَرَنِيْ بِهِ
رَبِّيْ.
Maka Nabi ﷺ bersabda kepadanya: "Bahkan, aku
akan mengabarkan kepadamu apa yang diperintahkan Tuhanku kepadaku."
قَالَ:
فَعَرَضَ النَّبِيُّ عَلَيْهِ السَّلَامُ، فَقَالَ: بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلٰى
خَمْسٍ مَعَ شَرَائِطِهِ.
Ali berkata: "Lalu Nabi ﷺ memaparkannya (menjelaskan agama Islam),
dan beliau bersabda: Islam dibangun di atas lima perkara beserta
syarat-syaratnya."
ثُمَّ
قَالَ: يَا مُحَمَّدُ أَنَا غَسَّانُ بْنُ مَالِكٍ الْعَامِرِيُّ، وَكَانَ لَنَا
صَنَمٌ نَذْبَحُ عِنْدَهُ فِيْ رَجَبٍ عَتِيْرَتَنَا وَنَتَقَرَّبُ إِلَيْهِ
بِذَبْحِنَا. فَعَتَرَ عِنْدَهُ عَتِيْرَةَ رَجُلٍ مِنَّا يُقَالُ لَهُ عِصَامٌ.
فَلَمَّا رَفَعَ يَدَهُ مِنَ الْعَتِيْرَةِ سَمِعَ صَوْتًا مِنْ جَوْفِ الصَّنَمِ:
يَا عِصَامُ جَاءَ الْإِسْلَامُ وَبَطَلَتِ الْأَصْنَامُ وَحُفِظَتِ الدِّمَاءُ
وَوُصِلَتِ الْأَرْحَامُ وَظَهَرَتِ الْحَقِيْقَةُ وَالْإِسْلَامُ.
Kemudian lelaki itu berkata: "Wahai
Muhammad, aku adalah Ghossan bin Malik al-Amiri. Kami dahulu memiliki
sebuah berhala, yang mana kami biasa menyembelih hewan kurban ('atiroh)
di sisinya pada bulan Rojab dan mendekatkan diri kepadanya dengan sembelihan
kami tersebut. Lalu, seorang lelaki dari kaum kami yang bernama Ishom
menyembelih seekor hewan di sana. Tatkala ia mengangkat tangannya dari
sembelihan itu, ia mendengar suara dari dalam rongga berhala: 'Wahai Ishom,
Islam telah datang, berhala-berhala telah binasa, darah terlindungi (suci),
silaturrahmi tersambung, serta kebenaran dan Islam telah nampak.'
فَفَرِحَ
عِصَامٌ لِذٰلِكَ وَخَرَجَ يُخْبِرُنَا، ثُمَّ رَفَعَ إِلَيْنَا خَبَرَكَ. يَا
رَسُوْلَ اللّٰهِ فَلَمَّا كَانَ بَعْدَ أَيَّامٍ عَتَرَ عِنْدَهُ رَجُلٌ يُقَالُ
لَهُ طَارِقٌ. فَلَمَّا رَفَعَ يَدَهُ عَنِ الْعَتِيْرَةِ سَمِعَ صَوْتًا يَقُوْلُ
مِنْ جَوْفِهِ: يَا طَارِقُ بُعِثَ النَّبِيُّ الصَّادِقُ وَجِيْءَ بِوَحْيٍ
نَاطِقٍ مِنَ الْعَزِيْزِ الْخَالِقِ.
Maka Ishom merasa gembira karena hal
itu dan ia keluar mengabari kami, kemudian berita tentangmu sampai kepada kami.
Wahai Rosululloh, beberapa hari setelah itu, seorang lelaki bernama Thoriq
juga menyembelih hewan di sana. Tatkala ia mengangkat tangannya dari
sembelihan, ia mendengar suara dari dalam rongga berhala itu berkata: 'Wahai
Thoriq, telah diutus Nabi yang jujur, dan telah datang wahyu yang berbicara
dari Al-Aziz Al-Kholiq (Alloh Yang Maha Perkasa lagi Maha Pencipta).'
فَخَرَجَ
يَصِيْحُ فِي النَّاسِ بِذٰلِكَ. فَقَوِيَتْ أَخْبَارُكَ عِنْدَنَا يَا رَسُوْلَ
اللّٰهِ. فَكُنَّا بَيْنَ الْمُكَذِّبِ وَالْمُصَدِّقِ.
Ia (Thoriq) pun keluar meneriakkan hal
itu kepada orang-orang, sehingga berita tentangmu semakin kuat di tengah kami,
wahai Rosululloh. Namun, saat itu kami masih berada di antara yang mendustakan
dan yang membenarkan.
وَلَمَّا
كَانَ مُنْذُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ عَتَرْتُ أَنَا عَتِيْرَةً إِلٰى ذٰلِكَ
الصَّنَمِ. فَلَمَّا رَفَعْتُ يَدِيْ مِنْهَا سَمِعْتُ صَوْتًا عَالِيًا مِنْ
جَوْفِ الصَّنَمِ يَقُوْلُ بِلِسَانٍ فَصِيْحٍ: يَا غَسَّانُ بْنُ مَالِكٍ
الْعَامِرِيُّ جَاءَ الْحَقُّ نَبِيًّا هَاشِمِيًّا بِتِهَامَةَ، لِنَاصِرِيْهِ
السَّلَامَةُ وَلِخَاذِلِيْهِ النَّدَامَةُ، هَادِيًا وَدَاعِيًا إِلٰى يَوْمِ
الْقِيَامَةِ. ثُمَّ ارْتَفَعَ مِنَ الْأَرْضِ وَسَقَطَ عَلٰى وَجْهِهِ.
Hingga tiga hari yang lalu, aku
sendiri menyembelih hewan kurban di hadapan berhala tersebut. Saat aku
mengangkat tanganku, aku mendengar suara lantang dari dalam rongga berhala yang
berkata dengan lisan yang fasih: 'Wahai Ghossan bin Malik al-Amiri, telah
datang kebenaran melalui seorang Nabi dari bani Hasyim di negeri Tihamah. Bagi
para penolongnya adalah [beroleh] keselamatan, dan bagi yang menghinakannya
adalah [beroleh] penyesalan. Ia adalah pemberi petunjuk dan penyeru hingga hari
kiamat.' Setelah itu, berhala tersebut terangkat dari tanah dan jatuh
tersungkur di atas wajahnya."
قَالَ:
فَكَبَّرَ رَسُوْلُ اللّٰهِ وَكَبَّرَ أَصْحَابُهُ مَعَهُ. وَقَالَ غَسَّانُ:
وَقَدْ قُلْتُ ثَلَاثَةَ أَبْيَاتٍ مِنَ الشِّعْرِ، أَفَتَأْذَنُ لِيْ يَا
رَسُوْلَ اللّٰهِ أَنْ أُنْشِدَهَا؟ فَأَذِنَ لَهُ رَسُوْلُ اللّٰهِ ﷺ.
Ali berkata: "Maka Rosululloh ﷺ bertakbir, dan para sahabat pun ikut
bertakbir bersama beliau." Lalu Ghossan berkata: "Aku telah
menggubah tiga bait syair, apakah engkau mengizinkanku untuk melantunkannya
wahai Rosululloh?" Maka Rosululloh ﷺ pun mengizinkannya. [Setelah mendapatkan
izin dari Rosululloh ﷺ,
Ghossan pun melantunkan bait-bait berikut]:
أَسْرَعُ
سَيْرَنَا فِيْ طَلَبٍ بِسَهْلٍ ۞ وَحَزْنٍ فِيْ بِلَادٍ مِنَ الرَّمْلِ
لِأَنْصُرَ
خَيْرَ النَّاسِ نَصْرًا مُؤَزَّرًا ۞ وَأَعْقِدَ حَبْلًا مِنْ حِبَالِكَ فِيْ
حَبْلِيْ
وَأَشْهَدُ
أَنَّ اللّٰهَ حَقٌّ مُوَحَّدًا ۞ وَهٰذَا أَدِيْنُ بِهِ مَا نَقَلَتْ قَدَمِيْ
نَعْلِيْ
Aku
percepat langkah perjalananku mencari (petunjuk), Melewati dataran rendah ۞ dan perbukitan di negeri berpasir.
Demi
menolong sebaik-baik manusia dengan pertolongan yang kokoh, ۞ Dan
mengikatkan tali (setia)-ku pada tali (agama)-mu.
Aku
bersaksi bahwa Alloh adalah Al-Haq (Maha Benar) lagi Maha Esa, ۞ Inilah
agama yang kupeluk selama langkah kakiku masih berpijak pada alasnya.
قَالَ:
وَأَوَّلُ مَنْ أَسْلَمَ بَعْدَ الْوَحْيِ خَدِيْجَةُ، ثُمَّ أَبُوْ بَكْرٍ، ثُمَّ
عَلِيٌّ، ثُمَّ زَيْدُ بْنُ حَارِثَةَ، ثُمَّ قَمَرِيَّةُ جَارِيَةٌ، ثُمَّ
حَمْزَةُ، ثُمَّ زُهَيْرٌ، ثُمَّ أَبُوْ عُبَيْدَةَ بْنُ الْجَرَّاحِ، ثُمَّ
طَلْحَةُ، ثُمَّ الزُّبَيْرُ، رِضْوَانُ اللّٰهِ تَعَالٰى عَلَيْهِمْ
أَجْمَعِيْنَ. وَأَسْلَمُوْا وَكَتَمُوْا إِسْلَامَهُمْ مِنَ الْكُفَّارِ.
Ali berkata: Orang pertama yang
memeluk agama Islam setelah turunnya wahyu adalah Khodijah, kemudian Abu
Bakar, kemudian Ali, kemudian Zaid bin Haritsah, kemudian Qomariyyah
(seorang hamba sahaya perempuan), kemudian Hamzah, kemudian Zuhair,
kemudian Abu Ubaidah bin al-Jarroh, kemudian Tholhah, kemudian az-Zubair
— semoga rida Alloh Ta'ala senantiasa menyertai mereka semua. Mereka
memeluk Islam namun [pada awalnya] menyembunyikan keislaman mereka dari kaum
kafir.
ثُمَّ
نَزَلَ جِبْرَائِيْلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ إِنَّ اللّٰهَ
تَعَالٰى يَقْرَؤُكَ السَّلَامَ وَيَأْمُرُكَ بِأَنْ تَدْعُوَ النَّاسَ إِلَى
الْإِسْلَامِ.
Kemudian malaikat Jibril 'alaihissalam
turun dan berkata: "Wahai Muhammad, sesungguhnya Alloh Ta'ala
menyampaikan salam kepadamu dan memerintahkanmu untuk menyeru manusia kepada
Islam."
فَقَامَ
النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ فَصَعِدَ عَلٰى جَبَلِ أَبِيْ
قُبَيْسٍ فَنَادٰى بِأَعْلٰى صَوْتِهِ فَقَالَ: «قُوْلُوْا لَا إِلٰهَ إِلَّا
اللّٰهُ مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللّٰهِ».
Maka Nabi ﷺ segera bangkit dan mendaki Gunung Abu
Qubais. Beliau menyeru dengan suara yang selantang mungkin: "Katakanlah:
Lā ilāha illallōh, Muhammadur Rasūlullōh (Tiada Tuhan selain Alloh,
Muhammad adalah utusan Alloh)."
فَلَمَّا
سَمِعَ النَّاسُ نِدَاءَهُ اجْتَمَعَتِ الْكُفَّارُ فِيْ دَارِ النَّدْوَةِ
فَتَشَاوَرُوْا فِيْمَا بَيْنَهُمْ، فَقَالُوْا: إِنَّ مُحَمَّدًا يَشْتِمُ
آلِهَتَنَا وَيَدْعُوْنَا إِلٰى إِلٰهٍ لَا نَعْلَمُهُ، فَكَيْفَ الْحِيْلَةُ؟
يَقُوْلُ مُحَمَّدٌ: لَا تَعْبُدُوْا آلِهَتَكُمْ وَهِيَ ثَلَاثُمِائَةٍ
وَسِتُّوْنَ صَنَمًا إِلَّا اللّٰهَ الْوَاحِدَ الْقَهَّارَ.
Ketika orang-orang mendengar seruan
beliau, berkumpullah kaum kafir di Darun Nadwah (tempat berkumpulnya
para pemuka Quraisy untuk mengambil keputusan penting, semacam lembaga
legislatif atau ruang sidang pada masa itu). Mereka bermusyawarah satu sama
lain dan berkata: "Sesungguhnya Muhammad telah mencaci maki tuhan-tuhan
kita dan menyeru kita kepada Tuhan yang tidak kita kenal. Maka bagaimana strategi
[menghadapinya]? Muhammad berkata: Janganlah kalian menyembah tuhan-tuhan
kalian—yang berjumlah 360 berhala itu—kecuali kepada Alloh Yang Maha Esa lagi
Maha Perkasa."
وَمِنْهُمْ
شَيْبَةُ بْنُ رَبِيْعَةَ، وَالْوَلِيْدُ بْنُ الْحَارِثِ، وَصَفْوَانُ بْنُ
أُمَيَّةَ، وَكَعْبُ بْنُ الْأَشْرَفِ، وَأَسْوَدُ بْنُ عَبْدِ يَغُوْثَ، وَصَخْرُ
بْنُ الْحَارِثِ، وَكِنَانَةُ بْنُ رَبِيْعٍ، وَهُمْ كُفَّارُ مَكَّةَ،
وَهٰؤُلَاءِ رُؤَسَاءُ الْكُفَّارِ. قَالُوْا: يَدْعُوْنَا إِلٰى إِلٰهٍ لَا
نَعْرِفُهُ وَلَمْ يَشْتِمْ آلِهَتَنَا.
Di antara mereka yang hadir adalah
Syaibah bin Robi'ah, Al-Walid bin al-Harits, Shofwan bin Umayyah, Ka'ab bin
al-Asyrof, Aswad bin Abdu Yaghuts, Sakhr bin al-Harits, dan Kinanah bin Robi'.
Mereka semua adalah orang-orang kafir Makkah dan para pemuka kaum kafir. Mereka
berkata: "Ia menyeru kita kepada Tuhan yang tidak kita kenali dan ia tidak
mencaci maki tuhan-tuhan kita."
فَقَامَ
وَاحِدٌ مِنْهُمْ وَهُوَ يَقُوْلُ: يُرِيْدُ مُحَمَّدٌ فِيْ ذٰلِكَ مَالًا، فَلَمْ
يَلْتَفِتُوْا إِلَيْهِ وَقَالُوْا: هُوَ سَاحِرٌ كَذَّابٌ.
Salah satu dari mereka berdiri dan
berkata: "Muhammad hanya menginginkan harta dengan cara ini."
Namun, mereka tidak menggubris pendapat itu dan berkata: "Dia adalah
seorang penyihir lagi pendusta."
ثُمَّ
قَالُوْا لِلْوَلِيْدِ: مَا تَقُوْلُ أَنْتَ؟ قَالَ: مَا أَقُوْلُ فِيْ هٰذَا
الْأَمْرِ شَيْئًا، فَنَسَبُوْهُ إِلَيْهِ، فَأَخَذَهُ الْغَضَبُ جِدًّا، فَقَالَ
الْوَلِيْدُ: أَمْهِلُوْنِيْ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ.
Kemudian mereka bertanya kepada
Al-Walid [bin al-Mughiroh]: "Apa pendapatmu?" Ia menjawab: "Aku
tidak bisa mengatakan apa-apa dalam urusan ini." Maka mereka pun
mendesak dan menisbatkan urusan itu kepadanya [agar ia memberi Keputusan],
hingga Al-Walid merasa sangat marah. Lalu Al-Walid berkata: "Berilah
aku waktu selama tiga hari [untuk berpikir]."
وَكَانَ
لَهُ صَنَمَانِ مُتَّخَذَانِ مِنْ جَوَاهِرَ وَمِنْ ذَهَبٍ وَفِضَّةٍ
وَبِأَنْوَاعِ اللُّؤْلُؤِ، مَوْضُوْعَانِ عَلَى الْكُرْسِيِّ، وَأُلْبِسَ
عَلَيْهِمَا أَلْوَانَ الثِّيَابِ، فَعَبَدَهُمَا ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ
وَلَيَالِيْهِنَّ مُتَوَالِيَاتٍ، وَمَا أَكَلَ وَمَا شَرِبَ وَذَهَبَ إِلٰى
بَيْتِهِ وَأَوْلَادِهِ، وَتَضَرَّعَ إِلَيْهِمَا.
Al-Walid memiliki dua buah berhala
yang terbuat dari permata, emas, dan perak, serta dihiasi dengan berbagai jenis
mutiara. Keduanya diletakkan di atas kursi (singgasana) dan dipakaikan berbagai
macam pakaian berwarna-warni. Ia menyembah kedua berhala itu selama tiga hari
tiga malam berturut-turut tanpa makan dan minum. Ia meninggalkan rumah dan
anak-anaknya demi bersujud dan meratap di hadapan kedua berhala tersebut.
وَفِي
الْيَوْمِ الثَّالِثِ قَالَ: بِحَقِّ مَا عَبَدْتُكُمَا ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ هٰذِهِ
الْعِبَادَةَ أَنْ تَتَكَلَّمَا وَتُخْبِرَانَا مِنْ أَمْرِ مُحَمَّدٍ. فَدَخَلَ
الشَّيْطَانُ فِيْ فَمِ الصَّنَمِ وَتَحَرَّكَ وَتَكَلَّمَ وَقَالَ: إِنَّ
مُحَمَّدًا لَيْسَ بِنَبِيٍّ فَلَا تُصَدِّقُوْهُ.
Pada hari ketiga, Al-Walid berkata: "Demi
hak penyembahanku kepada kalian berdua selama tiga hari ini, berbicaralah dan
beritahukanlah kepada kami tentang urusan Muhammad!" Maka setan pun
masuk ke dalam mulut berhala itu, lalu berhala itu dapat bergerak dan
berbicara: "Sesungguhnya Muhammad bukanlah seorang Nabi, maka janganlah
kalian membenarkannya!"
فَفَرِحَ
الْوَلِيْدُ وَخَرَجَ وَأَخْبَرَ الْكُفَّارَ عَنْ مَقَالَةِ الصَّنَمِ،
وَكُفَّارُ مَكَّةَ اجْتَمَعُوْا عِنْدَ الْوَلِيْدِ وَقَالُوْا: يَنْبَغِيْ لَنَا
أَنْ نَتَكَلَّمَ عَنْ مُحَمَّدٍ.
Mendengar hal itu, Al-Walid merasa
sangat gembira. Ia keluar dan mengabarkan ucapan berhala tersebut kepada kaum
kafir. Para pembesar kafir Makkah pun berkumpul di kediaman Al-Walid dan
berkata: "Kini saatnya kita membicarakan tentang Muhammad."
فَلَمَّا
سَمِعَ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ مَقَالَتَهُمْ اغْتَمَّ
بِذٰلِكَ. فَنَزَلَ جِبْرِيْلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ وَيْلٌ
لِمَنْ اِصْطَنَعَ هٰذِهِ الْمَقَالَةَ ـ يَعْنِيْ الْوَلِيْدَ. فَلَمَّا سَمِعَ
الْوَلِيْدُ هٰذِهِ الْمَقَالَةَ ضَحِكَ وَقَالَ: لَا أُبَالِيْ.
Ketika Nabi ﷺ mendengar ucapan mereka, beliau merasa
sedih. Maka Malaikat Jibril 'alaihissalam turun dan berkata: "Wahai
Muhammad, celakalah bagi orang yang mengada-adakan ucapan ini—maksudnya
[celakalah] Al-Walid." Namun, ketika Al-Walid mendengar peringatan
ini, ia justru tertawa dan berkata: "Aku tidak peduli."
فَاجْتَمَعُوْا
فَوَضَعُوْا بَيْنَ أَيْدِيْهِمْ صَنَمًا يُسَمّٰى هُبَلًا، فَطَرَحُوْا عَلَيْهِ
أَلْوَانَ الثِّيَابِ وَسَجَدُوْا لَهُ. فَدَعَا النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ
وَالسَّلَامُ، وَجَاءَ مَعَ عَبْدِ اللّٰهِ بْنِ مَسْعُوْدٍ، فَجَلَسَا
عِنْدَهُمْ، فَدَخَلَ الشَّيْطَانُ فِيْ بَطْنِ الصَّنَمِ، وَاسْمُ الشَّيْطَانِ
كَانَ مُسْفِرًا، فَهَجَا النَّبِيَّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ فِيْ
بَطْنِ الصَّنَمِ.
Kaum kafir kemudian berkumpul dan
meletakkan di hadapan mereka sebuah berhala yang bernama Hubal. Mereka
menghiasinya dengan berbagai kain warna-warni dan bersujud kepadanya. Nabi ﷺ kemudian datang bersama Abdulloh bin
Mas'ud dan duduk di dekat mereka. Saat itu, setan masuk ke dalam perut berhala
tersebut. Setan itu bernama Musfir. Dari dalam perut berhala, setan itu
melontarkan cacian dan hinaan kepada Nabi ﷺ.
فَلَمَّا
سَمِعَ عَبْدُ اللّٰهِ بْنُ مَسْعُوْدٍ رَضِيَ اللّٰهُ تَعَالٰى عَنْهُ تَحَيَّرَ
وَقَالَ: يَا رَسُوْلَ اللّٰهِ مَا يَقُوْلُ هٰذَا الصَّنَمُ؟ فَقَالَ: يَا عَبْدَ
اللّٰهِ لَا تَخَفْ مِنْ هٰذَا فَإِنَّهُ شَيْطَانٌ.
Ketika Abdulloh bin Mas'ud radhiyallohu
'anhu mendengarnya, ia merasa bingung dan bertanya: "Wahai Rosululloh,
apa yang dikatakan oleh berhala ini?" Nabi ﷺ menjawab: "Wahai Abdulloh,
janganlah engkau takut kepadanya, sesungguhnya itu adalah setan."
فَانْصَرَفَ
النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ فَاسْتَقْبَلَهُ فِي الطَّرِيْقِ
فَارِسٌ وَعَلَيْهِ ثِيَابٌ خُضْرٌ، فَنَزَلَ عَنْ فَرَسِهِ فَسَلَّمَ عَلَى
النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ فَأَجَابَهُ، فَقَالَ: مَنْ أَنْتَ
يَا رَاكِبُ؟ قَدْ أَعْجَبَنِيْ سَلَامُكَ عَلَيَّ.
Nabi ﷺ kemudian
beranjak pergi. Di tengah jalan, beliau berpapasan dengan seorang penunggang
kuda yang mengenakan pakaian berwarna hijau. Penunggang itu turun dari kudanya
lalu mengucapkan salam kepada Nabi ﷺ. Beliau pun menjawab salamnya dan
bertanya: "Siapakah engkau, wahai penunggang kuda? Sungguh, ucapan
salammu kepadaku telah membuatku terkesan."
فَقَالَ
لَهُ: أَنَا مِنْ أَبْنَاءِ الْجِنِّ، قَدْ أَسْلَمْتُ فِيْ زَمَانِ نُوْحٍ
عَلَيْهِ السَّلَامُ، وَلٰكِنِّيْ كُنْتُ غَائِبًا عَنْ وَطَنِيْ. فَلَمَّا
قَدِمْتُ وَجَدْتُ أَهْلِيْ بَاكِيَةً، فَسَأَلْتُهَا، فَقَالَتْ لِيْ: أَمَا
تَرٰى أَنَّ مُسْفِرًا صَنَعَ مَا صَنَعَ مَعَ مُحَمَّدٍ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ
وَالسَّلَامُ؟
Penunggang kuda itu menjawab:
"Aku adalah salah satu dari bangsa jin. Aku telah memeluk Islam sejak
zaman Nabi Nuh 'alaihissalam. Namun, selama ini aku pergi jauh dari
tanah airku. Ketika aku pulang, aku mendapati keluargaku sedang menangis. Aku
bertanya kepada mereka [apa yang terjadi], lalu istriku menjawab: 'Tidakkah
engkau tahu apa yang telah dilakukan setan Musfir terhadap Muhammad ﷺ?'"
فَلَمَّا
سَمِعْتُ ذَهَبْتُ عَلٰى أَثَرِهِ فَقَتَلْتُهُ بَيْنَ الصَّفَا وَالْمَرْوَةِ،
وَهٰذَا دَمُهُ عَلَى سَيْفِيْ، وَرَأْسُهُ فِي الْمِخْلَاةِ، وَبَدَنُهُ
مَطْرُوْحٌ بَيْنَ الصَّفَا وَالْمَرْوَةِ، وَصُوْرَتُهُ مِثْلُ صُوْرَةِ
الْكَلْبِ مَقْطُوْعُ الرَّأْسِ.
"Begitu mendengarnya, aku segera pergi
mengejarnya hingga aku berhasil membunuhnya di antara Sofa dan Marwah.
Inilah bekas darahnya yang masih menempel pada pedangku, dan kepalanya ada di
dalam kantong pelanaku (mikhlat), sementara jasadnya tergeletak di
antara Sofa dan Marwah. Rupa [asli]-nya menyerupai rupa seekor anjing yang
terputus kepalanya."
فَسَرَّ
النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ فَدَعَا لَهُ بِالْخَيْرِ، ثُمَّ
قَالَ: مَا اسْمُكَ؟ قَالَ: اسْمِيْ مَهْبَرُ بْنُ عَبْهَرَ، وَمُقَامِيْ عَلٰى
جَبَلِ طُوْرِ سَيْنَاءَ.
Nabi ﷺ merasa gembira [mendengar kabar tersebut]
lalu mendoakan kebaikan baginya. Beliau bertanya: "Siapakah
namamu?" Ia menjawab: "Namaku adalah Mahbar bin Abhar,
dan tempat tinggalku di Gunung Thursina."
ثُمَّ
قَالَ: أَتَأْمُرُنِيْ يَا رَسُوْلَ اللّٰهِ أَنْ أَهْجُوَ الْكُفَّارَ فِيْ فَمِ
أَصْنَامِهِمْ كَمَا هَجَاكَ مُسْفِرٌ؟ فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ عَلَيْهِ
الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ: اِفْعَلْ.
Kemudian ia berkata: "Wahai Rosululloh,
apakah engkau memerintahkanku untuk membalas cercaan kaum kafir melalui mulut
berhala-berhala mereka, sebagaimana Musfir dahulu mencacimu?" Nabi ﷺ menjawab: "Lakukanlah."
ثُمَّ
اجْتَمَعَ الْكُفَّارُ فِي الْيَوْمِ الثَّانِيْ، فَدَعَوُا النَّبِيَّ عَلَيْهِ
الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ، فَوَضَعُوْا هُبَلًا بَيْنَ أَيْدِيْهِمْ، وَطَرَحُوْا
عَلَيْهِ أَلْوَانَ الثِّيَابِ، فَسَجَدُوْا لَهُ وَتَضَرَّعُوْا إِلَيْهِ كَمَا
فَعَلُوْا فِي الْيَوْمِ الْأَوَّلِ. فَقَالُوْا: يَا هُبَلُ أَقِرَّ الْيَوْمَ
أَعْيُنَنَا بِهِجَاءِ مُحَمَّدٍ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ.
Keesokan harinya, kaum kafir kembali
berkumpul dan mengundang Nabi ﷺ. Mereka meletakkan berhala Hubal di hadapan mereka,
menghiasinya dengan berbagai kain warna-warni, lalu bersujud dan meratap
kepadanya sebagaimana yang mereka lakukan pada hari pertama. Mereka memohon: "Wahai
Hubal, sejukkanlah mata kami hari ini dengan [mendengar] cercaan terhadap
Muhammad!"
فَقَالَ
هُبَلُ: يَا أَهْلَ مَكَّةَ اعْلَمُوْا أَنَّ هٰذَا نَبِيٌّ حَقٌّ وَدِيْنُهُ
حَقٌّ، وَمُحَمَّدٌ يَدْعُوْكُمْ إِلَى الْحَقِّ، وَأَنْتُمْ وَصَنَمُكُمْ عَلٰى
بَاطِلٍ، فَإِنْ لَمْ تُؤْمِنُوْا بِهِ وَلَمْ تُصَدِّقُوْهُ تَكُوْنُوْا فِيْ
نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِيْنَ فِيْهَا أَبَدًا، فَصَدِّقُوْا مُحَمَّدًا وَهُوَ
نَبِيُّ اللّٰهِ وَخَيْرُ خَلْقِهِ.
Namun, tiba-tiba Hubal berbicara: "Wahai
penduduk Makkah, ketahuilah bahwa pria ini adalah Nabi yang membawa kebenaran,
agamanya adalah kebenaran, dan Muhammad menyeru kalian menuju Al-Haq
(Kebenaran). Sedangkan kalian dan berhala kalian berada di atas kebatilan! Jika
kalian tidak beriman dan tidak membenarkannya, niscaya kalian akan kekal di
dalam api neraka Jahanam selama-lamanya. Maka benarkanlah Muhammad, karena ia
adalah Nabi Alloh dan sebaik-baik makhluk-Nya!"
فَقَامَ
أَبُوْ جَهْلٍ عَلَيْهِ اللَّعْنَةُ، وَأَخَذَ الصَّنَمَ وَضَرَبَهُ عَلَى
الْأَرْضِ وَكَسَّرَهُ وَأَحْرَقَهُ بِالنَّارِ.
Maka berdirilah Abu Jahal —laknat Alloh
atasnya— lalu ia mengambil berhala (Hubal) tersebut, membantingnya ke tanah
hingga hancur, kemudian membakarnya dengan api.
فَانْصَرَفَ
النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ إِلٰى دَارِهِ مَسْرُوْرًا، ثُمَّ
سَمَّاهُ عَبْدَ اللّٰهِ بْنَ عَبْهَرَ. وَأَنْشَأَ الشِّعْرَ فِيْ قَتْلِ مُسْفِرٍ
يَقُوْلُ:
Nabi ﷺ pun pulang ke rumah beliau dengan perasaan
gembira. Kemudian beliau menamai [jin tersebut] dengan nama Abdulloh bin
Abhar (sebelumnya bernama Mahbar). Abdulloh bin Abhar pun menggubah syair
mengenai keberhasilannya membunuh setan Musfir, ia berkata:
أَنَا
عَبْدُ اللّٰهِ بْنُ عَبْهَرَا ۞ إِنِّيْ قَتَلْتُ ذَا الْفُجُوْرِ مُسْفِرَا
هَمَمْتُهُ
بِضَرْبِ سَيْفِيْ مُنْكَرًا ۞ لَدَى الصَّفَا وَالْمَرْوَةِ لَمَّا طَغٰى
وَاسْتَكْبَرَا
وَخَالَفَ
الْحَقَّ وَقَالَ مُنْكَرًا ۞ بِشَتْمِهِ نَبِيَّهُ الْمُطَهَّرَا
وَاللَّهِ
لَا أَبْرَحُ حَتّٰى يُنْصَرَا ۞ وَيَظْهَرَ الْإِسْلَامُ حَتّٰى يُقَرَّرَا
أَوْ
يُذَلَّ فِيْهِ كُلُّ مَنْ تَكَبَّرَا ۞ كُلُّ يَهُوْدِيٍّ وَمَنْ تَنَصَّرَا ۞ جُنُودُ
كِسْرٰى وَمُلُوْكُ قَيْصَرَا
Akulah
Abdulloh bin Abhar, ۞ Sungguh
telah kubunuh si pelaku fujur (maksiat), setan Musfir.
Aku
berniat menebasnya dengan pedangku sebagai bentuk pengingkaran. ۞ Di
dekat Sofa dan Marwah saat ia melampaui batas dan menyombongkan diri.
Ia
menyalahi kebenaran dan mengucapkan kemungkaran. ۞ Dengan
mencaci Nabinya Alloh yang disucikan.
Demi Alloh,
aku tidak akan berhenti hingga beliau (Nabi) dimenangkan. ۞ Dan
Islam tampak nyata hingga ia teguh menetap.
Atau
hingga dihinakan di dalamnya setiap orang yang sombong, ۞ Baik
dari kalangan Yahudi maupun Nasrani.
۞ (Juga) bala tentara Kisra (raja
Persia) dan raja-raja Kaisar (raja Romawi).