Thursday, March 26, 2026

Terjemah Nurudz Dzolam (نُوْرُ الظَّلَامِ) Bag.2

Kiyai Nazhim [Syekh Ahmad Marzuqi] semoga Alloh meridho'inya berkata:
قَالَ النَّاظِمُ رَضِيَ اللهُ تَعَالٰى عَنْهُ
﴾أَبْدَأُ بِاسْمِ اللهِ وَالرَّحْمٰنِ ❁ وَبِالرَّحِيْمِ دَائِمِ الْإِحْسَانِ﴿ ﴾Aku mulai dengan menyebut nama Alloh dan Yang Maha Kasih ❁ Maha Penyayang Yang selalu berbuat baik﴿
Yakni aku memulai dalam menyusun kitab nazhom ini dengan memohon pertolongan kepada Zat Yang Dia dinamai dengan nama Alloh, sebagaimana hal itu dijelaskan oleh Syekh Baijuri.
أَيْ أَبْدَأُ فِيْ تَأْلِيْفِ هٰذِهِ الْمَنْظُوْمَةِ مُسْتَعِيْنًا بِمُسَمًّى اسْمَ اللهِ كَمَا فَسَّرَ بِذٰلِكَ الْبَيْجُوْرِيُّ
Mendatangkan [membaca] basmalah dalam bentuk nazhom bertentangan dengan arus yang lebih utama [khilafu aula], Syekh Baijuri telah mengingatkan hal itu.
وَالْإِتْيَانُ بِالْبَسْمَلَةِ مَنْظُوْمَةً هُوَ خِلَافُ الْأَوْلٰى نَبَّهَ عَلٰى ذٰلِكَ الْبَيْجُوْرِيُّ
(Ketahuilah) sesungguhnya nama itu adalah 'ain [zat] dari sesuatu yang dinamakan seperti pendapat kebanyakan kaum al Asy'ary [ahlis sunnah wal jama'ah].
(وَاعْلَمْ) أَنَّ الْإِسْمَ عَيْنُ الْمُسَمّٰى كَمَا عَلَيْهِ أَكْثَرُ الْأَشَاعِرَةِ
Alloh Ta'ala berfirman: "Sucikanlah nama Tuhanmu ..." (QS. 87 Al A'la : 1)
قَالَ تَعَالٰى سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ
dan firman-Nya juga: "Kamu tidak menyembah yang selain Alloh kecuali hanya (menyembah) nama-nama ...." (QS. 12 Yusuf : 40)
وَقَالَ أَيْضًا مَا تَعْبُدُوْنَ مِنْ دُوْنِهِ إِلَّا أَسْمَآءً
Yang zhohir bahwa tasbih dan ibadah adalah ditujukan kepada zat.
وَظَاهِرٌ أَنَّ التَّسْبِيْحَ وَالْعِبَادَةَ لِلذَّوَاتِ
Menurut satu pendapat [lemah/qil]: "Nama bukan sesuatu yang dinamakan", berdasarkan firman Alloh ta'ala: "... Dia mempunyai al Asmaul Husna (nama-nama yang baik)," [QS. 20 Thoha : 8/QS. 59 Al Hasyr : 24]
وَقِيْلَ الْإِسْمُ غَيْرُ الْمُسَمّٰى لِقَوْلِهِ تَعَالٰى لَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنٰى
Harus ada perbedaan antara sesuatu [zat] dan sesuatu yang ia sandang [sesuatu yang dinamakan]. Dan karena berbilang nama [namanya banyak] serta tunggalnya sesuatu yang dinamakan [Alloh itu satu tapi nama-Nya ada 99].
وَلَا بُدَّ مِنَ الْمُغَايَرَةِ بَيْنَ الشَّيْءِ وَمَا هُوَ لَهُ وَلِتَعَدُّدِ الْأَسْمَاءِ مَعَ اتِّحَادِ الْمُسَمّٰى
Jika nama adalah 'ain [zat] sesuatu yang dinamakan, maka pastilah terbakar mulut orang yang berkata: "Api", sampai hal-hal yang merusak lainnya.
وَلَوْ كَانَ عَيْنَهُ لَاحْتَرَقَ فَمُ مَنْ قَالَ نَارًا إِلٰى غَيْرِ ذٰلِكَ مِنَ الْمَفَاسِدِ
۞ Dan yang benar adalah bahwa sesungguhnya jika nama dimaksudkan [dikehendaki] sebagai lafazh, maka pasti ia bukan sesuatu yang dinamakan, yakni tanpa ada perbedaan pendapat.
۞ وَالْتَحْقِيْقُ أَنَّهُ إِنْ أُرِيْدَ مِنَ الْإِسْمِ اللَّفْظُ فَهُوَ غَيْرُ مُسَمًّى قَطْعًا أَيْ بِلَا خِلَافٍ
Jika nama dimaksudkan sebagai apa yang difahami darinya [mafhum-nya bukan manthuq-nya], maka ia [nama] adalah 'ain [zat] dari sesuatu yang dinamakan, seperti telah dikatakan oleh Imam Syanwani.
وَإِنْ أُرِيْدَ بِهِ مَا يُفْهَمُ مِنْهُ فَهُوَ عَيْنُ الْمُسَمّٰى قَالَهُ الشَّنْوَانِيُّ
Imam as Suyuthy berkata: "Makna Alloh adalah yang Maha Dahulu wujud-Nya, Maha Agung dzat-Nya dan sifat-Nya dan merata [dimana-mana] wujud-Nya."
قَالَ السُّيُوْطِيُّ فَمَعْنَى اللهِ مَنْ تَقَادَمَ وُجُوْدُهُ وَتَعَاظَمَ ذَاتُهُ وَصِفَاتُهُ وَعَمَّ جُوْدُهُ
۞ Makna ar Rohman adalah zat yang agung kebaikan-Nya dan terus menerus anugerah-Nya [nikmat-Nya]. Dan makna ar Rohim adalah zat yang menahan setiap kemiskinan dan yang tidak membebani sesuatu tanpa kemampuan melaksanakannya.
۞ وَمَعْنَى الرَّحْمٰنِ مَنْ عَظُمَ إِحْسَانُهُ وَدَامَ امْتِنَانُهُ وَمَعْنَى الرَّحِيْمِ مَنْ سَدَّ كُلَّ فَاقَةٍ وَلَمْ يَحْمِلْ دُوْنَ طَاقَةٍ
Syekh Ahmad Showiy berkata: "Alloh adalah nama yang mengandung arti banyak [ism jam'] karena semua nama [asmaul husna] masuk ke dalamnya. Ar Rohman adalah zat yang memberikan berbagai nikmat, baik jumlah maupun caranya [yang bersifat] duniawi, ukhrowi, zhohiriyah [sesuatu yang tampak], dan bathiniyah [sesuatu yang tidak tampak].
وَقَالَ أَحْمَدُ الصَّاوِيُّ وَاللهُ هُوَ الْإِسْمُ الْجَامِعُ لِأَنَّ جَمِيْعَ الْأَسْمَاءِ مُنْدَرِجَةٌ فِيْهِ. وَالرَّحْمٰنُ الْمُنْعِمُ بِجَمِيْعِ النِّعَمِ كَمًّا وَكَيْفًا دُنْيَوِيَّةً وَأُخْرَوِيَّةً ظَاهِرِيَّةً وَبَاطِنِيَّةً.
Dan ar Rohim adalah zat pemberi nikmat-nikmat yang lembut [halus], baik jumlah maupun caranya [yang bersifat] duniawiyah, zhohiriyah dan bathiniyah.
وَالرَّحِيْمُ هُوَ الْمُنْعِمُ بِدَقَائِقِ النِّعَمِ كَمًّا وَكَيْفًا دُنْيَوِيَّةً وَأُخْرَوِيَّةً ظَاهِرِيَّةً وَبَاطِنِيَّةً
Nikmat-nikmat yang lembut [halus] adalah merupakan percabangan dari nikmat yang pokok, yaitu nikmat-nikmat yang Agung seperti bertambahnya Iman, Ilmu, ma'rifat [mengetahui Alloh], taufiq, nikmat sehat, nikmat mendengar dan melihat". Selesai Ahmad Showiy.
وَالدَّقَائِقُ مَا تَفَرَّعَتْ عَنِ الْأُصُوْلِ الَّتِيْ هِيَ الْجَلَائِلُ كَالزِّيَادَةِ فِي الْإِيْمَانِ وَالْعِلْمِ وَالْمَعْرِفَةِ وَالتَّوْفِيْقِ وَالْعَافِيَةِ وَالسَّمْعِ وَالْبَصَرِ. اهـ
Syekh Ahmad Malawiy berkata: "Lafazh ar Rohman itu lebih luas maknanya daripada lafazh ar Rohim, karena kelebihan salah satu dari dua hal yang bersesuaian dalam bentuk dan macamnya menunjukkan pada berlebihnya makna,
قَالَ أَحْمَدُ الْمَلَوِيُّ وَالرَّحْمٰنُ أَبْلَغُ مِنَ الرَّحِيْمِ لِأَنَّ زِيَادَةَ أَحَدِ الْمُتَّفِقَيْنِ اشْتِقَاقًا وَنَوْعِيَّةً تَدُلُّ عَلٰى زِيَادَةِ الْمَعْنٰى
karena makna kata ar Rohman adalah zat yang memberi nikmat yang hakiki yang lebih luas dalam memberikan rahmat sampai batas akhirnya, dan hal demikian tidak benar [tidak cocok] untuk selain Alloh ta'ala, bahkan sebagian Ulama mengunggulkan penamaannya pada Alloh.
لِأَنَّ مَعْنَاهُ الْمُنْعِمُ الْحَقِيْقِيُّ الْبَالِغُ فِي الرَّحْمَةِ غَايَتَهَا، وَذٰلِكَ لَا يَصْدُقُ عَلٰى غَيْرِهِ تَعَالٰى بَلْ رَجَّحَ بَعْضُهُمْ عَلَمِيَّتَهُ.
Ketika untuk menunjukkan [menjelaskan] atas nikmat-nikmat yang agung dan nikmat-nikmat pokok, maka disebutkan dengan kata ar Rohim agar dapat memperoleh nikmat yang lembut dan halus agar menjadi seperti penyempurnaan.
وَلَمَّا دَلَّ عَلٰى جَلَائِلِ النِّعَمِ وَأُصُوْلِهَا ذَكَرَ الرَّحِيْمَ لِيَتَنَاوَلَ مَا دَقَّ وَلَطَفَ لِيَكُوْنَ كَالتَّتِمَّةِ
Dan keluasan makna [ablahgiyah] itu diambil dari perhitungan jumlah yakni bilangan. Karena itu dikatakan: "Wahai Zat yang Maha Pengasih di dunia", karena rohman itu merata untuk orang mu'min dan orang kafir, dan [dikatakan]: "Wahai Zat yang Maha Penyayang di akhirat" karena rohim itu tidak diperuntukkan untuk orang kafir.
وَالْأَبْلَغِيَّةُ إِنَّمَا تُؤْخَذُ بِاعْتِبَارِ الْكَمِّيَّةِ أَيِ الْعَدَدِ وَلِذَا قِيْلَ يَا رَحْمٰنَ الدُّنْيَا لِأَنَّهُ يَعُمُّ الْمُؤْمِنَ وَالْكَافِرَ وَرَحِيْمَ الْآخِرَةِ لِأَنَّهُ لَا يَخُصُّ الْكَافِرَ
Dan kadang-kadang keluasan makna [ablahgiyah] itu dilihat dari segi cara yakni sifat, karena itu dikatakan: "Wahai zat yang Maha Pengasih di dunia dan di akhirat" dan [dikatakan]: "Wahai Zat yang Maha Penyayang di dunia" karena sesungguhnya nikmat-nikmat akhirat semuanya adalah agung, dan adapun nikmat dunia, ada yang mulia dan ada yang hina".
وَتَارَةً بِاعْتِبَارِ الْكَيْفِيَّةِ أَيِ الصِّفَةِ وَلِذَا قِيْلَ يَا رَحْمٰنَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَرَحِيْمَ الدُّنْيَا لِأَنَّ النِّعَمَ الْأُخْرَوِيَّةَ كُلَّهَا جِسَامٌ وَأَمَّا الدُّنْيَوِيَّةُ فَجَلِيْلَةٌ وَحَقِيْرَةٌ
Syekh al Baidhowiy berkata: "Nikmat-nikmat Alloh ta'ala sekalipun tidak dapat dihitung, dapat diklasifikasikan ke dalam dua jenis yaitu, duniawi dan ukhrowi.
قَالَ الْبَيْضَاوِيُّ وَنِعَمُ اللهِ تَعَالٰى وَإِنْ كَانَتْ لَا تُحْصٰى تَنْحَصِرُ فِيْ جِنْسَيْنِ دُنْيَوِيٍّ وَأُخْرَوِيٍّ
Nikmat duniawi itu ada dua bagian atau macam, yaitu ① wahbiy dan ② kasbiy.
فَالدُّنْيَوِيُّ قِسْمَانِ وَهْبِيٌّ وَكَسْبِيٌّ
۞ Nikmat duniawi yang wahbiy [pemberian langsung dari Alloh] itu terbagi menjadi dua yaitu:


Nikmat ruhani seperti ditiupkannya ruh pada hamba dan menyinarinya dengan akal dan diikuti dengan kekuatan-kekuatan seperti pemahaman, pikiran dan ucapan,


⇨ dan nikmat jasmani, seperti diciptakannya tubuh dan kekuatan yang menetap di dalamnya dan keadaan yang menyokong tubuh, berupa kesehatan dan kesempurnaan anggota tubuh.
فَالْوَهْبِيُّ قِسْمَانِ


رُوْحَانِيٌّ كَنَفْحِ الرُّوْحِ فِي الْعَبْدِ وَإِشْرَاقِهِ بِالْعَقْلِ وَمَا يَتْبَعُهُ مِنَ الْقُوٰى كَالْفَهْمِ وَالْفِكْرِ وَالنُّطْقِ


وَجِسْمَانِيٌّ كَخَلْقِ الْبَدَنِ وَالْقُوٰى الْحَالَّةِ فِيْهِ وَالْهَيْآتِ الْعَارِضَةِ لَهُ مِنَ الصِّحَّةِ وَكَمَالِ الْأَعْضَاءِ
② Dan nikmat kasbiy [yang dihasilkan lewat usaha] yaitu membersihkan jiwa dari sifat-sifat tercela, dan menghiasinya dengan akhlaq yang diridhoi, dan menghiasi/memperindah tubuh dengan penampilan yang santun [tabiat yang baik], dengan perhiasan-perhiasan [intan permata] yang indah, serta dengan pencapaian pangkat/kedudukan dan harta.
وَالْكَسَبِيُّ تَزْكِيَةُ النَّفْسِ عَنِ الرَّذَائِلِ وَتَحْلِيَتُهَا بِالْأَخْلَاقِ الْمَرْضِّيَةِ وَتَزْيِيْنُ الْبَدَنِ بِالْهَيْآتِ الْمَطْبُوْعَةِ وَالْحُلِيِّ الْمُسْتَحْسَنَةِ وَحُصُوْلِ الْجَاهِ وَالْمَالِ
Dan nikmat ukhrowi adalah diampuninya kelalaian [dosa] seorang hamba, diridhoi-Nya [mendapatkan ridho dari Alloh] dan ditempatkan di tempat tertinggi di surga 'Illiyun bersama para Malaikat Muqorrobin selama-lamanya".
وَالْأُخْرَوِيُّ أَنْ يُغْفَرَ مَا فَرَّطَ مِنَ الْعَبْدِ وَيُرْضٰى عَنْهُ وَيُبَوَّأُهُ فِيْ أَعْلٰى عِلِّيِّيْنَ مَعَ الْمَلَائِكَةِ الْمُقَرَّبِيْنَ أَبَدَ الْآبِدِيْنَ
Ucapan Nazhim [Syekh Ahmad Marzuqi] dāimil Ihsāni artinya zat yang terus-menerus memberikan nikmat tanpa terputus. Kata dāimil Ihsāni sebagai penyempurna bait [sya'ir].
وَقَوْلُ النَّاظِمِ دَائِمِ الْإِحْسَانِ أَيْ مُتَتَابِعِ الْإِعْطَاءِ وَالْإِنْعَامِ مِنْ غَيْرِ انْصِرَامٍ فَهُوَ تَكْمِيْلٌ لِلْبَيْتِ

No comments:

Post a Comment

Yuk kita saling berkomentar dengan baik dan sopan untuk menumbuhkan ukhuwah dan silaturahmi sesama sahabat blogger. Terima Kasih.

Bagi yang mau berdonasi bisa melalui rekening berikut:

Nama Bank: SeaBank

Kode Bank: 535

No. Rekening: 901680010448

Atas Nama: Shofwatur Rohman

Terjemah Nurudz Dzolam (نُوْرُ الظَّلَامِ) Bag.2

Kiyai Nazhim [Syekh Ahmad Marzuqi] semoga Alloh meridho'inya berkata: قَالَ النَّاظِمُ رَض...