Tuesday, March 24, 2026

Mahbar bin Abhar, Jin Pembela Nabi

 Terjemah kitab Al-Mawa'izhul Ushfuriyyah (الْمَوَاعِظُ الْعُصْفُوْرِيَّةُ)

 

اَلْحَدِيْثُ التَّاسِعَ عَشَرَ

Hadits Kesembilan Belas.

 

عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِيْ طَالِبٍ كَرَّمَ اللّٰهُ وَجْهَهُ قَالَ: بَيْنَمَا نَحْنُ مَعَ رَسُوْلِ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ تَعَالٰى عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيْ أَوَّلِ الْإِسْلَامِ إِذْ وَرَدَ عَلَيْنَا رَجُلٌ عَلٰى نَاقَةٍ وَقَدْ أَثَّرَ السَّيْرُ فِيْهِ وَفِيْهَا وَبَانَ عَلَيْهِ عَنَاءُ السَّفَرِ. فَوَقَفَ عَلَيْنَا فَقَالَ: أَيُّكُمْ مُحَمَّدٌ؟

Dari Ali bin Abi Tholib karramallõhu wajhah, ia berkata: Tatkala kami sedang bersama Rosululloh di masa awal Islam, tiba-tiba datang kepada kami seorang lelaki yang menunggangi unta. Bekas perjalanan jauh tampak jelas pada dirinya dan juga pada untanya, serta terlihat jelas kelelahan safar (perjalanan jauh) padanya. Ia pun berhenti di hadapan kami lalu bertanya: "Siapakah di antara kalian yang bernama Muhammad?"

 

فَأَوْمَأْنَا إِلَى النَّبِيِّ عَلَيْهِ السَّلَامُ فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ أَتُعْرِضُ عَلَيَّ مَا أَمَرَكَ بِهِ رَبُّكَ أَوْ أَعْرِضُ عَلَيْكَ مَا أَمَرَنِيْ بِهِ صَنَمِيْ؟

Maka kami pun memberi isyarat kepada Nabi . Lelaki itu kemudian berkata: "Wahai Muhammad, apakah engkau yang akan menawarkan kepadaku apa yang diperintahkan Tuhanmu kepadamu, atau aku yang akan menawarkan kepadamu apa yang diperintahkan berhalaku kepadaku?"

 

فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ عَلَيْهِ السَّلَامُ: بَلْ أُخْبِرُكَ بِمَا أَمَرَنِيْ بِهِ رَبِّيْ.

Maka Nabi bersabda kepadanya: "Bahkan, aku akan mengabarkan kepadamu apa yang diperintahkan Tuhanku kepadaku."

 

قَالَ: فَعَرَضَ النَّبِيُّ عَلَيْهِ السَّلَامُ، فَقَالَ: بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلٰى خَمْسٍ مَعَ شَرَائِطِهِ.

Ali berkata: "Lalu Nabi memaparkannya (menjelaskan agama Islam), dan beliau bersabda: Islam dibangun di atas lima perkara beserta syarat-syaratnya."

 

ثُمَّ قَالَ: يَا مُحَمَّدُ أَنَا غَسَّانُ بْنُ مَالِكٍ الْعَامِرِيُّ، وَكَانَ لَنَا صَنَمٌ نَذْبَحُ عِنْدَهُ فِيْ رَجَبٍ عَتِيْرَتَنَا وَنَتَقَرَّبُ إِلَيْهِ بِذَبْحِنَا. فَعَتَرَ عِنْدَهُ عَتِيْرَةَ رَجُلٍ مِنَّا يُقَالُ لَهُ عِصَامٌ. فَلَمَّا رَفَعَ يَدَهُ مِنَ الْعَتِيْرَةِ سَمِعَ صَوْتًا مِنْ جَوْفِ الصَّنَمِ: يَا عِصَامُ جَاءَ الْإِسْلَامُ وَبَطَلَتِ الْأَصْنَامُ وَحُفِظَتِ الدِّمَاءُ وَوُصِلَتِ الْأَرْحَامُ وَظَهَرَتِ الْحَقِيْقَةُ وَالْإِسْلَامُ.

Kemudian lelaki itu berkata: "Wahai Muhammad, aku adalah Ghossan bin Malik al-Amiri. Kami dahulu memiliki sebuah berhala, yang mana kami biasa menyembelih hewan kurban ('atiroh) di sisinya pada bulan Rojab dan mendekatkan diri kepadanya dengan sembelihan kami tersebut. Lalu, seorang lelaki dari kaum kami yang bernama Ishom menyembelih seekor hewan di sana. Tatkala ia mengangkat tangannya dari sembelihan itu, ia mendengar suara dari dalam rongga berhala: 'Wahai Ishom, Islam telah datang, berhala-berhala telah binasa, darah terlindungi (suci), silaturrahmi tersambung, serta kebenaran dan Islam telah nampak.'

 

فَفَرِحَ عِصَامٌ لِذٰلِكَ وَخَرَجَ يُخْبِرُنَا، ثُمَّ رَفَعَ إِلَيْنَا خَبَرَكَ. يَا رَسُوْلَ اللّٰهِ فَلَمَّا كَانَ بَعْدَ أَيَّامٍ عَتَرَ عِنْدَهُ رَجُلٌ يُقَالُ لَهُ طَارِقٌ. فَلَمَّا رَفَعَ يَدَهُ عَنِ الْعَتِيْرَةِ سَمِعَ صَوْتًا يَقُوْلُ مِنْ جَوْفِهِ: يَا طَارِقُ بُعِثَ النَّبِيُّ الصَّادِقُ وَجِيْءَ بِوَحْيٍ نَاطِقٍ مِنَ الْعَزِيْزِ الْخَالِقِ.

Maka Ishom merasa gembira karena hal itu dan ia keluar mengabari kami, kemudian berita tentangmu sampai kepada kami. Wahai Rosululloh, beberapa hari setelah itu, seorang lelaki bernama Thoriq juga menyembelih hewan di sana. Tatkala ia mengangkat tangannya dari sembelihan, ia mendengar suara dari dalam rongga berhala itu berkata: 'Wahai Thoriq, telah diutus Nabi yang jujur, dan telah datang wahyu yang berbicara dari Al-Aziz Al-Kholiq (Alloh Yang Maha Perkasa lagi Maha Pencipta).'

 

فَخَرَجَ يَصِيْحُ فِي النَّاسِ بِذٰلِكَ. فَقَوِيَتْ أَخْبَارُكَ عِنْدَنَا يَا رَسُوْلَ اللّٰهِ. فَكُنَّا بَيْنَ الْمُكَذِّبِ وَالْمُصَدِّقِ.

Ia (Thoriq) pun keluar meneriakkan hal itu kepada orang-orang, sehingga berita tentangmu semakin kuat di tengah kami, wahai Rosululloh. Namun, saat itu kami masih berada di antara yang mendustakan dan yang membenarkan.

 

وَلَمَّا كَانَ مُنْذُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ عَتَرْتُ أَنَا عَتِيْرَةً إِلٰى ذٰلِكَ الصَّنَمِ. فَلَمَّا رَفَعْتُ يَدِيْ مِنْهَا سَمِعْتُ صَوْتًا عَالِيًا مِنْ جَوْفِ الصَّنَمِ يَقُوْلُ بِلِسَانٍ فَصِيْحٍ: يَا غَسَّانُ بْنُ مَالِكٍ الْعَامِرِيُّ جَاءَ الْحَقُّ نَبِيًّا هَاشِمِيًّا بِتِهَامَةَ، لِنَاصِرِيْهِ السَّلَامَةُ وَلِخَاذِلِيْهِ النَّدَامَةُ، هَادِيًا وَدَاعِيًا إِلٰى يَوْمِ الْقِيَامَةِ. ثُمَّ ارْتَفَعَ مِنَ الْأَرْضِ وَسَقَطَ عَلٰى وَجْهِهِ.

Hingga tiga hari yang lalu, aku sendiri menyembelih hewan kurban di hadapan berhala tersebut. Saat aku mengangkat tanganku, aku mendengar suara lantang dari dalam rongga berhala yang berkata dengan lisan yang fasih: 'Wahai Ghossan bin Malik al-Amiri, telah datang kebenaran melalui seorang Nabi dari bani Hasyim di negeri Tihamah. Bagi para penolongnya adalah [beroleh] keselamatan, dan bagi yang menghinakannya adalah [beroleh] penyesalan. Ia adalah pemberi petunjuk dan penyeru hingga hari kiamat.' Setelah itu, berhala tersebut terangkat dari tanah dan jatuh tersungkur di atas wajahnya."

 

قَالَ: فَكَبَّرَ رَسُوْلُ اللّٰهِ وَكَبَّرَ أَصْحَابُهُ مَعَهُ. وَقَالَ غَسَّانُ: وَقَدْ قُلْتُ ثَلَاثَةَ أَبْيَاتٍ مِنَ الشِّعْرِ، أَفَتَأْذَنُ لِيْ يَا رَسُوْلَ اللّٰهِ أَنْ أُنْشِدَهَا؟ فَأَذِنَ لَهُ رَسُوْلُ اللّٰهِ ﷺ.

Ali berkata: "Maka Rosululloh bertakbir, dan para sahabat pun ikut bertakbir bersama beliau." Lalu Ghossan berkata: "Aku telah menggubah tiga bait syair, apakah engkau mengizinkanku untuk melantunkannya wahai Rosululloh?" Maka Rosululloh pun mengizinkannya. [Setelah mendapatkan izin dari Rosululloh , Ghossan pun melantunkan bait-bait berikut]:

 

أَسْرَعُ سَيْرَنَا فِيْ طَلَبٍ بِسَهْلٍ ۞ وَحَزْنٍ فِيْ بِلَادٍ مِنَ الرَّمْلِ

لِأَنْصُرَ خَيْرَ النَّاسِ نَصْرًا مُؤَزَّرًا ۞ وَأَعْقِدَ حَبْلًا مِنْ حِبَالِكَ فِيْ حَبْلِيْ

وَأَشْهَدُ أَنَّ اللّٰهَ حَقٌّ مُوَحَّدًا ۞ وَهٰذَا أَدِيْنُ بِهِ مَا نَقَلَتْ قَدَمِيْ نَعْلِيْ

Aku percepat langkah perjalananku mencari (petunjuk), Melewati dataran rendah ۞ dan perbukitan di negeri berpasir.

Demi menolong sebaik-baik manusia dengan pertolongan yang kokoh, ۞ Dan mengikatkan tali (setia)-ku pada tali (agama)-mu.

Aku bersaksi bahwa Alloh adalah Al-Haq (Maha Benar) lagi Maha Esa, ۞ Inilah agama yang kupeluk selama langkah kakiku masih berpijak pada alasnya.

 

قَالَ: وَأَوَّلُ مَنْ أَسْلَمَ بَعْدَ الْوَحْيِ خَدِيْجَةُ، ثُمَّ أَبُوْ بَكْرٍ، ثُمَّ عَلِيٌّ، ثُمَّ زَيْدُ بْنُ حَارِثَةَ، ثُمَّ قَمَرِيَّةُ جَارِيَةٌ، ثُمَّ حَمْزَةُ، ثُمَّ زُهَيْرٌ، ثُمَّ أَبُوْ عُبَيْدَةَ بْنُ الْجَرَّاحِ، ثُمَّ طَلْحَةُ، ثُمَّ الزُّبَيْرُ، رِضْوَانُ اللّٰهِ تَعَالٰى عَلَيْهِمْ أَجْمَعِيْنَ. وَأَسْلَمُوْا وَكَتَمُوْا إِسْلَامَهُمْ مِنَ الْكُفَّارِ.

Ali berkata: Orang pertama yang memeluk agama Islam setelah turunnya wahyu adalah Khodijah, kemudian Abu Bakar, kemudian Ali, kemudian Zaid bin Haritsah, kemudian Qomariyyah (seorang hamba sahaya perempuan), kemudian Hamzah, kemudian Zuhair, kemudian Abu Ubaidah bin al-Jarroh, kemudian Tholhah, kemudian az-Zubairsemoga rida Alloh Ta'ala senantiasa menyertai mereka semua. Mereka memeluk Islam namun [pada awalnya] menyembunyikan keislaman mereka dari kaum kafir.

 

ثُمَّ نَزَلَ جِبْرَائِيْلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ إِنَّ اللّٰهَ تَعَالٰى يَقْرَؤُكَ السَّلَامَ وَيَأْمُرُكَ بِأَنْ تَدْعُوَ النَّاسَ إِلَى الْإِسْلَامِ.

Kemudian malaikat Jibril 'alaihissalam turun dan berkata: "Wahai Muhammad, sesungguhnya Alloh Ta'ala menyampaikan salam kepadamu dan memerintahkanmu untuk menyeru manusia kepada Islam."

 

فَقَامَ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ فَصَعِدَ عَلٰى جَبَلِ أَبِيْ قُبَيْسٍ فَنَادٰى بِأَعْلٰى صَوْتِهِ فَقَالَ: «قُوْلُوْا لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللّٰهِ».

Maka Nabi segera bangkit dan mendaki Gunung Abu Qubais. Beliau menyeru dengan suara yang selantang mungkin: "Katakanlah: Lā ilāha illallōh, Muhammadur Rasūlullōh (Tiada Tuhan selain Alloh, Muhammad adalah utusan Alloh)."

 

فَلَمَّا سَمِعَ النَّاسُ نِدَاءَهُ اجْتَمَعَتِ الْكُفَّارُ فِيْ دَارِ النَّدْوَةِ فَتَشَاوَرُوْا فِيْمَا بَيْنَهُمْ، فَقَالُوْا: إِنَّ مُحَمَّدًا يَشْتِمُ آلِهَتَنَا وَيَدْعُوْنَا إِلٰى إِلٰهٍ لَا نَعْلَمُهُ، فَكَيْفَ الْحِيْلَةُ؟ يَقُوْلُ مُحَمَّدٌ: لَا تَعْبُدُوْا آلِهَتَكُمْ وَهِيَ ثَلَاثُمِائَةٍ وَسِتُّوْنَ صَنَمًا إِلَّا اللّٰهَ الْوَاحِدَ الْقَهَّارَ.

Ketika orang-orang mendengar seruan beliau, berkumpullah kaum kafir di Darun Nadwah (tempat berkumpulnya para pemuka Quraisy untuk mengambil keputusan penting, semacam lembaga legislatif atau ruang sidang pada masa itu). Mereka bermusyawarah satu sama lain dan berkata: "Sesungguhnya Muhammad telah mencaci maki tuhan-tuhan kita dan menyeru kita kepada Tuhan yang tidak kita kenal. Maka bagaimana strategi [menghadapinya]? Muhammad berkata: Janganlah kalian menyembah tuhan-tuhan kalian—yang berjumlah 360 berhala itu—kecuali kepada Alloh Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa."

 

وَمِنْهُمْ شَيْبَةُ بْنُ رَبِيْعَةَ، وَالْوَلِيْدُ بْنُ الْحَارِثِ، وَصَفْوَانُ بْنُ أُمَيَّةَ، وَكَعْبُ بْنُ الْأَشْرَفِ، وَأَسْوَدُ بْنُ عَبْدِ يَغُوْثَ، وَصَخْرُ بْنُ الْحَارِثِ، وَكِنَانَةُ بْنُ رَبِيْعٍ، وَهُمْ كُفَّارُ مَكَّةَ، وَهٰؤُلَاءِ رُؤَسَاءُ الْكُفَّارِ. قَالُوْا: يَدْعُوْنَا إِلٰى إِلٰهٍ لَا نَعْرِفُهُ وَلَمْ يَشْتِمْ آلِهَتَنَا.

Di antara mereka yang hadir adalah Syaibah bin Robi'ah, Al-Walid bin al-Harits, Shofwan bin Umayyah, Ka'ab bin al-Asyrof, Aswad bin Abdu Yaghuts, Sakhr bin al-Harits, dan Kinanah bin Robi'. Mereka semua adalah orang-orang kafir Makkah dan para pemuka kaum kafir. Mereka berkata: "Ia menyeru kita kepada Tuhan yang tidak kita kenali dan ia tidak mencaci maki tuhan-tuhan kita."

 

فَقَامَ وَاحِدٌ مِنْهُمْ وَهُوَ يَقُوْلُ: يُرِيْدُ مُحَمَّدٌ فِيْ ذٰلِكَ مَالًا، فَلَمْ يَلْتَفِتُوْا إِلَيْهِ وَقَالُوْا: هُوَ سَاحِرٌ كَذَّابٌ.

Salah satu dari mereka berdiri dan berkata: "Muhammad hanya menginginkan harta dengan cara ini." Namun, mereka tidak menggubris pendapat itu dan berkata: "Dia adalah seorang penyihir lagi pendusta."

 

ثُمَّ قَالُوْا لِلْوَلِيْدِ: مَا تَقُوْلُ أَنْتَ؟ قَالَ: مَا أَقُوْلُ فِيْ هٰذَا الْأَمْرِ شَيْئًا، فَنَسَبُوْهُ إِلَيْهِ، فَأَخَذَهُ الْغَضَبُ جِدًّا، فَقَالَ الْوَلِيْدُ: أَمْهِلُوْنِيْ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ.

Kemudian mereka bertanya kepada Al-Walid [bin al-Mughiroh]: "Apa pendapatmu?" Ia menjawab: "Aku tidak bisa mengatakan apa-apa dalam urusan ini." Maka mereka pun mendesak dan menisbatkan urusan itu kepadanya [agar ia memberi Keputusan], hingga Al-Walid merasa sangat marah. Lalu Al-Walid berkata: "Berilah aku waktu selama tiga hari [untuk berpikir]."

 

وَكَانَ لَهُ صَنَمَانِ مُتَّخَذَانِ مِنْ جَوَاهِرَ وَمِنْ ذَهَبٍ وَفِضَّةٍ وَبِأَنْوَاعِ اللُّؤْلُؤِ، مَوْضُوْعَانِ عَلَى الْكُرْسِيِّ، وَأُلْبِسَ عَلَيْهِمَا أَلْوَانَ الثِّيَابِ، فَعَبَدَهُمَا ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ وَلَيَالِيْهِنَّ مُتَوَالِيَاتٍ، وَمَا أَكَلَ وَمَا شَرِبَ وَذَهَبَ إِلٰى بَيْتِهِ وَأَوْلَادِهِ، وَتَضَرَّعَ إِلَيْهِمَا.

Al-Walid memiliki dua buah berhala yang terbuat dari permata, emas, dan perak, serta dihiasi dengan berbagai jenis mutiara. Keduanya diletakkan di atas kursi (singgasana) dan dipakaikan berbagai macam pakaian berwarna-warni. Ia menyembah kedua berhala itu selama tiga hari tiga malam berturut-turut tanpa makan dan minum. Ia meninggalkan rumah dan anak-anaknya demi bersujud dan meratap di hadapan kedua berhala tersebut.

 

وَفِي الْيَوْمِ الثَّالِثِ قَالَ: بِحَقِّ مَا عَبَدْتُكُمَا ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ هٰذِهِ الْعِبَادَةَ أَنْ تَتَكَلَّمَا وَتُخْبِرَانَا مِنْ أَمْرِ مُحَمَّدٍ. فَدَخَلَ الشَّيْطَانُ فِيْ فَمِ الصَّنَمِ وَتَحَرَّكَ وَتَكَلَّمَ وَقَالَ: إِنَّ مُحَمَّدًا لَيْسَ بِنَبِيٍّ فَلَا تُصَدِّقُوْهُ.

Pada hari ketiga, Al-Walid berkata: "Demi hak penyembahanku kepada kalian berdua selama tiga hari ini, berbicaralah dan beritahukanlah kepada kami tentang urusan Muhammad!" Maka setan pun masuk ke dalam mulut berhala itu, lalu berhala itu dapat bergerak dan berbicara: "Sesungguhnya Muhammad bukanlah seorang Nabi, maka janganlah kalian membenarkannya!"

 

فَفَرِحَ الْوَلِيْدُ وَخَرَجَ وَأَخْبَرَ الْكُفَّارَ عَنْ مَقَالَةِ الصَّنَمِ، وَكُفَّارُ مَكَّةَ اجْتَمَعُوْا عِنْدَ الْوَلِيْدِ وَقَالُوْا: يَنْبَغِيْ لَنَا أَنْ نَتَكَلَّمَ عَنْ مُحَمَّدٍ.

Mendengar hal itu, Al-Walid merasa sangat gembira. Ia keluar dan mengabarkan ucapan berhala tersebut kepada kaum kafir. Para pembesar kafir Makkah pun berkumpul di kediaman Al-Walid dan berkata: "Kini saatnya kita membicarakan tentang Muhammad."

 

فَلَمَّا سَمِعَ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ مَقَالَتَهُمْ اغْتَمَّ بِذٰلِكَ. فَنَزَلَ جِبْرِيْلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ وَيْلٌ لِمَنْ اِصْطَنَعَ هٰذِهِ الْمَقَالَةَ ـ يَعْنِيْ الْوَلِيْدَ. فَلَمَّا سَمِعَ الْوَلِيْدُ هٰذِهِ الْمَقَالَةَ ضَحِكَ وَقَالَ: لَا أُبَالِيْ.

Ketika Nabi mendengar ucapan mereka, beliau merasa sedih. Maka Malaikat Jibril 'alaihissalam turun dan berkata: "Wahai Muhammad, celakalah bagi orang yang mengada-adakan ucapan ini—maksudnya [celakalah] Al-Walid." Namun, ketika Al-Walid mendengar peringatan ini, ia justru tertawa dan berkata: "Aku tidak peduli."

 

فَاجْتَمَعُوْا فَوَضَعُوْا بَيْنَ أَيْدِيْهِمْ صَنَمًا يُسَمّٰى هُبَلًا، فَطَرَحُوْا عَلَيْهِ أَلْوَانَ الثِّيَابِ وَسَجَدُوْا لَهُ. فَدَعَا النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ، وَجَاءَ مَعَ عَبْدِ اللّٰهِ بْنِ مَسْعُوْدٍ، فَجَلَسَا عِنْدَهُمْ، فَدَخَلَ الشَّيْطَانُ فِيْ بَطْنِ الصَّنَمِ، وَاسْمُ الشَّيْطَانِ كَانَ مُسْفِرًا، فَهَجَا النَّبِيَّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ فِيْ بَطْنِ الصَّنَمِ.

Kaum kafir kemudian berkumpul dan meletakkan di hadapan mereka sebuah berhala yang bernama Hubal. Mereka menghiasinya dengan berbagai kain warna-warni dan bersujud kepadanya. Nabi kemudian datang bersama Abdulloh bin Mas'ud dan duduk di dekat mereka. Saat itu, setan masuk ke dalam perut berhala tersebut. Setan itu bernama Musfir. Dari dalam perut berhala, setan itu melontarkan cacian dan hinaan kepada Nabi .

 

فَلَمَّا سَمِعَ عَبْدُ اللّٰهِ بْنُ مَسْعُوْدٍ رَضِيَ اللّٰهُ تَعَالٰى عَنْهُ تَحَيَّرَ وَقَالَ: يَا رَسُوْلَ اللّٰهِ مَا يَقُوْلُ هٰذَا الصَّنَمُ؟ فَقَالَ: يَا عَبْدَ اللّٰهِ لَا تَخَفْ مِنْ هٰذَا فَإِنَّهُ شَيْطَانٌ.

Ketika Abdulloh bin Mas'ud radhiyallohu 'anhu mendengarnya, ia merasa bingung dan bertanya: "Wahai Rosululloh, apa yang dikatakan oleh berhala ini?" Nabi menjawab: "Wahai Abdulloh, janganlah engkau takut kepadanya, sesungguhnya itu adalah setan."

 

فَانْصَرَفَ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ فَاسْتَقْبَلَهُ فِي الطَّرِيْقِ فَارِسٌ وَعَلَيْهِ ثِيَابٌ خُضْرٌ، فَنَزَلَ عَنْ فَرَسِهِ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ فَأَجَابَهُ، فَقَالَ: مَنْ أَنْتَ يَا رَاكِبُ؟ قَدْ أَعْجَبَنِيْ سَلَامُكَ عَلَيَّ.

Nabi kemudian beranjak pergi. Di tengah jalan, beliau berpapasan dengan seorang penunggang kuda yang mengenakan pakaian berwarna hijau. Penunggang itu turun dari kudanya lalu mengucapkan salam kepada Nabi . Beliau pun menjawab salamnya dan bertanya: "Siapakah engkau, wahai penunggang kuda? Sungguh, ucapan salammu kepadaku telah membuatku terkesan."

 

فَقَالَ لَهُ: أَنَا مِنْ أَبْنَاءِ الْجِنِّ، قَدْ أَسْلَمْتُ فِيْ زَمَانِ نُوْحٍ عَلَيْهِ السَّلَامُ، وَلٰكِنِّيْ كُنْتُ غَائِبًا عَنْ وَطَنِيْ. فَلَمَّا قَدِمْتُ وَجَدْتُ أَهْلِيْ بَاكِيَةً، فَسَأَلْتُهَا، فَقَالَتْ لِيْ: أَمَا تَرٰى أَنَّ مُسْفِرًا صَنَعَ مَا صَنَعَ مَعَ مُحَمَّدٍ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ؟

Penunggang kuda itu menjawab: "Aku adalah salah satu dari bangsa jin. Aku telah memeluk Islam sejak zaman Nabi Nuh 'alaihissalam. Namun, selama ini aku pergi jauh dari tanah airku. Ketika aku pulang, aku mendapati keluargaku sedang menangis. Aku bertanya kepada mereka [apa yang terjadi], lalu istriku menjawab: 'Tidakkah engkau tahu apa yang telah dilakukan setan Musfir terhadap Muhammad ?'"

 

فَلَمَّا سَمِعْتُ ذَهَبْتُ عَلٰى أَثَرِهِ فَقَتَلْتُهُ بَيْنَ الصَّفَا وَالْمَرْوَةِ، وَهٰذَا دَمُهُ عَلَى سَيْفِيْ، وَرَأْسُهُ فِي الْمِخْلَاةِ، وَبَدَنُهُ مَطْرُوْحٌ بَيْنَ الصَّفَا وَالْمَرْوَةِ، وَصُوْرَتُهُ مِثْلُ صُوْرَةِ الْكَلْبِ مَقْطُوْعُ الرَّأْسِ.

"Begitu mendengarnya, aku segera pergi mengejarnya hingga aku berhasil membunuhnya di antara Sofa dan Marwah. Inilah bekas darahnya yang masih menempel pada pedangku, dan kepalanya ada di dalam kantong pelanaku (mikhlat), sementara jasadnya tergeletak di antara Sofa dan Marwah. Rupa [asli]-nya menyerupai rupa seekor anjing yang terputus kepalanya."

 

فَسَرَّ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ فَدَعَا لَهُ بِالْخَيْرِ، ثُمَّ قَالَ: مَا اسْمُكَ؟ قَالَ: اسْمِيْ مَهْبَرُ بْنُ عَبْهَرَ، وَمُقَامِيْ عَلٰى جَبَلِ طُوْرِ سَيْنَاءَ.

Nabi merasa gembira [mendengar kabar tersebut] lalu mendoakan kebaikan baginya. Beliau bertanya: "Siapakah namamu?" Ia menjawab: "Namaku adalah Mahbar bin Abhar, dan tempat tinggalku di Gunung Thursina."

 

ثُمَّ قَالَ: أَتَأْمُرُنِيْ يَا رَسُوْلَ اللّٰهِ أَنْ أَهْجُوَ الْكُفَّارَ فِيْ فَمِ أَصْنَامِهِمْ كَمَا هَجَاكَ مُسْفِرٌ؟ فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ: اِفْعَلْ.

Kemudian ia berkata: "Wahai Rosululloh, apakah engkau memerintahkanku untuk membalas cercaan kaum kafir melalui mulut berhala-berhala mereka, sebagaimana Musfir dahulu mencacimu?" Nabi menjawab: "Lakukanlah."

 

ثُمَّ اجْتَمَعَ الْكُفَّارُ فِي الْيَوْمِ الثَّانِيْ، فَدَعَوُا النَّبِيَّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ، فَوَضَعُوْا هُبَلًا بَيْنَ أَيْدِيْهِمْ، وَطَرَحُوْا عَلَيْهِ أَلْوَانَ الثِّيَابِ، فَسَجَدُوْا لَهُ وَتَضَرَّعُوْا إِلَيْهِ كَمَا فَعَلُوْا فِي الْيَوْمِ الْأَوَّلِ. فَقَالُوْا: يَا هُبَلُ أَقِرَّ الْيَوْمَ أَعْيُنَنَا بِهِجَاءِ مُحَمَّدٍ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ.

Keesokan harinya, kaum kafir kembali berkumpul dan mengundang Nabi . Mereka meletakkan berhala Hubal di hadapan mereka, menghiasinya dengan berbagai kain warna-warni, lalu bersujud dan meratap kepadanya sebagaimana yang mereka lakukan pada hari pertama. Mereka memohon: "Wahai Hubal, sejukkanlah mata kami hari ini dengan [mendengar] cercaan terhadap Muhammad!"

 

فَقَالَ هُبَلُ: يَا أَهْلَ مَكَّةَ اعْلَمُوْا أَنَّ هٰذَا نَبِيٌّ حَقٌّ وَدِيْنُهُ حَقٌّ، وَمُحَمَّدٌ يَدْعُوْكُمْ إِلَى الْحَقِّ، وَأَنْتُمْ وَصَنَمُكُمْ عَلٰى بَاطِلٍ، فَإِنْ لَمْ تُؤْمِنُوْا بِهِ وَلَمْ تُصَدِّقُوْهُ تَكُوْنُوْا فِيْ نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِيْنَ فِيْهَا أَبَدًا، فَصَدِّقُوْا مُحَمَّدًا وَهُوَ نَبِيُّ اللّٰهِ وَخَيْرُ خَلْقِهِ.

Namun, tiba-tiba Hubal berbicara: "Wahai penduduk Makkah, ketahuilah bahwa pria ini adalah Nabi yang membawa kebenaran, agamanya adalah kebenaran, dan Muhammad menyeru kalian menuju Al-Haq (Kebenaran). Sedangkan kalian dan berhala kalian berada di atas kebatilan! Jika kalian tidak beriman dan tidak membenarkannya, niscaya kalian akan kekal di dalam api neraka Jahanam selama-lamanya. Maka benarkanlah Muhammad, karena ia adalah Nabi Alloh dan sebaik-baik makhluk-Nya!"

 

فَقَامَ أَبُوْ جَهْلٍ عَلَيْهِ اللَّعْنَةُ، وَأَخَذَ الصَّنَمَ وَضَرَبَهُ عَلَى الْأَرْضِ وَكَسَّرَهُ وَأَحْرَقَهُ بِالنَّارِ.

Maka berdirilah Abu Jahal —laknat Alloh atasnya— lalu ia mengambil berhala (Hubal) tersebut, membantingnya ke tanah hingga hancur, kemudian membakarnya dengan api.

 

فَانْصَرَفَ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ إِلٰى دَارِهِ مَسْرُوْرًا، ثُمَّ سَمَّاهُ عَبْدَ اللّٰهِ بْنَ عَبْهَرَ. وَأَنْشَأَ الشِّعْرَ فِيْ قَتْلِ مُسْفِرٍ يَقُوْلُ:

Nabi pun pulang ke rumah beliau dengan perasaan gembira. Kemudian beliau menamai [jin tersebut] dengan nama Abdulloh bin Abhar (sebelumnya bernama Mahbar). Abdulloh bin Abhar pun menggubah syair mengenai keberhasilannya membunuh setan Musfir, ia berkata:

 

أَنَا عَبْدُ اللّٰهِ بْنُ عَبْهَرَا ۞ إِنِّيْ قَتَلْتُ ذَا الْفُجُوْرِ مُسْفِرَا

هَمَمْتُهُ بِضَرْبِ سَيْفِيْ مُنْكَرًا ۞ لَدَى الصَّفَا وَالْمَرْوَةِ لَمَّا طَغٰى وَاسْتَكْبَرَا

وَخَالَفَ الْحَقَّ وَقَالَ مُنْكَرًا ۞ بِشَتْمِهِ نَبِيَّهُ الْمُطَهَّرَا

وَاللَّهِ لَا أَبْرَحُ حَتّٰى يُنْصَرَا ۞ وَيَظْهَرَ الْإِسْلَامُ حَتّٰى يُقَرَّرَا

أَوْ يُذَلَّ فِيْهِ كُلُّ مَنْ تَكَبَّرَا ۞ كُلُّ يَهُوْدِيٍّ وَمَنْ تَنَصَّرَا ۞ جُنُودُ كِسْرٰى وَمُلُوْكُ قَيْصَرَا

Akulah Abdulloh bin Abhar, ۞ Sungguh telah kubunuh si pelaku fujur (maksiat), setan Musfir.

Aku berniat menebasnya dengan pedangku sebagai bentuk pengingkaran. ۞ Di dekat Sofa dan Marwah saat ia melampaui batas dan menyombongkan diri.

Ia menyalahi kebenaran dan mengucapkan kemungkaran. ۞ Dengan mencaci Nabinya Alloh yang disucikan.

Demi Alloh, aku tidak akan berhenti hingga beliau (Nabi) dimenangkan. ۞ Dan Islam tampak nyata hingga ia teguh menetap.

Atau hingga dihinakan di dalamnya setiap orang yang sombong, ۞ Baik dari kalangan Yahudi maupun Nasrani. ۞ (Juga) bala tentara Kisra (raja Persia) dan raja-raja Kaisar (raja Romawi).

 

Monday, March 23, 2026

Matriks — Kenalan Dulu, Yuk!

Haii semuanya! 👋 Kalau kamu baru masuk SMA atau lagi belajar matematika tingkat lanjut, pasti udah mulai denger kata "matriks" dong? Tenang, jangan langsung panik! Di artikel ini kita bakal bahas matriks dari awal, dengan bahasa yang simpel dan nggak bikin pusing. Siap? Yuk mulai! 😄


📌 Apa Sih Matriks Itu?

Jadi gini, matriks itu sebenernya konsep baru yang belum pernah kamu pelajarin sebelumnya — baik di SD maupun SMP. Jadi wajar banget kalau terasa asing. Tapi justru itu seru-nya!

Di bab ini, kita bakal kenalan sama banyak hal seputar matriks, di antaranya:

  • ✅ Pengertian, notasi, dan ordo suatu matriks
  • ✅ Kesamaan dua matriks
  • ✅ Penjumlahan dan pengurangan matriks
  • ✅ Perkalian bilangan real (skalar) dengan matriks
  • ✅ Perkalian matriks
  • ✅ Invers matriks
  • ✅ Pemakaian matriks untuk menyelesaikan sistem persamaan linear dua variabel (SPLDV)

Wah, lumayan banyak ya? Tapi santai aja, kita bahas pelan-pelan kok. 😊

💡 Target belajar: Setelah mempelajari bab ini, kamu diharapkan bisa menggunakan aturan dan rumus matriks, serta mampu menyelesaikan masalah yang bisa disederhanakan menggunakan matriks.

📐 8-1: Pengertian, Notasi, dan Ordo Matriks

8-1-1: Apa Itu Matriks?

Coba deh bayangin kamu lagi lihat jadwal pertandingan bulu tangkis. Data skornya biasanya disajikan dalam bentuk tabel, kan? Nah, contoh sederhananya kayak gini:

Set I Set II
Susi 11 12
Huang-Hua 9 10

Nah, kalau dari tabel di atas kita ambil angkanya aja (tanpa judul baris dan kolom), kita bakal dapet kelompok bilangan kayak gini:

11    12
9    10


📊 Contoh Lain: Data Absensi Siswa

Supaya makin paham, yuk kita lihat contoh lain! Coba bayangin kamu punya data absensi siswa selama satu caturwulan (satu periode penilaian). Datanya kira-kira kayak tabel ini:


Sakit Ijin Tanpa Keterangan
Boy415
Carli210
Dadang113
Eman231

Kalau kita ambil angkanya aja tanpa judul baris dan kolom, kita bakal dapet susunan bilangan seperti ini:

4    1    5
2    1    0
1    1    3
2    3    1

Kalau kita bandingkan dua kelompok bilangan — dari data bulu tangkis dan data absensi ini — ternyata keduanya punya kesamaan pola, lho! 🤔


🔍 Pola yang Bisa Kita Temukan

  1. ✅ Kelompok bilangan itu disusun dalam bentuk persegi atau persegi panjang
  2. ✅ Kelompok bilangan itu disusun dalam baris (horizontal) dan kolom/lajur (vertikal)

Nah, kelompok bilangan yang disusun secara teratur seperti itulah yang disebut matriks! 🎯

📖 Definisi: Matriks adalah susunan sekelompok bilangan dalam bentuk persegi atau persegi panjang yang diatur menurut baris dan kolom.

✍️ Cara Menulis Matriks

Supaya kelihatan jelas batas-batasnya, susunan bilangan dalam matriks itu diapit oleh tanda kurung — boleh kurung biasa ( ) maupun kurung siku [ ]. Namun dalam pembahasan selanjutnya, kita sepakat pakai kurung siku [ ] ya... untuk menulis matriks. Jadi lebih seragam dan enak dibacanya! 😊Matriks biasanya diberi nama dengan huruf kapital, misalnya A, B, C, dan seterusnya.


A =  
1112
910
  dan B =  
415
210
113
231
 


Matriks A itu punya 2 baris dan 2 kolom, sementara matriks B punya 4 baris dan 3 kolom. Ukuran inilah yang nanti kita sebut ordo matriks! 😉


💡 Contoh 1: Mana yang Matriks, Mana yang Bukan?

Dari kelompok-kelompok bilangan berikut, mana yang termasuk matriks dan mana yang bukan? Cek satu per satu! 👇


a) Kelompok bilangan:

2    4
3    1

Ini MATRIKS! Susunannya berbentuk persegi (2 baris, 2 kolom). Rapi dan teratur! 😄


b) Kelompok bilangan:

2    4    1
3    2    5

Ini MATRIKS! Susunannya berbentuk persegi panjang (2 baris, 3 kolom). Tetap teratur! 👍


c) Kelompok bilangan:

     2     
1         4

Ini BUKAN matriks! Susunannya berbentuk segitiga — baris pertama 1 elemen, baris kedua 2 elemen. Nggak rata! 😅


d) Kelompok bilangan:

3        6
                      2
4        1

Ini BUKAN matriks! Susunannya berbentuk segilima — jumlah elemen tiap baris tidak sama. ✋


💡 Ingat: Syarat utama matriks adalah bentuknya harus persegi atau persegi panjang — artinya setiap baris punya jumlah elemen yang sama!

📐 8-1-2: Baris, Kolom, dan Elemen Matriks

Bilangan-bilangan di dalam matriks disebut unsur-unsur atau elemen-elemen matriks. Coba perhatiin matriks A berikut untuk memahami mana yang baris dan mana yang kolom:


 
11 12 ← baris pertama
9 10 ← baris kedua
 


kolom
pertama

kolom
kedua

  • 🔵 Baris = susunan bilangan mendatar (horizontal) → Baris 1: 11, 12 | Baris 2: 9, 10
  • 🟠 Kolom = susunan bilangan tegak (vertikal) → Kolom 1: 11, 9 | Kolom 2: 12, 10
  • Elemen/Unsur = setiap bilangan di dalam matriks (11, 12, 9, 10)

Gampang kan? Tinggal inget: baris = mendatar, kolom = tegak! 😄


🔎 Posisi Elemen dalam Matriks A

Setiap elemen punya posisi spesifik berdasarkan baris dan kolomnya:


 
11 12 ← elemen baris 1, kolom 1  |  elemen baris 1, kolom 2
9 10 ← elemen baris 2, kolom 1  |  elemen baris 2, kolom 2
 

  • 🟡 11 → elemen baris pertama, kolom pertama
  • 🔴 12 → elemen baris pertama, kolom kedua
  • 🟢 9  → elemen baris kedua, kolom pertama
  • 🔵 10 → elemen baris kedua, kolom kedua

  1. 📏 Baris = susunan bilangan yang mendatar (horisontal) dalam matriks
  2. 📐 Kolom = susunan bilangan yang tegak (vertikal) dalam matriks
  3. 🔢 Elemen = bilangan (real maupun kompleks) yang menyusun matriks

💡 Contoh 2: Latihan Menentukan Baris, Kolom, dan Elemen

Misalkan kita punya matriks B seperti ini:


B =  
153
3−12
23−5
−446
 

Pertanyaannya:

  1. Tentukan baris pertama, kedua, ketiga, dan keempat beserta elemen-elemennya!
  2. Tentukan kolom pertama, kedua, dan ketiga beserta elemen-elemennya!
  3. Tentukan elemen pada baris kedua kolom ketiga, dan baris keempat kolom pertama!

✏️ Jawab:

a) Baris-baris dari matriks B:

Nama Baris Elemen-elemennya
Baris pertama1, 5, dan 3
Baris kedua3, −1, dan 2
Baris ketiga2, 3, dan −5
Baris keempat−4, 4, dan 6

Tinggal baca mendatar dari kiri ke kanan! 😄


b) Kolom-kolom dari matriks B:

Kalau tadi baca mendatar untuk dapat barisnya, sekarang baca tegak ke bawah untuk dapat kolomnya:

Nama Kolom Elemen-elemennya
Kolom pertama1, 3, 2, dan −4
Kolom kedua5, −1, 3, dan 4
Kolom ketiga3, 2, −5, dan 6

Ingat ya: kolom dibaca dari atas ke bawah! 👆


c) Elemen pada posisi tertentu:

  • 🎯 Elemen baris kedua kolom ketiga = 2
  • 🎯 Elemen baris keempat kolom pertama = −4

Cara bacanya: baris dulu, baru kolom. "Baris kedua kolom ketiga" → lihat baris ke-2, geser ke kolom ke-3 → ketemu angka 2. Gampang! 😄


💡 Contoh 3: Matriks dari Sistem Persamaan Linear

Ini salah satu kegunaan matriks yang super keren — bisa dipakai buat sistem persamaan linear! 🔥

Persamaan linear punya bentuk ax + by = c, di mana a dan b adalah koefisien. Nah, matriks bisa merangkum koefisien-koefisien itu dengan rapi! Misalnya kita punya:

4x − 2y=1
2x + 5y=3
−3x + y=−6

Pertanyaannya:

  1. Tuliskan koefisien x dan koefisien y untuk setiap persamaan!
  2. Tentukan matriks koefisiennya!
  3. Berapa banyak baris dan kolom pada matriks tersebut?
  4. Sebutkan elemen-elemen pada baris ketiga!
  5. Sebutkan elemen-elemen pada kolom kedua!
  6. Sebutkan elemen pada baris kedua kolom kedua!

✏️ Jawab:

a) Koefisien x dan koefisien y:

Persamaan Koefisien x Koefisien y
4x − 2y = 14−2
2x + 5y = 325
−3x + y = −6−31

Perlu diingat: untuk persamaan −3x + y = −6, koefisien y adalah 1 (karena y = 1·y). Jangan kelewat! 😉


b) Matriks Koefisien dari Sistem Persamaan Linear:

Tinggal hilangkan judul baris dan kolom dari tabel, ambil angkanya aja — itulah matriks koefisiennya! Kita kasih nama matriks itu P:

P =  
4-2
25
-31
 

Sekarang kita jawab pertanyaan c sampai f:

Soal Jawaban
(c) Banyak baris dan kolom?Matriks P punya 3 baris dan 2 kolom
(d) Elemen baris ketiga?-3 dan 1
(e) Elemen kolom kedua?-2, 5, dan 1
(f) Elemen baris kedua kolom kedua?5

Trik: Selalu baca baris dulu, baru kolom. "Baris kedua kolom kedua" artinya pergi ke baris 2, geser ke kolom 2 - ketemu angka 5. Mudah kan?

Contoh 4: Matriks dari Data Hewan Piaraan

Yuk kita coba contoh dari kehidupan nyata! Tabel berikut menunjukkan jumlah hewan piaraan penduduk di sebuah desa:


Ayam Itik Kerbau Kambing
Badrun4315
Ahmad2153
Parjuli10022
Parjio81211
Sastro502020

Pertanyaannya:

  1. Tuliskan matriks yang diperoleh dari tabel tersebut!
  2. Berapa banyak baris dan kolomnya?
  3. Sebutkan elemen-elemen pada baris keempat!
  4. Sebutkan elemen-elemen pada kolom ketiga!
  5. Sebutkan elemen pada baris kelima kolom keempat!

Jawab:

a) Matriks Q dari tabel di atas:

Q =  
4315
2153
10022
81211
502020
 

Soal Jawaban
(b) Banyak baris dan kolom?Matriks Q punya 5 baris dan 4 kolom
(c) Elemen baris keempat?8, 12, 1, dan 1 (data milik Parjio!)
(d) Elemen kolom ketiga?1, 5, 2, 1, dan 2 (semua data kolom Kerbau!)
(e) Elemen baris kelima kolom keempat?0 (Sastro tidak punya kambing!)

Seru kan? Ternyata matriks bisa dipakai buat nyimpen data apapun - dari skor olahraga, absensi, koefisien persamaan, sampai hewan ternak!


Di bagian selanjutnya kita masuk ke topik ordo matriks - cara resmi menyebut ukuran matriks. Jangan sampai kelewat!

Semangat terus ya belajarnya! Kalau ada pertanyaan, drop di kolom komentar.

FADHILAH ADZAN

Terjemah kitab Tanqihul Qoul (تَنْقِيْحُ الْقَوْلِ) karya Syeh Nawawi Banten


(الْبَابُ الثَّامِنُ: فِيْ فَضِيْلَةِ الْأَذَانِ)

Bab Kedelapan: Keutamaan Adzan

 

وَقِيْلَ فِيْ تَفْسِيْرِ قَوْلِهِ عَزَّ وَجَلَّ: {وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى ٱللّٰهِ وَعَمِلَ صَالِحًا}، نَزَلَتْ هٰذِهِ الْآيَةُ فِي الْمُؤَذِّنِيْنَ.

Dikatakan dalam tafsir firman Alloh 'azza wajalla: "Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Alloh dan mengerjakan amal sholeh?" (QS. Fussilat: 33). Bahwa ayat ini turun berkenaan dengan para muadzin (orang yang mengumandangkan adzan).

 

(قَالَ ﷺ: مَنْ أَذَّنَ لِلصَّلَاةِ سَبْعَ سِنِيْنَ مُحْتَسِبًا) أَيْ مِنْ غَيْرِ أُجْرَةٍ (كَتَبَ اللّٰهُ لَهُ بَرَاءَةً مِنَ النَّارِ) رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ وَابْنُ مَاجَهْ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ.

Nabi bersabda: "Barangsiapa yang mengumandangkan adzan untuk sholat selama tujuh tahun secara muhtasiban" —yakni semata-mata mengharap pahala tanpa mengambil upah— "maka Alloh akan menetapkan baginya kebebasan dari api neraka." (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah dari Ibnu Abbas)

 

(وَقَالَ ﷺ: مَنْ أَذَّنَ اثْنَتَيْ عَشْرَةَ سَنَةً) أَيْ مُحْتَسِبًا (وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ) رَوَاهُ ابْنُ مَاجَهْ وَالْحَاكِمُ عَنِ ابْنِ عُمَرَ.

Nabi bersabda: "Barangsiapa yang mengumandangkan adzan selama dua belas tahun"—yakni secara muhtasib (mengharap pahala)—"maka wajib baginya surga." (HR. Ibnu Majah dan Al-Hakim dari Ibnu Umar)

 

وَحِكْمَةُ ذٰلِكَ أَنَّ أَكْثَرَ مَا يُعَمَّرُ الْإِنْسَانُ مِنْ أُمَّةِ النَّبِيِّ ﷺ مِائَةٌ وَعِشْرُوْنَ سَنَةً، وَالْاِثْنَتَا عَشْرَةَ هٰذِهِ عُشْرُ هٰذَا الْعُمْرِ، وَمِنْ سُنَّةِ اللّٰهِ أَنَّ الْعُشْرَ يَقُوْمُ مَقَامَ الْكُلِّ، كَمَا قَالَ اللّٰهُ تَعَالٰى: {مَنْ جَاءَ بِٱلْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا}.

Adapun hikmah dari hal tersebut adalah: Bahwa batas maksimal usia manusia dari umat Nabi umumnya adalah 120 tahun. Masa dua belas tahun ini merupakan sepersepuluh dari total usia tersebut. Sudah menjadi sunnatulloh (ketentuan Alloh) bahwa nilai sepersepuluh dapat mewakili keseluruhan, sebagaimana firman Alloh Ta'ala: "Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya." (QS. Al-An'am: 160).

 

وَأَمَّا حَدِيْثُ مَنْ أَذَّنَ سَبْعَ سِنِيْنَ فَإِنَّهَا عُشْرُ الْعُمْرِ الْغَالِبِ، كَذَا قَالَ بَعْضُ الْمُحَدِّثِيْنَ.

Sedangkan mengenai hadits [sebelumnya] tentang orang yang mengumandangkan adzan selama tujuh tahun, maka itu adalah hitungan sepersepuluh dari usia rata-rata (umumnya umat Nabi yakni 60-70 tahun). Demikianlah penjelasan yang disampaikan oleh sebagian ahli hadits.

 

(وَقَالَ ﷺ: مَنْ أَذَّنَ خَمْسَ صَلَوَاتٍ إِيْمَانًا) أَيْ تَصْدِيْقًا بِأَنَّ الْأَذَانَ مِنْ أُمُوْرِ الشَّرِيْعَةِ (وَاحْتِسَابًا) أَيْ طَلَبًا لِلْأَجْرِ مِنَ اللّٰهِ تَعَالٰى (غُفِرَ لَهُ) بِالْبِنَاءِ لِلْمَفْعُوْلِ (مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ) أَيْ مِنَ الصَّغَائِرِ. رَوَاهُ الْبَيْهَقِيُّ عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ بِإِسْنَادٍ ضَعِيْفٍ.

Nabi bersabda: "Barangsiapa yang mengumandangkan adzan untuk sholat lima waktu karena iman" —yakni membenarkan bahwa adzan adalah bagian dari syari'at— "dan ihtisab" —yakni semata-mata mencari pahala dari Alloh Ta'ala— "maka diampunilah baginya dosa-dosa yang telah lalu" —yaitu dosa-dosa kecil. (HR. Al-Baihaqi dari Abu Huroiroh dengan sanad yang dhoif)

 

وَالْخَمْسُ صَادِقَةٌ بِأَنْ تَكُوْنَ مِنْ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ أَوْ مِنْ أَيَّامٍ.

Frasa "lima waktu" di sini bisa berarti dilakukan dalam satu hari satu malam, atau dilakukan secara terpisah di hari-hari yang berbeda.

 

(وَقَالَ ﷺ: ثَلَاثَةٌ يَعْصِمُهُمُ اللّٰهُ تَعَالٰى مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ: الشَّهِيْدُ)

Nabi bersabda: "Ada tiga golongan yang Alloh Ta'ala pelihara dari azab/siksa kubur, yaitu: Orang yang mati syahid..."

 

وَهُوَ يَصْدُقُ عَلٰى شَهِيْدِ الْآخِرَةِ فَقَطْ، كَمَنْ قُتِلَ ظُلْمًا، وَلَوْ بِحَسَبِ الْهَيْئَةِ، كَمَنْ اِسْتَحَقَّ الْقَتْلَ بِقَطْعِ الرَّأْسِ، فَقُتِلَ بِالتَّوَسُّطِ مَثَلًا. وَمَنْ مَاتَ بِغَرَقٍ وَإِنْ عَصٰى فِيْهِ بِنَحْوِ شُرْبِ خَمْرٍ، بِخِلَافِ مَنْ غَرِقَ بِسَيْرِ سَفِيْنَةٍ فِيْ وَقْتِ هَيَجَانِ الرِّيْحِ فَلَيْسَ بِشَهِيْدٍ.

Yang dimaksud "mati syahid" di sini adalah mencakup Syahid Akhirat saja, seperti:

  • Orang yang dibunuh secara zalim, meskipun secara teknis ia berhak dihukum mati dengan hukuman penggal kepala namun dibunuh dengan cara lain, misalnya dengan cara dibelah bagian tengah tubuhnya.
  • Orang yang mati tenggelam, meskipun ia sedang bermaksiat saat itu, seperti meminum khamr (arak); berbeda dengan orang yang tenggelam karena nekat berlayar saat badai besar, maka ia bukan mati syahid.

 

وَمَنْ مَاتَ بِهَدْمٍ أَوْ حَرِيْقٍ. وَمَنْ مَاتَ غَرِيْبًا وَإِنْ عَصٰى بِغُرْبَتِهِ كَآبِقٍ وَنَاشِزَةٍ. وَمَنْ مَاتَ فِيْ طَلَبِ الْعِلْمِ وَلَوْ عَلٰى فِرَاشِهِ. وَمَنْ مَاتَ مَبْطُوْنًا. وَمَنْ مَاتَ بِالطَّاعُوْنِ وَلَوْ فِيْ غَيْرِ زَمَنِهِ أَوْ بِغَيْرِهِ فِيْ زَمَنِهِ أَوْ بَعْدَهُ حَيْثُ كَانَ صَابِرًا مُحْتَسِبًا.

  • Orang yang mati tertimpa bangunan atau terbakar.
  • Orang yang mati dalam pengasingan (perantauan), meskipun ia bermaksiat dalam pengasingannya tersebut; seperti budak yang kabur atau istri yang nusyuz (minggat).
  • Orang yang mati saat menuntut ilmu, meskipun matinya di atas tempat tidurnya.
  • Orang yang mati karena penyakit perut.
  • Orang yang mati karena penyakit tho'un (wabah pes/kolera), meskipun matinya bukan di masa wabah itu terjadi; atau mati karena penyakit lain di masa terjadinya wabah tersebut; atau mati setelah masa wabah berakhir; selama ia bersabar dan berharap pahala (muhtasiban).

 

وَمَنْ مَاتَ عِشْقًا بِشَرْطِ الْكَفِّ عَنِ الْمَحَارِمِ حَتّٰى عَنِ النَّظَرِ، بِحَيْثُ لَوِ اخْتَلٰى بِمَحْبُوْبِهِ لَمْ يَتَجَاوَزِ الشَّرْعَ، وَبِشَرْطِ الْكِتْمَانِ حَتّٰى عَنْ مَعْشُوْقِهِ. وَكَالْمَرْأَةِ الَّتِيْ مَاتَتْ طَلْقًا وَلَوْ مِنْ زِنًى إِذَا لَمْ تَتَسَبَّبْ فِيْ إِسْقَاطِ الْوَلَدِ، وَكَذَا مَنْ مَاتَ فَجْأَةً أَوْ فِيْ دَارِ الْحَرْبِ، قَالَهُ ابْنُ الرِّفْعَةِ.

  • Orang yang mati karena jatuh cinta ('isyq), dengan syarat: menjaga diri dari hal yang haram bahkan dari memandang, sekiranya ia berduaan dengan kekasihnya (orang yang dicintainya) ia tidak melanggar syari'at, serta dengan syarat merahasiakan cintanya bahkan dari orang yang dicintainya.
  • Wanita yang mati saat melahirkan, meskipun dari hasil zina, selama ia tidak sengaja menggugurkan kandungannya.
  • Orang yang mati mendadak atau mati di wilayah perang (Darul Harb), sebagaimana dinyatakan oleh Ibnu Al-Rif’ah.

 

وَمَعْنَى الشَّهَادَةِ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُوْنَ كَمَا قَالَهُ الْحِصْنِيُّ.

Makna "syahadah" (mati syahid) bagi mereka adalah bahwa mereka hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki, sebagaimana dinyatakan oleh imam Al-Hishni.

 

وَيَصْدُقُ أَيْضًا عَلٰى شَهِيْدِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ مَعًا، وَهُوَ مَنْ مَاتَ بِسَبَبٍ مِنْ أَسْبَابِ قِتَالِ الْمُشْرِكِيْنَ لِإِعْلَاءِ دِيْنِ اللّٰهِ لَا لِرِيَاءٍ وَسُمْعَةٍ.

Dan makna "syahadah" (mati syahid) di sini juga mencakup Syahid Dunia dan Akhirat sekaligus, yaitu mereka yang wafat dalam peperangan melawan kaum musyrikin demi meninggikan (meluhurkan) agama Alloh, bukan karena riya' (pamer) atau mencari reputasi.

 

بِخِلَافِ شَهِيْدِ الدُّنْيَا فَقَطْ، فَلَا يَدْخُلُ فِيْ هٰذَا الْحُكْمِ، وَهُوَ مَنْ مَاتَ فِيْ قِتَالِ الْكُفَّارِ مُدْبِرًا عَلٰى وَجْهٍ غَيْرِ مَرْضِيٍّ شَرْعًا، أَوْ مَاتَ بِقِتَالِهِمْ رِيَاءً وَسُمْعَةً.

Berbeda halnya dengan Syahid Dunia saja, maka ia tidak termasuk ke dalam hukum [pembebasan dari azab kubur] ini, yaitu mereka yang mati dalam perang melawan kaum kafir namun dalam keadaan melarikan diri (mundur) dengan cara yang tidak diridhoi syari'at, atau mati karena riya dan mencari ketenaran.

 

(وَالْمُؤَذِّنُ) أَيْ لِوَجْهِ اللّٰهِ تَعَالٰى لَا لِطَلَبِ أُجْرٍ مِنْ أَحَدٍ.

"Dan [terrmasuk tiga golongan yang Alloh Ta'ala pelihara dari azab kubur adalah] Muadzin (orang yang adzan)"—yakni yang mengumandangkan adzan semata-mata karena Alloh Ta'ala, bukan untuk mencari upah dari siapapun.

 

(وَالْمُتَوَفّٰى) بِفَتْحِ الْفَاءِ (يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَلَيْلَةَ الْجُمُعَةِ).

"Dan [terrmasuk tiga golongan yang Alloh Ta'ala pelihara dari azab kubur adalah] orang yang wafat pada hari Jum'at atau malam Jum'at." —kata "al-mutawaffā" dengan dibaca fathah huruf fa'-nya.

 

قَالَ بَعْضُهُمْ: فَمَنْ مَاتَ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَوْ لَيْلَتَهُ، إِنْ عُذِّبَ كَانَ عَذَابُهُ سَاعَةً وَاحِدَةً، ثُمَّ يَنْقَطِعُ وَلَا يَعُوْدُ إِلٰى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَكَذٰلِكَ ضَغْطَةُ الْقَبْرِ، وَاللّٰهُ أَعْلَمُ.

Sebagian ulama berkata: Barangsiapa di antara kaum mukminin yang wafat pada hari Jum'at atau malam Jum'at, jika ia diazab, maka azabnya hanya sesaat kemudian terputus dan tidak akan kembali lagi hingga hari kiamat. Demikian pula dengan urusan dhoghthotul qobr (himpitan kubur). Wallõhu a'lam.

 

(وَقَالَ ﷺ: لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ) وُضِعَ الْمُضَارِعُ مَوْضِعَ الْمَاضِيْ لِيُفِيْدَ اسْتِمْرَارَ الْعِلْمِ

Nabi bersabda: "Seandainya manusia mengetahui..." —penggunaan fi'il mudhori' (kata kerja bentuk sekarang) di sini menggantikan fi'il madhi (kata kerja bentuk lampau) untuk menunjukkan kesinambungan pengetahuan tersebut—

 

(مَا فِي النِّدَاءِ) أَيْ التَّأْذِيْنِ (وَالصَّفِّ الْأَوَّلِ) أَيْ مِنَ الْفَضْلِ (ثُمَّ لَمْ يَجِدُوْا) وَفِيْ رِوَايَةٍ: لَا يَجِدُوْا بِـ«لَا» النَّافِيَةِ، وَبِحَذْفِ نُوْنِ الرَّفْعِ، وَهُوَ ثَابِتٌ لُغَةً

"...apa yang ada pada seruan (adzan) dan shof pertama" —yakni keutamaannya— "kemudian mereka tidak mendapatkan jalan" —dalam sebuah riwayat yang lain menggunakan nafiah (peniadaan) dengan membuang nun alamat rofa', yang mana hal ini tetap dibenarkan secara bahasa—

 

(إِلَّا أَنْ يَسْتَهِمُوْا) بِتَخْفِيْفِ الْمِيْمِ (عَلَيْهِ) أَيْ الْمَذْكُوْرِ مِنَ الْأَذَانِ وَالصَّفِّ الْأَوَّلِ (لَاسْتَهَمُوْا).

"kecuali dengan cara melakukan undian untuknya…" → kata "yastahimū" (melakukan undian) dengan diringankan (tanpa tasydid) huruf mim-nya —maksudnya adalah undian untuk adzan dan shof pertama tersebut— "niscaya mereka benar-benar akan melakukan undian."

 

وَالْمَعْنٰى: لَوْ عَلِمُوْا فَضِيْلَةَ الْأَذَانِ وَالصَّفِّ الْأَوَّلِ وَعَظِيْمَ جَزَائِهِمَا، ثُمَّ لَا يَجِدُوْنَ طَرِيْقًا يَحْصُلُوْنَهُمَا بِهِ لِضِيْقِ الْوَقْتِ، أَوْ لِكَوْنِهِ لَا يُؤَذَّنُ لِلْمَسْجِدِ إِلَّا وَاحِدٌ، لَاقْتَرَعُوْا فِيْ تَحْصِيْلِهِمَا.

Maknanya: Seandainya mereka mengetahui keutamaan adzan dan shof pertama [sholat berjamaah] serta besarnya pahala keduanya, kemudian mereka tidak mendapati jalan untuk meraihnya karena sempitnya waktu, atau karena masjid tersebut hanya boleh memiliki satu muadzin, niscaya mereka akan melakukan undian (qur'ah) demi mendapatkannya.

 

(وَلَوْ يَعْلَمُوْنَ مَا فِي التَّهْجِيْرِ) أَيْ التَّبْكِيْرِ بِأَيِّ صَلَاةٍ كَانَ، وَلَا يُعَارِضُهُ أَمْرُ الْإِبْرَادِ لِلظُّهْرِ؛ لِأَنَّهُ تَأْخِيْرٌ قَلِيْلٌ (لَاسْتَبَقُوْا إِلَيْهِ) أَيْ التَّهْجِيْرَ.

"Dan seandainya mereka mengetahui apa yang ada pada bergegas-gegas" —yakni menyegerakan datang di awal waktu untuk sholat apa pun. Hal ini tidak bertentangan dengan perintah ibrod (menunda sejenak hingga cuaca agak dingin) untuk sholat Zuhur, karena penundaan tersebut hanya sedikit— "niscaya mereka akan berlomba-lomba kepadanya." —yakni [berlomba untuk] bergegas-gegas.

 

(وَلَوْ يَعْلَمُوْنَ مَا فِي الْعَتَمَةِ وَالصُّبْحِ) أَيْ مَا فِيْ صَلَاةِ الْعِشَاءِ وَالصُّبْحِ فِيْ جَمَاعَةٍ مِنَ الثَّوَابِ (لَأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا) بِفَتْحِ الْحَاءِ وَسُكُوْنِ الْمُوَحَّدَةِ، أَيْ وَلَوْ كَانَ الْإِتْيَانُ مَشْيًا عَلَى الرُّكَبِ وَالْيَدَيْنِ. رَوَاهُ مَالِكٌ وَأَحْمَدُ وَالْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ وَالنَّسَائِيُّ وَأَبُوْ دَاوُدَ عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ.

"Dan seandainya mereka mengetahui apa yang ada pada al-'atamah (Isyak) dan Subuh" —yakni pahala yang ada dalam sholat Isyak dan Subuh secara berjamaah— "niscaya mereka akan mendatangi keduanya walaupun dengan merangkak (abwan)" —yakni meskipun harus datang dengan berjalan menggunakan lutut dan tangan. (HR. Malik, Ahmad, Bukhori, Muslim, Nasai, dan Abu Daud dari Abu Huroiroh)

 

(وَقَالَ ﷺ: مَنْ سَمِعَ النِّدَاءَ) أَيْ الْأَذَانَ (فَقَبَّلَ إِبْهَامَيْهِ) أَيْ بِالْفَمِ (فَوَضَعَ) أَيِ الْإِبْهَامَيْنِ (عَلٰى عَيْنَيْهِ وَقَالَ مَرْحَبًا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَعَالٰى قُرَّةُ أَعْيُنِنَا بِكَ يَا رَسُوْلَ اللّٰهِ، فَأَنَا شَفِيْعُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَقَائِدُهُ إِلَى الْجَنَّةِ.

Nabi bersabda: "Barangsiapa yang mendengar seruan (adzan), lalu ia mencium kedua ibu jarinya" —yakni dengan mulut— "kemudian meletakkan (kedua ibu jari tersebut) pada kedua matanya sembari berucap: 'Maraban bi dzikrillāhi Ta'āla, qurrotu a'yuninā bika yā Rosūlullõh' (Selamat datang sebutan Alloh Ta'ala, wahai Rosululloh engkaulah penyejuk pandangan mata kami), maka aku adalah pemberi syafaat baginya di hari kiamat dan penuntunnya menuju surga."

 

وَقَالَ ﷺ: إِذَا كَانَ) أَيْ جَاءَ (وَقْتُ الْأَذَانِ فُتِحَتْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَاسْتُجِيْبَ الدُّعَاءُ، وَإِذَا كَانَ وَقْتُ الْإِقَامَةِ لَمْ تُرَدَّ دَعْوَتُهُ).

Dan Nabi juga bersabda: "Apabila telah datang waktu adzan, maka pintu-pintu langit akan dibuka dan doa-doa dikabulkan. Dan apabila tiba waktu iqomah, maka doa seseorang tidak akan ditolak."

 

قَالَ النَّوَوِيُّ فِي الْأَذْكَارِ: رَوَيْنَا عَنْ أَنَسٍ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللّٰهِ ﷺ: «لَا يُرَدُّ الدُّعَاءُ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ». رَوَاهُ أَبُوْ دَاوُدَ وَالتِّرْمِذِيُّ وَالنَّسَائِيُّ وَابْنُ السُّنِّيِّ وَغَيْرُهُمْ.

Imam An-Nawawi dalam kitab Al-Adzkar menyebutkan: Kami telah meriwayatkan dari Anas r.a., ia berkata: Rosululloh bersabda: "Doa di antara adzan dan iqomah tidak akan ditolak." (HR. Abu Daud, Tirmidzi, Nasai, Ibnu Sunni, dan lainnya)

 

وَزَادَ التِّرْمِذِيُّ فِيْ رِوَايَتِهِ: قَالُوْا: فَمَاذَا نَقُوْلُ يَا رَسُوْلَ اللّٰهِ؟ قَالَ: «سَلُوْا اللّٰهَ الْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ». اهـ.

Imam Tirmidzi menambahkan dalam riwayatnya, para sahabat bertanya: "Lalu apa yang harus kami ucapkan (kami minta) wahai Rosululloh?" Beliau menjawab: "Mintalah kepada Alloh al-'afiyah (keselamatan/kesejahteraan) di dunia dan akhirat."

 

(وَقَالَ ﷺ: مَنْ قَالَ عِنْدَ الْأَذَانِ: مَرْحَبًا بِالْقَائِلِيْنَ عَدْلًا، مَرْحَبًا بِالصَّلَوَاتِ وَأَهْلًا، كَتَبَ اللّٰهُ تَعَالٰى لَهُ أَلْفَ حَسَنَةٍ، وَمَحَا عَنْهُ أَلْفَ سَيِّئَةٍ، وَرَفَعَ لَهُ أَلْفَ دَرَجَةٍ.

Nabi bersabda: "Barangsiapa yang ketika mendengar adzan mengucapkan: 'Marhaban bil qõ-ilîna 'adlan, marhaban bish-sholawāti wa ahlan' (Selamat datang bagi para penyeru keadilan, selamat datang dan selamat tiba waktu sholat), maka Alloh Ta'ala menuliskan baginya seribu kebaikan, menghapus darinya seribu keburukan, dan mengangkat baginya seribu derajat."

 

وَقَالَ ﷺ: مَنْ سَمِعَ الْأَذَانَ وَلَمْ يَقُلْ مِثْلَ مَا قَالَ الْمُؤَذِّنُ فَإِنَّهُ يُمْنَعُ مِنَ السُّجُوْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِذَا سَجَدَ الْمُؤَذِّنُوْنَ).

Nabi bersabda: "Barangsiapa yang mendengar adzan namun tidak mengucapkan (tidak menjawab) seperti apa yang diucapkan oleh muadzin, maka sesungguhnya ia akan terhalang untuk bersujud pada hari kiamat, di saat para muadzin bersujud."

 

وَرُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: «إِذَا سَمِعْتُمُ النِّدَاءَ فَقُوْلُوْا مِثْلَ مَا يَقُوْلُ الْمُؤَذِّنُ». رَوَاهُ مَالِكٌ وَأَحْمَدُ وَأَبُوْ دَاوُدَ وَالتِّرْمِذِيُّ وَالنَّسَائِيُّ وَابْنُ مَاجَهَ.

Diriwayatkan bahwasanya Nabi bersabda: "Apabila kalian mendengar adzan, maka ucapkanlah seperti apa yang diucapkan oleh muadzin." (HR. Malik, Ahmad, Abu Daud, Tirmidzi, Nasai, dan Ibnu Majah)

 

قَالَ الْمُنَاوِيُّ: إِجَابَةُ الْمُؤَذِّنِ مَنْدُوْبٌ، وَقِيْلَ: وَاجِبٌ.

Imam Al-Munawi berkata: "Menjawab muadzin hukumnya adalah mandub (sunnah), namun ada pula yang berpendapat wajib."

 

قَوْلُهُ: مَا يَقُوْلُ، وَلَمْ يَقُلْ: مِثْلَ مَا قَالَ الْمَاضِيْ؛ لِيُشْعِرَ بِأَنَّهُ يُجِيْبُهُ بَعْدَ كُلِّ كَلِمَةٍ.

Mengenai sabda beliau "seperti apa yang ia (muadzin) ucapkan" (menggunakan bentuk mudhori'/present): Beliau tidak menggunakan kata "seperti apa yang telah ia ucapkan" (bentuk madhi/past) untuk memberi isyarat bahwa seseorang hendaknya menjawab muadzin setelah setiap kalimat diucapkan (secara beriringan).

 

وَلَمْ يَقُلْ: مِثْلَ مَا تَسْمَعُوْنَ إِيْمَاءً إِلٰى أَنَّهُ يُجِيْبُهُ فِي التَّرْجِيْعِ، أَيْ وَإِنْ لَمْ يَسْمَعْ.

Beliau juga tidak bersabda "seperti apa yang kalian dengar", hal ini sebagai isyarat agar seseorang tetap menjawab muadzin dalam bagian Tarji' (pengulangan syahadat dengan suara lirih sebelum suara keras), yakni meskipun ia tidak mendengarnya secara jelas.

________________________________________

Tata Cara Praktik Tarji'.

Urutan praktiknya adalah sebagai berikut:

  1. Muadzin mengucapkan Allohu Akbar (4x) dengan suara keras.
  2. Sebelum masuk ke Asyhadu alla ilaha illalloh, muadzin membacanya terlebih dahulu sebanyak 2x dengan suara rendah/lirih.
  3. Muadzin membaca Asyhadu anna Muhammadar Rosululloh sebanyak 2x juga dengan suara rendah/lirih.
  4. Setelah itu, muadzin kembali mengulang kedua kalimat syahadat tersebut (masing-masing 2x) dengan suara keras sebagaimana mestinya.

________________________________________

 

قَوْلُهُ: مِثْلَ مَا يَقُوْلُ الْمُؤَذِّنُ ظَاهِرُهُ أَنَّهُ يَقُوْلُ مِثْلَ قَوْلِهِ فِيْ جَمِيْعِ الْكَلِمَاتِ، لٰكِنْ وَرَدَتْ أَحَادِيْثُ بِاسْتِثْنَاءِ حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ وَحَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ، وَأَنَّهُ يَقُوْلُ بَيْنَهُمَا: لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللّٰهِ، وَهٰذَا هُوَ ٱلْمَشْهُوْرُ عِنْدَ الْجُمْهُوْرِ.

Sabda Nabi: "seperti apa yang diucapkan muadzin" secara zahir menunjukkan bahwa seseorang harus mengucapkan kalimat yang sama persis dalam semua lafal. Namun, telah warid (datang) hadits-hadits lain yang mengecualikan kalimat Hayya 'alash-sholāh dan Hayya 'alal-falāh (kedua kalimat ini disebut dengan ai'alah), di mana seseorang hendaknya mengucapkan di antara keduanya: aula walā quwwata illā billāh (auqolah). Inilah pendapat yang masyhur di kalangan Jumhur (mayoritas ulama).

 

وَعِنْدَ الْحَنَابِلَةِ وَجْهٌ أَنَّهُ يَجْمَعُ بَيْنَ الْحَيْعَلَةِ وَالْحَوْقَلَةِ.

Sedangkan di kalangan Madzhab Hanbali, terdapat satu pandangan bahwa seseorang boleh menggabungkan antara ai'alah (ayya 'ala ...) dan auqolah (Lā aula ...).

 

وَقَالَ الْأَذْرَعِيُّ: وَقَدْ يُقَالُ الْأَوْلٰى أَنْ يَقُوْلَهُمَا. كَذَا قَالَهُ الْعَزِيزِيُّ نَقْلًا عَنِ الْعَلْقَمِيِّ. ثُمَّ قَالَ الْعَزِيزِيُّ: قُلْتُ، وَهُوَ الْأَوْلٰى لِلْخُرُوْجِ مِنْ خِلَافِ مَنْ قَالَ بِهِ مِنَ الْحَنَابِلَةِ، وَأَكْثَرُ الْأَحَادِيْثِ عَلَى الْإِطْلَاقِ. انْتَهٰى.

Syeh Al-Adzro'i berkata: "Ada yang berpendapat bahwa yang lebih utama adalah mengucapkan keduanya (ai'alah dan auqolah sekaligus)." Demikian pula yang dikatakan oleh Al-'Azizi saat menukil pendapat dari Al-'Alqomi. Kemudian Al-'Azizi berkata: "Aku berpendapat, hal itu (mengucapkan keduanya) lebih utama demi keluar dari khilaf (perbedaan pendapat) dengan ulama Hanbali yang berpendapat demikian, apalagi sebagian besar hadits menyebutkan perintah ini secara mutlak (tanpa pengecualian)." Selesai.

 

وَقَالَ النَّوَوِيُّ فِي الْأَذْكَارِ: إِذَا سَمِعَ الْمُؤَذِّنَ أَوِ الْمُقِيْمَ وَهُوَ يُصَلِّيْ لَمْ يُجِبْهُ فِي الصَّلَاةِ، فَإِذَا سَلَّمَ مِنْهَا أَجَابَهُ كَمَا يُجِيْبُهُ مَنْ لَا يُصَلِّيْ. فَلَوْ أَجَابَهُ فِي الصَّلَاةِ كُرِهَ، وَلَمْ تَبْطُلْ صَلَاتُهُ.

Imam An-Nawawi berkata dalam kitab Al-Adzkar: "Apabila seseorang mendengar muadzin (orang yang adzan) atau muqim (orang yang iqomah) sedangkan ia sedang dalam keadaan sholat, maka ia tidak boleh menjawabnya di dalam sholat tersebut. Namun, setelah ia salam, ia menjawabnya sebagaimana orang yang tidak sedang sholat menjawabnya. Jika ia tetap menjawabnya [dengan lisan] di dalam sholat, maka hukumnya makruh, meskipun sholatnya tidak batal."

 

وَهٰكَذَا إِذَا سَمِعَهُ وَهُوَ عَلَى الْخَلَاءِ لَا يُجِيْبُهُ فِي الْحَالِ، فَإِذَا خَرَجَ أَجَابَهُ.

"Demikian pula jika ia mendengar adzan saat sedang berada di kamar mandi (buang hajat), maka ia tidak menjawabnya saat itu juga. Namun, setelah ia keluar, barulah ia menjawabnya."

 

فَأَمَّا إِذَا كَانَ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ أَوْ يُسَبِّحُ أَوْ يَقْرَأُ حَدِيْثًا أَوْ عِلْمًا آخَرَ أَوْ غَيْرَ ذٰلِكَ، فَإِنَّهُ يَقْطَعُ جَمِيْعَ هٰذَا وَيُجِيْبُ الْمُؤَذِّنَ، ثُمَّ يَعُوْدُ إِلٰى مَا كَانَ فِيْهِ؛ لِأَنَّ الْإِجَابَةَ تَفُوْتُ، وَمَا هُوَ فِيْهِ لَا يَفُوْتُ غَالِبًا.

"Adapun jika ia sedang membaca Al-Qur'an, bertasbih, membaca hadits, mempelajari ilmu lainnya, atau kegiatan serupa, maka hendaknya ia memutus (menghentikan sejenak) semua aktivitas tersebut untuk menjawab muadzin, kemudian barulah ia kembali melanjutkan apa yang sedang dikerjakannya tadi. Hal ini dikarenakan kesempatan menjawab adzan akan terlewatkan (terbatas waktu), sedangkan aktivitas yang ia kerjakan umumnya tidak akan terlewatkan (bisa ditunda)."

 

وَحَيْثُ لَمْ يُتَابِعْهُ حَتّٰى فَرَغَ الْمُؤَذِّنُ يُسْتَحَبُّ أَنْ يَتَدَارَكَ الْمُتَابَعَةَ مَا لَمْ يَطُلِ الْفَصْلُ. اهـ.

"Sekiranya ia tidak mengikuti (tidak menjawab) muadzin hingga muadzin tersebut selesai, maka disunnahkan baginya untuk menyusul (meng-qodho) jawaban tersebut selama jeda waktunya belum terlalu lama." (Selesai kutipan dari kitab Al-Adzkar)

 

(وَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: ثَلَاثَةٌ فِيْ ظِلِّ الْعَرْشِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ: إِمَامٌ عَادِلٌ) أَيْ أَهْلُ مَمْلَكَتِهِ، (وَمُؤَذِّنٌ حَافِظٌ).

Nabi bersabda: "Ada tiga golongan yang berada di bawah naungan Arasy pada hari di mana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya, yaitu: Imam (pemimpin) yang adil" —yakni adil terhadap rakyat atau wilayah kekuasaannya— "dan Muadzin yang menjaga [lafazh adzan dan waktu sholat]"

 

قَالَ سَيِّدِي الشَّيْخُ عَبْدُ الْقَادِرِ الْجَيْلَانِيُّ: وَيَجِبُ عَلَى الْمُؤَذِّنِ الْاِحْتِرَازُ عَنِ اللَّحْنِ فِي الشَّهَادَتَيْنِ، وَيَكُوْنُ عَارِفًا بِالْأَوْقَاتِ. وَأَنْ لَا يُؤَذِّنَ إِلَّا بَعْدَ دُخُوْلِ الْوَقْتِ إِلَّا فِي الْفَجْرِ خَاصَّةً. وَيَحْتَسِبُ بِأَذَانِهِ وَجْهَ اللّٰهِ تَعَالٰى، وَلَا يَأْخُذُ عَلٰى أَذَانِهِ جَزَاءً، وَيَسْتَقْبِلُ الْقِبْلَةَ بِوَجْهِهِ فِي التَّكْبِيْرِ وَالشَّهَادَتَيْنِ، وَيُوَلِّيْ وَجْهَهُ يَمِيْنًا وَشِمَالًا فِي الدُّعَاءِ إِلَى الصَّلَاةِ. وَإِذَا أَذَّنَ لِصَلَاةِ الْمَغْرِبِ جَلَسَ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ جَلْسَةً خَفِيْفَةً. وَيُكْرَهُ لَهُ أَنْ يُؤَذِّنَ وَهُوَ جُنُبٌ أَوْ مُحْدِثٌ.

Tuanku Syekh Abdul Qodir al-Jailani berkata: "Wajib bagi seorang muadzin untuk menjaga diri dari kesalahan dalam pelafalan (lahn) pada kalimat dua syahadat. Ia juga harus mengetahui waktu-waktu sholat, dan tidak mengumandangkan adzan kecuali setelah masuk waktu sholat—kecuali khusus untuk adzan Subuh [awal]. Ia hendaknya mengharapkan ridho Alloh Ta'ala dengan adzannya, tidak mengambil upah atas adzannya tersebut, serta menghadap kiblat dengan wajahnya saat melafalkan takbir dan syahadat. Ia memalingkan wajahnya ke kanan dan ke kiri saat menyeru/mengajak sholat (ai'alah). Apabila ia mengumandangkan adzan untuk shhlat Maghrib, hendaknya ia duduk sebentar di antara adzan dan iqomah. Dan dimakruhkan baginya mengumandangkan adzan dalam keadaan junub atau berhadats."

 

(وَقَارِئُ الْقُرْآنِ يَقْرَأُ فِيْ كُلِّ لَيْلَةٍ مِائَتَيْ آيَةٍ).

"...Dan pembaca Al-Qur'an yang membaca dua ratus ayat setiap malam."

 

قَالَ سَيِّدِي الشَّيْخُ عَبْدُ الْقَادِرِ الْجَيْلَانِيُّ: وَيُسْتَحَبُّ أَنْ لَا يَنَامَ حَتّٰى يَقْرَأَ ثَلَاثَ مِائَةِ آيَةٍ لِيَدْخُلَ فِيْ زُمْرَةِ الْعَابِدِيْنَ، وَلَا يُكْتَبَ مِنَ الْغَافِلِيْنَ.

Tuanku Syekh Abdul Qodir al-Jailani berkata: "Disunnahkan [bagi pembaca Al-Qur'an] untuk tidak tidur hingga ia membaca 300 ayat agar ia termasuk dalam golongan para ahli ibadah dan tidak dicatat sebagai golongan orang-orang yang lalai."

 

فَلْيَقْرَأْ سُوْرَةَ الْفُرْقَانِ وَالشُّعَرَاءِ فَإِنَّ فِيْهِمَا ثَلَاثَ مِائَةِ آيَةٍ، وَإِنْ لَمْ يُحْسِنْهُمَا قَرَأَ سُوْرَةَ الْوَاقِعَةِ وَنۤ وَالْحَاقَّةِ وَسُوْرَةَ سَأَلَ سَائِلٌ وَالْمُدَّثِّرِ. فَإِنْ لَمْ يُحْسِنْهُنَّ فَلْيَقْرَأْ سُوْرَةَ الطَّارِقِ إِلٰى خَاتِمَةِ الْقُرْآنِ، فَإِنَّهَا ثَلَاثُ مِائَةِ آيَةٍ.

"Maka hendaknya ia membaca surah Al-Furqon dan Asy-Syu'aro', karena pada keduanya terdapat tiga ratus ayat. Jika ia tidak dapat membaguskan bacaan keduanya, maka ia bisa membaca surah Al-Waqi'ah, Al-Qolam (Nūn), Al-Haqqoh, Al-Ma'arij (Sa-ala Sā-il), dan Al-Muddatstsir. Jika ia tidak dapat membaguskan bacaan surah-surah tersebut pula, hendaknya ia membaca mulai dari surah At-Thoriq hingga akhir Al-Qur'an, karena jumlahnya adalah 300 ayat."

 

فَإِنْ قَرَأَ مِقْدَارَ أَلْفِ آيَةٍ كَانَ أَحْسَنَ وَأَكْمَلَ لِلْفَضْلِ، وَكُتِبَ لَهُ قِنْطَارٌ مِنَ الْأَجْرِ، وَكُتِبَ مِنَ الْقَانِتِيْنَ. وَذٰلِكَ مِنْ سُوْرَةِ {تَبَارَكَ الَّذِيْ بِيَدِهِ الْمُلْكُ} إِلٰى خَاتِمَةِ الْقُرْآنِ. فَإِنْ لَمْ يُحْسِنْهَا فَلْيَقْرَأْ مِائَتَيْنِ وَخَمْسِيْنَ مَرَّةً {قُلْ هُوَ اللّٰهُ أَحَدٌ}، فَإِنَّ مَجْمُوْعَهَا أَلْفُ آيَةٍ، أَيْ وَذٰلِكَ مَعَ الْبَسْمَلَةِ.

"Apabila ia membaca hingga kadar 1.000 ayat, maka itu lebih baik dan lebih sempurna keutamaannya; baginya akan dicatat satu qinthor pahala dan ia dicatat sebagai golongan orang yang taat (al-qõnitin). Jumlah [seribu ayat] itu terdapat mulai dari surah Al-Mulk hingga akhir Al-Qur'an. Jika ia tidak dapat membaguskan bacaan seribu ayat tersebut, maka hendaknya ia membaca surah Al-Ikhlas sebanyak 250 kali, karena jumlahnya mencapai seribu ayat (jika dihitung bersama Basmalah)."

________________________________________

📘 CATATAN:

·       Satu Qinthor (قِنْطَارٌ) adalah satuan ukuran harta atau pahala yang sangat besar.

·       Secara harfiah, qinthor berarti "harta yang bertumpuk-tumpuk".

·       Dalam timbangan klasik satu qinthor sering disetarakan dengan 4.000 Dinar.

·       Dalam hitungan modern satu Dinar adalah 4,25 gram emas, maka 1 qinthor setara dengan 17 Kg emas. Ini menggambarkan jumlah yang sangat fantastis bagi seorang individu.

________________________________________

 

وَيَنْبَغِيْ أَنْ لَا يَدَعَ قِرَاءَةَ أَرْبَعِ سُوَرٍ فِيْ كُلِّ لَيْلَةٍ: {الٰــمۤ تَنْزِيْلُ السَّجْدَةِ} وَسُوْرَةَ يٰسۤ وَحٰــمۤ الدُّخَانِ وَتَبَارَكَ. وَإِنْ قَرَأَ مَعَهَا سُوْرَةَ الْمُزَّمِّلِ وَالْوَاقِعَةِ كَانَ أَحْسَنَ.

"Hendaknya pula ia tidak meninggalkan membaca empat surah setiap malam, yaitu: Al-Sajdah, Yasin, Ad-Dukhon, dan Al-Mulk. Jika ia menambahnya dengan surah Al-Muzzammil dan Al-Waqi'ah, maka itu lebih baik."

 

كَانَ النَّبِيُّ ﷺ لَا يَنَامُ حَتّٰى يَقْرَأَ السَّجْدَةَ وَتَبَارَكَ الْمُلْكُ. وَفِيْ خَبَرٍ آخَرَ: حَتّٰى يَقْرَأَ سُوْرَةَ بَنِيْ إِسْرَائِيْلَ وَالزُّمَرِ. وَفِيْ خَبَرٍ آخَرَ: حَتّٰى يَقْرَأَ الْمُسَبِّحَاتِ، وَيُقَالُ فِيْهَا آيَةٌ أَفْضَلُ مِنْ مِائَةِ أَلْفِ آيَةٍ.

"Dahulu Nabi tidak akan tidur hingga beliau membaca surah As-Sajdah dan Al-Mulk. Dalam riwayat lain disebutkan: hingga beliau membaca surah Bani Isroil (Al-Isro') dan Az-Zumar. Dan dalam riwayat lainnya: hingga beliau membaca Al-Musabbiāt (surah-surah yang diawali dengan tasbih), dan dikatakan bahwa di dalamnya terdapat satu ayat yang lebih utama dari 100.000 ayat."

 

 

Mahbar bin Abhar, Jin Pembela Nabi

  Terjemah kitab Al-Mawa'izhul Ushfuriyyah ( الْمَوَاعِظُ الْعُصْفُوْرِيَّةُ )   اَلْحَدِيْثُ التَّاسِعَ عَشَرَ Hadits Kesembilan ...