Monday, March 23, 2026

FADHILAH ADZAN

Terjemah kitab Tanqihul Qoul (تَنْقِيْحُ الْقَوْلِ) karya Syeh Nawawi Banten


(الْبَابُ الثَّامِنُ: فِيْ فَضِيْلَةِ الْأَذَانِ)

Bab Kedelapan: Keutamaan Adzan

 

وَقِيْلَ فِيْ تَفْسِيْرِ قَوْلِهِ عَزَّ وَجَلَّ: {وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى ٱللّٰهِ وَعَمِلَ صَالِحًا}، نَزَلَتْ هٰذِهِ الْآيَةُ فِي الْمُؤَذِّنِيْنَ.

Dikatakan dalam tafsir firman Alloh 'azza wajalla: "Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Alloh dan mengerjakan amal sholeh?" (QS. Fussilat: 33). Bahwa ayat ini turun berkenaan dengan para muadzin (orang yang mengumandangkan adzan).

 

(قَالَ ﷺ: مَنْ أَذَّنَ لِلصَّلَاةِ سَبْعَ سِنِيْنَ مُحْتَسِبًا) أَيْ مِنْ غَيْرِ أُجْرَةٍ (كَتَبَ اللّٰهُ لَهُ بَرَاءَةً مِنَ النَّارِ) رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ وَابْنُ مَاجَهْ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ.

Nabi bersabda: "Barangsiapa yang mengumandangkan adzan untuk sholat selama tujuh tahun secara muhtasiban" —yakni semata-mata mengharap pahala tanpa mengambil upah— "maka Alloh akan menetapkan baginya kebebasan dari api neraka." (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah dari Ibnu Abbas)

 

(وَقَالَ ﷺ: مَنْ أَذَّنَ اثْنَتَيْ عَشْرَةَ سَنَةً) أَيْ مُحْتَسِبًا (وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ) رَوَاهُ ابْنُ مَاجَهْ وَالْحَاكِمُ عَنِ ابْنِ عُمَرَ.

Nabi bersabda: "Barangsiapa yang mengumandangkan adzan selama dua belas tahun"—yakni secara muhtasib (mengharap pahala)—"maka wajib baginya surga." (HR. Ibnu Majah dan Al-Hakim dari Ibnu Umar)

 

وَحِكْمَةُ ذٰلِكَ أَنَّ أَكْثَرَ مَا يُعَمَّرُ الْإِنْسَانُ مِنْ أُمَّةِ النَّبِيِّ ﷺ مِائَةٌ وَعِشْرُوْنَ سَنَةً، وَالْاِثْنَتَا عَشْرَةَ هٰذِهِ عُشْرُ هٰذَا الْعُمْرِ، وَمِنْ سُنَّةِ اللّٰهِ أَنَّ الْعُشْرَ يَقُوْمُ مَقَامَ الْكُلِّ، كَمَا قَالَ اللّٰهُ تَعَالٰى: {مَنْ جَاءَ بِٱلْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا}.

Adapun hikmah dari hal tersebut adalah: Bahwa batas maksimal usia manusia dari umat Nabi umumnya adalah 120 tahun. Masa dua belas tahun ini merupakan sepersepuluh dari total usia tersebut. Sudah menjadi sunnatulloh (ketentuan Alloh) bahwa nilai sepersepuluh dapat mewakili keseluruhan, sebagaimana firman Alloh Ta'ala: "Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya." (QS. Al-An'am: 160).

 

وَأَمَّا حَدِيْثُ مَنْ أَذَّنَ سَبْعَ سِنِيْنَ فَإِنَّهَا عُشْرُ الْعُمْرِ الْغَالِبِ، كَذَا قَالَ بَعْضُ الْمُحَدِّثِيْنَ.

Sedangkan mengenai hadits [sebelumnya] tentang orang yang mengumandangkan adzan selama tujuh tahun, maka itu adalah hitungan sepersepuluh dari usia rata-rata (umumnya umat Nabi yakni 60-70 tahun). Demikianlah penjelasan yang disampaikan oleh sebagian ahli hadits.

 

(وَقَالَ ﷺ: مَنْ أَذَّنَ خَمْسَ صَلَوَاتٍ إِيْمَانًا) أَيْ تَصْدِيْقًا بِأَنَّ الْأَذَانَ مِنْ أُمُوْرِ الشَّرِيْعَةِ (وَاحْتِسَابًا) أَيْ طَلَبًا لِلْأَجْرِ مِنَ اللّٰهِ تَعَالٰى (غُفِرَ لَهُ) بِالْبِنَاءِ لِلْمَفْعُوْلِ (مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ) أَيْ مِنَ الصَّغَائِرِ. رَوَاهُ الْبَيْهَقِيُّ عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ بِإِسْنَادٍ ضَعِيْفٍ.

Nabi bersabda: "Barangsiapa yang mengumandangkan adzan untuk sholat lima waktu karena iman" —yakni membenarkan bahwa adzan adalah bagian dari syari'at— "dan ihtisab" —yakni semata-mata mencari pahala dari Alloh Ta'ala— "maka diampunilah baginya dosa-dosa yang telah lalu" —yaitu dosa-dosa kecil. (HR. Al-Baihaqi dari Abu Huroiroh dengan sanad yang dhoif)

 

وَالْخَمْسُ صَادِقَةٌ بِأَنْ تَكُوْنَ مِنْ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ أَوْ مِنْ أَيَّامٍ.

Frasa "lima waktu" di sini bisa berarti dilakukan dalam satu hari satu malam, atau dilakukan secara terpisah di hari-hari yang berbeda.

 

(وَقَالَ ﷺ: ثَلَاثَةٌ يَعْصِمُهُمُ اللّٰهُ تَعَالٰى مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ: الشَّهِيْدُ)

Nabi bersabda: "Ada tiga golongan yang Alloh Ta'ala pelihara dari azab/siksa kubur, yaitu: Orang yang mati syahid..."

 

وَهُوَ يَصْدُقُ عَلٰى شَهِيْدِ الْآخِرَةِ فَقَطْ، كَمَنْ قُتِلَ ظُلْمًا، وَلَوْ بِحَسَبِ الْهَيْئَةِ، كَمَنْ اِسْتَحَقَّ الْقَتْلَ بِقَطْعِ الرَّأْسِ، فَقُتِلَ بِالتَّوَسُّطِ مَثَلًا. وَمَنْ مَاتَ بِغَرَقٍ وَإِنْ عَصٰى فِيْهِ بِنَحْوِ شُرْبِ خَمْرٍ، بِخِلَافِ مَنْ غَرِقَ بِسَيْرِ سَفِيْنَةٍ فِيْ وَقْتِ هَيَجَانِ الرِّيْحِ فَلَيْسَ بِشَهِيْدٍ.

Yang dimaksud "mati syahid" di sini adalah mencakup Syahid Akhirat saja, seperti:

  • Orang yang dibunuh secara zalim, meskipun secara teknis ia berhak dihukum mati dengan hukuman penggal kepala namun dibunuh dengan cara lain, misalnya dengan cara dibelah bagian tengah tubuhnya.
  • Orang yang mati tenggelam, meskipun ia sedang bermaksiat saat itu, seperti meminum khamr (arak); berbeda dengan orang yang tenggelam karena nekat berlayar saat badai besar, maka ia bukan mati syahid.

 

وَمَنْ مَاتَ بِهَدْمٍ أَوْ حَرِيْقٍ. وَمَنْ مَاتَ غَرِيْبًا وَإِنْ عَصٰى بِغُرْبَتِهِ كَآبِقٍ وَنَاشِزَةٍ. وَمَنْ مَاتَ فِيْ طَلَبِ الْعِلْمِ وَلَوْ عَلٰى فِرَاشِهِ. وَمَنْ مَاتَ مَبْطُوْنًا. وَمَنْ مَاتَ بِالطَّاعُوْنِ وَلَوْ فِيْ غَيْرِ زَمَنِهِ أَوْ بِغَيْرِهِ فِيْ زَمَنِهِ أَوْ بَعْدَهُ حَيْثُ كَانَ صَابِرًا مُحْتَسِبًا.

  • Orang yang mati tertimpa bangunan atau terbakar.
  • Orang yang mati dalam pengasingan (perantauan), meskipun ia bermaksiat dalam pengasingannya tersebut; seperti budak yang kabur atau istri yang nusyuz (minggat).
  • Orang yang mati saat menuntut ilmu, meskipun matinya di atas tempat tidurnya.
  • Orang yang mati karena penyakit perut.
  • Orang yang mati karena penyakit tho'un (wabah pes/kolera), meskipun matinya bukan di masa wabah itu terjadi; atau mati karena penyakit lain di masa terjadinya wabah tersebut; atau mati setelah masa wabah berakhir; selama ia bersabar dan berharap pahala (muhtasiban).

 

وَمَنْ مَاتَ عِشْقًا بِشَرْطِ الْكَفِّ عَنِ الْمَحَارِمِ حَتّٰى عَنِ النَّظَرِ، بِحَيْثُ لَوِ اخْتَلٰى بِمَحْبُوْبِهِ لَمْ يَتَجَاوَزِ الشَّرْعَ، وَبِشَرْطِ الْكِتْمَانِ حَتّٰى عَنْ مَعْشُوْقِهِ. وَكَالْمَرْأَةِ الَّتِيْ مَاتَتْ طَلْقًا وَلَوْ مِنْ زِنًى إِذَا لَمْ تَتَسَبَّبْ فِيْ إِسْقَاطِ الْوَلَدِ، وَكَذَا مَنْ مَاتَ فَجْأَةً أَوْ فِيْ دَارِ الْحَرْبِ، قَالَهُ ابْنُ الرِّفْعَةِ.

  • Orang yang mati karena jatuh cinta ('isyq), dengan syarat: menjaga diri dari hal yang haram bahkan dari memandang, sekiranya ia berduaan dengan kekasihnya (orang yang dicintainya) ia tidak melanggar syari'at, serta dengan syarat merahasiakan cintanya bahkan dari orang yang dicintainya.
  • Wanita yang mati saat melahirkan, meskipun dari hasil zina, selama ia tidak sengaja menggugurkan kandungannya.
  • Orang yang mati mendadak atau mati di wilayah perang (Darul Harb), sebagaimana dinyatakan oleh Ibnu Al-Rif’ah.

 

وَمَعْنَى الشَّهَادَةِ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُوْنَ كَمَا قَالَهُ الْحِصْنِيُّ.

Makna "syahadah" (mati syahid) bagi mereka adalah bahwa mereka hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki, sebagaimana dinyatakan oleh imam Al-Hishni.

 

وَيَصْدُقُ أَيْضًا عَلٰى شَهِيْدِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ مَعًا، وَهُوَ مَنْ مَاتَ بِسَبَبٍ مِنْ أَسْبَابِ قِتَالِ الْمُشْرِكِيْنَ لِإِعْلَاءِ دِيْنِ اللّٰهِ لَا لِرِيَاءٍ وَسُمْعَةٍ.

Dan makna "syahadah" (mati syahid) di sini juga mencakup Syahid Dunia dan Akhirat sekaligus, yaitu mereka yang wafat dalam peperangan melawan kaum musyrikin demi meninggikan (meluhurkan) agama Alloh, bukan karena riya' (pamer) atau mencari reputasi.

 

بِخِلَافِ شَهِيْدِ الدُّنْيَا فَقَطْ، فَلَا يَدْخُلُ فِيْ هٰذَا الْحُكْمِ، وَهُوَ مَنْ مَاتَ فِيْ قِتَالِ الْكُفَّارِ مُدْبِرًا عَلٰى وَجْهٍ غَيْرِ مَرْضِيٍّ شَرْعًا، أَوْ مَاتَ بِقِتَالِهِمْ رِيَاءً وَسُمْعَةً.

Berbeda halnya dengan Syahid Dunia saja, maka ia tidak termasuk ke dalam hukum [pembebasan dari azab kubur] ini, yaitu mereka yang mati dalam perang melawan kaum kafir namun dalam keadaan melarikan diri (mundur) dengan cara yang tidak diridhoi syari'at, atau mati karena riya dan mencari ketenaran.

 

(وَالْمُؤَذِّنُ) أَيْ لِوَجْهِ اللّٰهِ تَعَالٰى لَا لِطَلَبِ أُجْرٍ مِنْ أَحَدٍ.

"Dan [terrmasuk tiga golongan yang Alloh Ta'ala pelihara dari azab kubur adalah] Muadzin (orang yang adzan)"—yakni yang mengumandangkan adzan semata-mata karena Alloh Ta'ala, bukan untuk mencari upah dari siapapun.

 

(وَالْمُتَوَفّٰى) بِفَتْحِ الْفَاءِ (يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَلَيْلَةَ الْجُمُعَةِ).

"Dan [terrmasuk tiga golongan yang Alloh Ta'ala pelihara dari azab kubur adalah] orang yang wafat pada hari Jum'at atau malam Jum'at." —kata "al-mutawaffā" dengan dibaca fathah huruf fa'-nya.

 

قَالَ بَعْضُهُمْ: فَمَنْ مَاتَ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَوْ لَيْلَتَهُ، إِنْ عُذِّبَ كَانَ عَذَابُهُ سَاعَةً وَاحِدَةً، ثُمَّ يَنْقَطِعُ وَلَا يَعُوْدُ إِلٰى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَكَذٰلِكَ ضَغْطَةُ الْقَبْرِ، وَاللّٰهُ أَعْلَمُ.

Sebagian ulama berkata: Barangsiapa di antara kaum mukminin yang wafat pada hari Jum'at atau malam Jum'at, jika ia diazab, maka azabnya hanya sesaat kemudian terputus dan tidak akan kembali lagi hingga hari kiamat. Demikian pula dengan urusan dhoghthotul qobr (himpitan kubur). Wallõhu a'lam.

 

(وَقَالَ ﷺ: لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ) وُضِعَ الْمُضَارِعُ مَوْضِعَ الْمَاضِيْ لِيُفِيْدَ اسْتِمْرَارَ الْعِلْمِ

Nabi bersabda: "Seandainya manusia mengetahui..." —penggunaan fi'il mudhori' (kata kerja bentuk sekarang) di sini menggantikan fi'il madhi (kata kerja bentuk lampau) untuk menunjukkan kesinambungan pengetahuan tersebut—

 

(مَا فِي النِّدَاءِ) أَيْ التَّأْذِيْنِ (وَالصَّفِّ الْأَوَّلِ) أَيْ مِنَ الْفَضْلِ (ثُمَّ لَمْ يَجِدُوْا) وَفِيْ رِوَايَةٍ: لَا يَجِدُوْا بِـ«لَا» النَّافِيَةِ، وَبِحَذْفِ نُوْنِ الرَّفْعِ، وَهُوَ ثَابِتٌ لُغَةً

"...apa yang ada pada seruan (adzan) dan shof pertama" —yakni keutamaannya— "kemudian mereka tidak mendapatkan jalan" —dalam sebuah riwayat yang lain menggunakan nafiah (peniadaan) dengan membuang nun alamat rofa', yang mana hal ini tetap dibenarkan secara bahasa—

 

(إِلَّا أَنْ يَسْتَهِمُوْا) بِتَخْفِيْفِ الْمِيْمِ (عَلَيْهِ) أَيْ الْمَذْكُوْرِ مِنَ الْأَذَانِ وَالصَّفِّ الْأَوَّلِ (لَاسْتَهَمُوْا).

"kecuali dengan cara melakukan undian untuknya…" → kata "yastahimū" (melakukan undian) dengan diringankan (tanpa tasydid) huruf mim-nya —maksudnya adalah undian untuk adzan dan shof pertama tersebut— "niscaya mereka benar-benar akan melakukan undian."

 

وَالْمَعْنٰى: لَوْ عَلِمُوْا فَضِيْلَةَ الْأَذَانِ وَالصَّفِّ الْأَوَّلِ وَعَظِيْمَ جَزَائِهِمَا، ثُمَّ لَا يَجِدُوْنَ طَرِيْقًا يَحْصُلُوْنَهُمَا بِهِ لِضِيْقِ الْوَقْتِ، أَوْ لِكَوْنِهِ لَا يُؤَذَّنُ لِلْمَسْجِدِ إِلَّا وَاحِدٌ، لَاقْتَرَعُوْا فِيْ تَحْصِيْلِهِمَا.

Maknanya: Seandainya mereka mengetahui keutamaan adzan dan shof pertama [sholat berjamaah] serta besarnya pahala keduanya, kemudian mereka tidak mendapati jalan untuk meraihnya karena sempitnya waktu, atau karena masjid tersebut hanya boleh memiliki satu muadzin, niscaya mereka akan melakukan undian (qur'ah) demi mendapatkannya.

 

(وَلَوْ يَعْلَمُوْنَ مَا فِي التَّهْجِيْرِ) أَيْ التَّبْكِيْرِ بِأَيِّ صَلَاةٍ كَانَ، وَلَا يُعَارِضُهُ أَمْرُ الْإِبْرَادِ لِلظُّهْرِ؛ لِأَنَّهُ تَأْخِيْرٌ قَلِيْلٌ (لَاسْتَبَقُوْا إِلَيْهِ) أَيْ التَّهْجِيْرَ.

"Dan seandainya mereka mengetahui apa yang ada pada bergegas-gegas" —yakni menyegerakan datang di awal waktu untuk sholat apa pun. Hal ini tidak bertentangan dengan perintah ibrod (menunda sejenak hingga cuaca agak dingin) untuk sholat Zuhur, karena penundaan tersebut hanya sedikit— "niscaya mereka akan berlomba-lomba kepadanya." —yakni [berlomba untuk] bergegas-gegas.

 

(وَلَوْ يَعْلَمُوْنَ مَا فِي الْعَتَمَةِ وَالصُّبْحِ) أَيْ مَا فِيْ صَلَاةِ الْعِشَاءِ وَالصُّبْحِ فِيْ جَمَاعَةٍ مِنَ الثَّوَابِ (لَأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا) بِفَتْحِ الْحَاءِ وَسُكُوْنِ الْمُوَحَّدَةِ، أَيْ وَلَوْ كَانَ الْإِتْيَانُ مَشْيًا عَلَى الرُّكَبِ وَالْيَدَيْنِ. رَوَاهُ مَالِكٌ وَأَحْمَدُ وَالْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ وَالنَّسَائِيُّ وَأَبُوْ دَاوُدَ عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ.

"Dan seandainya mereka mengetahui apa yang ada pada al-'atamah (Isyak) dan Subuh" —yakni pahala yang ada dalam sholat Isyak dan Subuh secara berjamaah— "niscaya mereka akan mendatangi keduanya walaupun dengan merangkak (abwan)" —yakni meskipun harus datang dengan berjalan menggunakan lutut dan tangan. (HR. Malik, Ahmad, Bukhori, Muslim, Nasai, dan Abu Daud dari Abu Huroiroh)

 

(وَقَالَ ﷺ: مَنْ سَمِعَ النِّدَاءَ) أَيْ الْأَذَانَ (فَقَبَّلَ إِبْهَامَيْهِ) أَيْ بِالْفَمِ (فَوَضَعَ) أَيِ الْإِبْهَامَيْنِ (عَلٰى عَيْنَيْهِ وَقَالَ مَرْحَبًا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَعَالٰى قُرَّةُ أَعْيُنِنَا بِكَ يَا رَسُوْلَ اللّٰهِ، فَأَنَا شَفِيْعُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَقَائِدُهُ إِلَى الْجَنَّةِ.

Nabi bersabda: "Barangsiapa yang mendengar seruan (adzan), lalu ia mencium kedua ibu jarinya" —yakni dengan mulut— "kemudian meletakkan (kedua ibu jari tersebut) pada kedua matanya sembari berucap: 'Maraban bi dzikrillāhi Ta'āla, qurrotu a'yuninā bika yā Rosūlullõh' (Selamat datang sebutan Alloh Ta'ala, wahai Rosululloh engkaulah penyejuk pandangan mata kami), maka aku adalah pemberi syafaat baginya di hari kiamat dan penuntunnya menuju surga."

 

وَقَالَ ﷺ: إِذَا كَانَ) أَيْ جَاءَ (وَقْتُ الْأَذَانِ فُتِحَتْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَاسْتُجِيْبَ الدُّعَاءُ، وَإِذَا كَانَ وَقْتُ الْإِقَامَةِ لَمْ تُرَدَّ دَعْوَتُهُ).

Dan Nabi juga bersabda: "Apabila telah datang waktu adzan, maka pintu-pintu langit akan dibuka dan doa-doa dikabulkan. Dan apabila tiba waktu iqomah, maka doa seseorang tidak akan ditolak."

 

قَالَ النَّوَوِيُّ فِي الْأَذْكَارِ: رَوَيْنَا عَنْ أَنَسٍ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللّٰهِ ﷺ: «لَا يُرَدُّ الدُّعَاءُ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ». رَوَاهُ أَبُوْ دَاوُدَ وَالتِّرْمِذِيُّ وَالنَّسَائِيُّ وَابْنُ السُّنِّيِّ وَغَيْرُهُمْ.

Imam An-Nawawi dalam kitab Al-Adzkar menyebutkan: Kami telah meriwayatkan dari Anas r.a., ia berkata: Rosululloh bersabda: "Doa di antara adzan dan iqomah tidak akan ditolak." (HR. Abu Daud, Tirmidzi, Nasai, Ibnu Sunni, dan lainnya)

 

وَزَادَ التِّرْمِذِيُّ فِيْ رِوَايَتِهِ: قَالُوْا: فَمَاذَا نَقُوْلُ يَا رَسُوْلَ اللّٰهِ؟ قَالَ: «سَلُوْا اللّٰهَ الْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ». اهـ.

Imam Tirmidzi menambahkan dalam riwayatnya, para sahabat bertanya: "Lalu apa yang harus kami ucapkan (kami minta) wahai Rosululloh?" Beliau menjawab: "Mintalah kepada Alloh al-'afiyah (keselamatan/kesejahteraan) di dunia dan akhirat."

 

(وَقَالَ ﷺ: مَنْ قَالَ عِنْدَ الْأَذَانِ: مَرْحَبًا بِالْقَائِلِيْنَ عَدْلًا، مَرْحَبًا بِالصَّلَوَاتِ وَأَهْلًا، كَتَبَ اللّٰهُ تَعَالٰى لَهُ أَلْفَ حَسَنَةٍ، وَمَحَا عَنْهُ أَلْفَ سَيِّئَةٍ، وَرَفَعَ لَهُ أَلْفَ دَرَجَةٍ.

Nabi bersabda: "Barangsiapa yang ketika mendengar adzan mengucapkan: 'Marhaban bil qõ-ilîna 'adlan, marhaban bish-sholawāti wa ahlan' (Selamat datang bagi para penyeru keadilan, selamat datang dan selamat tiba waktu sholat), maka Alloh Ta'ala menuliskan baginya seribu kebaikan, menghapus darinya seribu keburukan, dan mengangkat baginya seribu derajat."

 

وَقَالَ ﷺ: مَنْ سَمِعَ الْأَذَانَ وَلَمْ يَقُلْ مِثْلَ مَا قَالَ الْمُؤَذِّنُ فَإِنَّهُ يُمْنَعُ مِنَ السُّجُوْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِذَا سَجَدَ الْمُؤَذِّنُوْنَ).

Nabi bersabda: "Barangsiapa yang mendengar adzan namun tidak mengucapkan (tidak menjawab) seperti apa yang diucapkan oleh muadzin, maka sesungguhnya ia akan terhalang untuk bersujud pada hari kiamat, di saat para muadzin bersujud."

 

وَرُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: «إِذَا سَمِعْتُمُ النِّدَاءَ فَقُوْلُوْا مِثْلَ مَا يَقُوْلُ الْمُؤَذِّنُ». رَوَاهُ مَالِكٌ وَأَحْمَدُ وَأَبُوْ دَاوُدَ وَالتِّرْمِذِيُّ وَالنَّسَائِيُّ وَابْنُ مَاجَهَ.

Diriwayatkan bahwasanya Nabi bersabda: "Apabila kalian mendengar adzan, maka ucapkanlah seperti apa yang diucapkan oleh muadzin." (HR. Malik, Ahmad, Abu Daud, Tirmidzi, Nasai, dan Ibnu Majah)

 

قَالَ الْمُنَاوِيُّ: إِجَابَةُ الْمُؤَذِّنِ مَنْدُوْبٌ، وَقِيْلَ: وَاجِبٌ.

Imam Al-Munawi berkata: "Menjawab muadzin hukumnya adalah mandub (sunnah), namun ada pula yang berpendapat wajib."

 

قَوْلُهُ: مَا يَقُوْلُ، وَلَمْ يَقُلْ: مِثْلَ مَا قَالَ الْمَاضِيْ؛ لِيُشْعِرَ بِأَنَّهُ يُجِيْبُهُ بَعْدَ كُلِّ كَلِمَةٍ.

Mengenai sabda beliau "seperti apa yang ia (muadzin) ucapkan" (menggunakan bentuk mudhori'/present): Beliau tidak menggunakan kata "seperti apa yang telah ia ucapkan" (bentuk madhi/past) untuk memberi isyarat bahwa seseorang hendaknya menjawab muadzin setelah setiap kalimat diucapkan (secara beriringan).

 

وَلَمْ يَقُلْ: مِثْلَ مَا تَسْمَعُوْنَ إِيْمَاءً إِلٰى أَنَّهُ يُجِيْبُهُ فِي التَّرْجِيْعِ، أَيْ وَإِنْ لَمْ يَسْمَعْ.

Beliau juga tidak bersabda "seperti apa yang kalian dengar", hal ini sebagai isyarat agar seseorang tetap menjawab muadzin dalam bagian Tarji' (pengulangan syahadat dengan suara lirih sebelum suara keras), yakni meskipun ia tidak mendengarnya secara jelas.

________________________________________

Tata Cara Praktik Tarji'.

Urutan praktiknya adalah sebagai berikut:

  1. Muadzin mengucapkan Allohu Akbar (4x) dengan suara keras.
  2. Sebelum masuk ke Asyhadu alla ilaha illalloh, muadzin membacanya terlebih dahulu sebanyak 2x dengan suara rendah/lirih.
  3. Muadzin membaca Asyhadu anna Muhammadar Rosululloh sebanyak 2x juga dengan suara rendah/lirih.
  4. Setelah itu, muadzin kembali mengulang kedua kalimat syahadat tersebut (masing-masing 2x) dengan suara keras sebagaimana mestinya.

________________________________________

 

قَوْلُهُ: مِثْلَ مَا يَقُوْلُ الْمُؤَذِّنُ ظَاهِرُهُ أَنَّهُ يَقُوْلُ مِثْلَ قَوْلِهِ فِيْ جَمِيْعِ الْكَلِمَاتِ، لٰكِنْ وَرَدَتْ أَحَادِيْثُ بِاسْتِثْنَاءِ حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ وَحَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ، وَأَنَّهُ يَقُوْلُ بَيْنَهُمَا: لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللّٰهِ، وَهٰذَا هُوَ ٱلْمَشْهُوْرُ عِنْدَ الْجُمْهُوْرِ.

Sabda Nabi: "seperti apa yang diucapkan muadzin" secara zahir menunjukkan bahwa seseorang harus mengucapkan kalimat yang sama persis dalam semua lafal. Namun, telah warid (datang) hadits-hadits lain yang mengecualikan kalimat Hayya 'alash-sholāh dan Hayya 'alal-falāh (kedua kalimat ini disebut dengan ai'alah), di mana seseorang hendaknya mengucapkan di antara keduanya: aula walā quwwata illā billāh (auqolah). Inilah pendapat yang masyhur di kalangan Jumhur (mayoritas ulama).

 

وَعِنْدَ الْحَنَابِلَةِ وَجْهٌ أَنَّهُ يَجْمَعُ بَيْنَ الْحَيْعَلَةِ وَالْحَوْقَلَةِ.

Sedangkan di kalangan Madzhab Hanbali, terdapat satu pandangan bahwa seseorang boleh menggabungkan antara ai'alah (ayya 'ala ...) dan auqolah (Lā aula ...).

 

وَقَالَ الْأَذْرَعِيُّ: وَقَدْ يُقَالُ الْأَوْلٰى أَنْ يَقُوْلَهُمَا. كَذَا قَالَهُ الْعَزِيزِيُّ نَقْلًا عَنِ الْعَلْقَمِيِّ. ثُمَّ قَالَ الْعَزِيزِيُّ: قُلْتُ، وَهُوَ الْأَوْلٰى لِلْخُرُوْجِ مِنْ خِلَافِ مَنْ قَالَ بِهِ مِنَ الْحَنَابِلَةِ، وَأَكْثَرُ الْأَحَادِيْثِ عَلَى الْإِطْلَاقِ. انْتَهٰى.

Syeh Al-Adzro'i berkata: "Ada yang berpendapat bahwa yang lebih utama adalah mengucapkan keduanya (ai'alah dan auqolah sekaligus)." Demikian pula yang dikatakan oleh Al-'Azizi saat menukil pendapat dari Al-'Alqomi. Kemudian Al-'Azizi berkata: "Aku berpendapat, hal itu (mengucapkan keduanya) lebih utama demi keluar dari khilaf (perbedaan pendapat) dengan ulama Hanbali yang berpendapat demikian, apalagi sebagian besar hadits menyebutkan perintah ini secara mutlak (tanpa pengecualian)." Selesai.

 

وَقَالَ النَّوَوِيُّ فِي الْأَذْكَارِ: إِذَا سَمِعَ الْمُؤَذِّنَ أَوِ الْمُقِيْمَ وَهُوَ يُصَلِّيْ لَمْ يُجِبْهُ فِي الصَّلَاةِ، فَإِذَا سَلَّمَ مِنْهَا أَجَابَهُ كَمَا يُجِيْبُهُ مَنْ لَا يُصَلِّيْ. فَلَوْ أَجَابَهُ فِي الصَّلَاةِ كُرِهَ، وَلَمْ تَبْطُلْ صَلَاتُهُ.

Imam An-Nawawi berkata dalam kitab Al-Adzkar: "Apabila seseorang mendengar muadzin (orang yang adzan) atau muqim (orang yang iqomah) sedangkan ia sedang dalam keadaan sholat, maka ia tidak boleh menjawabnya di dalam sholat tersebut. Namun, setelah ia salam, ia menjawabnya sebagaimana orang yang tidak sedang sholat menjawabnya. Jika ia tetap menjawabnya [dengan lisan] di dalam sholat, maka hukumnya makruh, meskipun sholatnya tidak batal."

 

وَهٰكَذَا إِذَا سَمِعَهُ وَهُوَ عَلَى الْخَلَاءِ لَا يُجِيْبُهُ فِي الْحَالِ، فَإِذَا خَرَجَ أَجَابَهُ.

"Demikian pula jika ia mendengar adzan saat sedang berada di kamar mandi (buang hajat), maka ia tidak menjawabnya saat itu juga. Namun, setelah ia keluar, barulah ia menjawabnya."

 

فَأَمَّا إِذَا كَانَ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ أَوْ يُسَبِّحُ أَوْ يَقْرَأُ حَدِيْثًا أَوْ عِلْمًا آخَرَ أَوْ غَيْرَ ذٰلِكَ، فَإِنَّهُ يَقْطَعُ جَمِيْعَ هٰذَا وَيُجِيْبُ الْمُؤَذِّنَ، ثُمَّ يَعُوْدُ إِلٰى مَا كَانَ فِيْهِ؛ لِأَنَّ الْإِجَابَةَ تَفُوْتُ، وَمَا هُوَ فِيْهِ لَا يَفُوْتُ غَالِبًا.

"Adapun jika ia sedang membaca Al-Qur'an, bertasbih, membaca hadits, mempelajari ilmu lainnya, atau kegiatan serupa, maka hendaknya ia memutus (menghentikan sejenak) semua aktivitas tersebut untuk menjawab muadzin, kemudian barulah ia kembali melanjutkan apa yang sedang dikerjakannya tadi. Hal ini dikarenakan kesempatan menjawab adzan akan terlewatkan (terbatas waktu), sedangkan aktivitas yang ia kerjakan umumnya tidak akan terlewatkan (bisa ditunda)."

 

وَحَيْثُ لَمْ يُتَابِعْهُ حَتّٰى فَرَغَ الْمُؤَذِّنُ يُسْتَحَبُّ أَنْ يَتَدَارَكَ الْمُتَابَعَةَ مَا لَمْ يَطُلِ الْفَصْلُ. اهـ.

"Sekiranya ia tidak mengikuti (tidak menjawab) muadzin hingga muadzin tersebut selesai, maka disunnahkan baginya untuk menyusul (meng-qodho) jawaban tersebut selama jeda waktunya belum terlalu lama." (Selesai kutipan dari kitab Al-Adzkar)

 

(وَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: ثَلَاثَةٌ فِيْ ظِلِّ الْعَرْشِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ: إِمَامٌ عَادِلٌ) أَيْ أَهْلُ مَمْلَكَتِهِ، (وَمُؤَذِّنٌ حَافِظٌ).

Nabi bersabda: "Ada tiga golongan yang berada di bawah naungan Arasy pada hari di mana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya, yaitu: Imam (pemimpin) yang adil" —yakni adil terhadap rakyat atau wilayah kekuasaannya— "dan Muadzin yang menjaga [lafazh adzan dan waktu sholat]"

 

قَالَ سَيِّدِي الشَّيْخُ عَبْدُ الْقَادِرِ الْجَيْلَانِيُّ: وَيَجِبُ عَلَى الْمُؤَذِّنِ الْاِحْتِرَازُ عَنِ اللَّحْنِ فِي الشَّهَادَتَيْنِ، وَيَكُوْنُ عَارِفًا بِالْأَوْقَاتِ. وَأَنْ لَا يُؤَذِّنَ إِلَّا بَعْدَ دُخُوْلِ الْوَقْتِ إِلَّا فِي الْفَجْرِ خَاصَّةً. وَيَحْتَسِبُ بِأَذَانِهِ وَجْهَ اللّٰهِ تَعَالٰى، وَلَا يَأْخُذُ عَلٰى أَذَانِهِ جَزَاءً، وَيَسْتَقْبِلُ الْقِبْلَةَ بِوَجْهِهِ فِي التَّكْبِيْرِ وَالشَّهَادَتَيْنِ، وَيُوَلِّيْ وَجْهَهُ يَمِيْنًا وَشِمَالًا فِي الدُّعَاءِ إِلَى الصَّلَاةِ. وَإِذَا أَذَّنَ لِصَلَاةِ الْمَغْرِبِ جَلَسَ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ جَلْسَةً خَفِيْفَةً. وَيُكْرَهُ لَهُ أَنْ يُؤَذِّنَ وَهُوَ جُنُبٌ أَوْ مُحْدِثٌ.

Tuanku Syekh Abdul Qodir al-Jailani berkata: "Wajib bagi seorang muadzin untuk menjaga diri dari kesalahan dalam pelafalan (lahn) pada kalimat dua syahadat. Ia juga harus mengetahui waktu-waktu sholat, dan tidak mengumandangkan adzan kecuali setelah masuk waktu sholat—kecuali khusus untuk adzan Subuh [awal]. Ia hendaknya mengharapkan ridho Alloh Ta'ala dengan adzannya, tidak mengambil upah atas adzannya tersebut, serta menghadap kiblat dengan wajahnya saat melafalkan takbir dan syahadat. Ia memalingkan wajahnya ke kanan dan ke kiri saat menyeru/mengajak sholat (ai'alah). Apabila ia mengumandangkan adzan untuk shhlat Maghrib, hendaknya ia duduk sebentar di antara adzan dan iqomah. Dan dimakruhkan baginya mengumandangkan adzan dalam keadaan junub atau berhadats."

 

(وَقَارِئُ الْقُرْآنِ يَقْرَأُ فِيْ كُلِّ لَيْلَةٍ مِائَتَيْ آيَةٍ).

"...Dan pembaca Al-Qur'an yang membaca dua ratus ayat setiap malam."

 

قَالَ سَيِّدِي الشَّيْخُ عَبْدُ الْقَادِرِ الْجَيْلَانِيُّ: وَيُسْتَحَبُّ أَنْ لَا يَنَامَ حَتّٰى يَقْرَأَ ثَلَاثَ مِائَةِ آيَةٍ لِيَدْخُلَ فِيْ زُمْرَةِ الْعَابِدِيْنَ، وَلَا يُكْتَبَ مِنَ الْغَافِلِيْنَ.

Tuanku Syekh Abdul Qodir al-Jailani berkata: "Disunnahkan [bagi pembaca Al-Qur'an] untuk tidak tidur hingga ia membaca 300 ayat agar ia termasuk dalam golongan para ahli ibadah dan tidak dicatat sebagai golongan orang-orang yang lalai."

 

فَلْيَقْرَأْ سُوْرَةَ الْفُرْقَانِ وَالشُّعَرَاءِ فَإِنَّ فِيْهِمَا ثَلَاثَ مِائَةِ آيَةٍ، وَإِنْ لَمْ يُحْسِنْهُمَا قَرَأَ سُوْرَةَ الْوَاقِعَةِ وَنۤ وَالْحَاقَّةِ وَسُوْرَةَ سَأَلَ سَائِلٌ وَالْمُدَّثِّرِ. فَإِنْ لَمْ يُحْسِنْهُنَّ فَلْيَقْرَأْ سُوْرَةَ الطَّارِقِ إِلٰى خَاتِمَةِ الْقُرْآنِ، فَإِنَّهَا ثَلَاثُ مِائَةِ آيَةٍ.

"Maka hendaknya ia membaca surah Al-Furqon dan Asy-Syu'aro', karena pada keduanya terdapat tiga ratus ayat. Jika ia tidak dapat membaguskan bacaan keduanya, maka ia bisa membaca surah Al-Waqi'ah, Al-Qolam (Nūn), Al-Haqqoh, Al-Ma'arij (Sa-ala Sā-il), dan Al-Muddatstsir. Jika ia tidak dapat membaguskan bacaan surah-surah tersebut pula, hendaknya ia membaca mulai dari surah At-Thoriq hingga akhir Al-Qur'an, karena jumlahnya adalah 300 ayat."

 

فَإِنْ قَرَأَ مِقْدَارَ أَلْفِ آيَةٍ كَانَ أَحْسَنَ وَأَكْمَلَ لِلْفَضْلِ، وَكُتِبَ لَهُ قِنْطَارٌ مِنَ الْأَجْرِ، وَكُتِبَ مِنَ الْقَانِتِيْنَ. وَذٰلِكَ مِنْ سُوْرَةِ {تَبَارَكَ الَّذِيْ بِيَدِهِ الْمُلْكُ} إِلٰى خَاتِمَةِ الْقُرْآنِ. فَإِنْ لَمْ يُحْسِنْهَا فَلْيَقْرَأْ مِائَتَيْنِ وَخَمْسِيْنَ مَرَّةً {قُلْ هُوَ اللّٰهُ أَحَدٌ}، فَإِنَّ مَجْمُوْعَهَا أَلْفُ آيَةٍ، أَيْ وَذٰلِكَ مَعَ الْبَسْمَلَةِ.

"Apabila ia membaca hingga kadar 1.000 ayat, maka itu lebih baik dan lebih sempurna keutamaannya; baginya akan dicatat satu qinthor pahala dan ia dicatat sebagai golongan orang yang taat (al-qõnitin). Jumlah [seribu ayat] itu terdapat mulai dari surah Al-Mulk hingga akhir Al-Qur'an. Jika ia tidak dapat membaguskan bacaan seribu ayat tersebut, maka hendaknya ia membaca surah Al-Ikhlas sebanyak 250 kali, karena jumlahnya mencapai seribu ayat (jika dihitung bersama Basmalah)."

________________________________________

📘 CATATAN:

·       Satu Qinthor (قِنْطَارٌ) adalah satuan ukuran harta atau pahala yang sangat besar.

·       Secara harfiah, qinthor berarti "harta yang bertumpuk-tumpuk".

·       Dalam timbangan klasik satu qinthor sering disetarakan dengan 4.000 Dinar.

·       Dalam hitungan modern satu Dinar adalah 4,25 gram emas, maka 1 qinthor setara dengan 17 Kg emas. Ini menggambarkan jumlah yang sangat fantastis bagi seorang individu.

________________________________________

 

وَيَنْبَغِيْ أَنْ لَا يَدَعَ قِرَاءَةَ أَرْبَعِ سُوَرٍ فِيْ كُلِّ لَيْلَةٍ: {الٰــمۤ تَنْزِيْلُ السَّجْدَةِ} وَسُوْرَةَ يٰسۤ وَحٰــمۤ الدُّخَانِ وَتَبَارَكَ. وَإِنْ قَرَأَ مَعَهَا سُوْرَةَ الْمُزَّمِّلِ وَالْوَاقِعَةِ كَانَ أَحْسَنَ.

"Hendaknya pula ia tidak meninggalkan membaca empat surah setiap malam, yaitu: Al-Sajdah, Yasin, Ad-Dukhon, dan Al-Mulk. Jika ia menambahnya dengan surah Al-Muzzammil dan Al-Waqi'ah, maka itu lebih baik."

 

كَانَ النَّبِيُّ ﷺ لَا يَنَامُ حَتّٰى يَقْرَأَ السَّجْدَةَ وَتَبَارَكَ الْمُلْكُ. وَفِيْ خَبَرٍ آخَرَ: حَتّٰى يَقْرَأَ سُوْرَةَ بَنِيْ إِسْرَائِيْلَ وَالزُّمَرِ. وَفِيْ خَبَرٍ آخَرَ: حَتّٰى يَقْرَأَ الْمُسَبِّحَاتِ، وَيُقَالُ فِيْهَا آيَةٌ أَفْضَلُ مِنْ مِائَةِ أَلْفِ آيَةٍ.

"Dahulu Nabi tidak akan tidur hingga beliau membaca surah As-Sajdah dan Al-Mulk. Dalam riwayat lain disebutkan: hingga beliau membaca surah Bani Isroil (Al-Isro') dan Az-Zumar. Dan dalam riwayat lainnya: hingga beliau membaca Al-Musabbiāt (surah-surah yang diawali dengan tasbih), dan dikatakan bahwa di dalamnya terdapat satu ayat yang lebih utama dari 100.000 ayat."

 

 

No comments:

Post a Comment

Yuk kita saling berkomentar dengan baik dan sopan untuk menumbuhkan ukhuwah dan silaturahmi sesama sahabat blogger. Terima Kasih.

Bagi yang mau berdonasi bisa melalui rekening berikut:

Nama Bank: SeaBank

Kode Bank: 535

No. Rekening: 901680010448

Atas Nama: Shofwatur Rohman

Matriks — Kenalan Dulu, Yuk!

Haii semuanya! 👋 Kalau kamu baru masuk SMA atau lagi belajar matematika tingkat lanjut, pasti udah mulai denger kata "matriks" d...