Wednesday, December 3, 2025

Terjemah Tanbihul Mughtarrin: CINTA DAN BENCI KARENA ALLOH

وَمِنْ أَخْلَاقِهِمْ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُمْ: غِيْرَتُهُمْ لِلّٰهِ تَعَالٰى إِذَا انْتُهِكَتْ حُرُمَاتُهُ، نُصْرَةً لِلشَّرِيْعَةِ الْمُطَهَّرَةِ، فَكَانُوْا لَا يَفْعَلُوْنَ فِعْلًا، وَلَا يُصْحِبُوْنَ أَحَدًا إِلَّا إِذَا عَلِمُوْا رِضَا اللّٰهِ تَعَالٰى فِيْهِ، فَلَا يُحِبُّوْنَ أَحَدًا، وَلَا يُبْغِضُوْنَهُ لِعِلَّةٍ دُنْيَوِيَّةٍ، وَقَدْ ثَبَتَ فِي الْحَدِيْثِ: «الْحُبُّ فِي اللّٰهِ، وَالْبُغْضُ فِي اللّٰهِ مِنْ أَوْثَقِ عُرٰى الْإِيْمَانِ».

Dan di antara akhlak mereka (para ulama salaf yang sholih) –semoga Alloh meridhoi mereka– ialah kecemburuan (tidak terimanya) mereka karena Alloh Ta‘ala ketika hukum-hukum-Nya dilanggar, sebagai bentuk pembelaan terhadap syari'at yang suci. Mereka tidak melakukan suatu perbuatan dan tidak pula bersahabat dengan seseorang kecuali setelah mereka mengetahui bahwa dalam hal itu terdapat keridhoan Alloh Ta‘ala. Mereka tidak mencintai seseorang dan tidak pula membencinya karena alasan duniawi. Dan sungguh telah tetap [keterangan] dalam hadits bahwa: "Cinta karena Alloh dan benci karena Alloh merupakan ikatan iman yang paling kuat.”

 

فَلَوْ عَبَدَ الشَّخْصُ رَبَّهُ كَعِبَادَةِ الثَّقَلَيْنِ طَلَبًا لِلثَّوَابِ، وَهُوَ غَافِلٌ عَنْ كَوْنِ ذٰلِكَ مِنْ مَرْضَاةِ اللّٰهِ تَعَالٰى، فَهُوَ خَارِجٌ عَنِ الطَّرِيْقِ.

Maka seandainya seseorang beribadah kepada Tuhannya dengan ibadah yang sebesar ibadah dua makhluk yang paling berat (yakni jin dan manusia seluruhnya), semata-mata demi mengharap pahala, namun ia lalai dari menyadari bahwa ibadah itu merupakan bentuk keridhoan Alloh Ta‘ala, maka ia telah keluar dari thoriqoh (jalan tasawuf yang benar).

 

وَقَدْ أَوْحٰى اللّٰهُ تَعَالٰى إِلٰى مُوْسٰى عَلَيْهِ السَّلَامُ: «هَلْ عَمِلْتَ لِيْ عَمَلًا؟» فَقَالَ: نَعَمْ يَا رَبِّ، صَلَّيْتُ وَصُمْتُ وَتَصَدَّقْتُ، وَذَكَرَ أَشْيَاءَ. فَقَالَ اللّٰهُ تَعَالٰى: «هٰذَا لَكَ، وَلٰكِنْ هَلْ وَالَيْتَ لِأَجْلِيْ وَلِيًّا، أَوْ عَادَيْتَ لِأَجْلِيْ عَدُوًّا؟» فَعَلِمَ عِنْدَ ذٰلِكَ مُوْسٰى أَنَّ الْحُبَّ فِي اللّٰهِ، وَالْبُغْضَ فِي اللّٰهِ مِنْ أَفْضَلِ الْأَعْمَالِ.

Dan Alloh Ta‘ala pernah mewahyukan kepada Nabi Musa ‘alaihissalām: "Apakah engkau pernah melakukan suatu amal untuk-Ku?" Musa menjawab: "Ya, wahai Tuhanku, aku telah sholat, berpuasa, bersedekah," dan Nabi Musa menyebut beberapa amal lainnya. Maka Alloh Ta‘ala berfirman: "Itu semua untuk dirimu sendiri. Tetapi, apakah engkau pernah mencintai seorang kekasih karena Aku, atau memusuhi seorang musuh karena Aku?" Maka pada saat itu Nabi Musa mengetahui bahwa cinta karena Alloh dan benci karena Alloh merupakan amal yang paling utama.

 

وَكَانَ عَلِيُّ بْنُ الْحُسَيْنِ يَقُوْلُ: لَا يَصْطَحِبُ اثْنَانِ عَلٰى غَيْرِ طَاعَةِ اللّٰهِ إِلَّا تَفَرَّقَا عَلَى غَيْرِ طَاعَةِ اللّٰهِ.

Dan Ali bin Al-Husain pernah berkata: "Dua orang yang bersahabat bukan karena ketaatan kepada Alloh, niscaya mereka akan berpisah bukan pula dalam ketaatan kepada Alloh."

 

وَقَدْ كَانَ يُوْسُفُ بْنُ أَسْبَاطٍ رَحِمَهُ اللّٰهُ تَعَالٰى يَقُوْلُ: إِذَا دَخَلْتُمْ عَلَى الْوُلَاةِ فَلَا تَخُصُّوْهُمْ بِالدُّعَاءِ، فَإِنَّهُمْ حَارَبُوْا اللّٰهَ وَرَسُوْلَهُ، وَلٰكِنْ اُدْعُوْا لِلْمُسْلِمِيْنَ، فَإِنْ كَانُوْا مِنْهُمْ لَحِقَتْهُمُ الدَّعْوَةُ.

Yusuf bin Asbath –semoga Alloh Ta‘ala merahmatinya– pernah berkata: "Apabila kalian masuk menemui para penguasa, maka janganlah kalian khususkan mereka dengan doa [kebaikan], karena mereka telah memerangi Alloh dan Rosul-Nya. Akan tetapi berdoalah untuk kaum muslimin; sebab jika para penguasa itu termasuk dari kalangan mereka (kaum muslimin), maka doa tersebut akan sampai juga kepada mereka."

 

وَكَانَ عَبْدُ اللّٰهِ بْنُ مَسْعُوْدٍ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ يَقُوْلُ: إِذَا صَاحَبْتَ أَحَدًا فَلَا تَسْأَلْ عَنْ مَوَدَّتِهِ لَكَ، وَلٰكِنِ انْظُرْ مَا فِيْ قَلْبِكَ لَهُ وَنَفْسِكَ، فَإِنَّ مَا عِنْدَكَ مِثْلُ الَّذِيْ عِنْدَهُ عَلٰى حَدٍّ سَوَاءٍ. اِنْتَهٰى.

Dan Abdulloh bin Mas‘ud –semoga Alloh meridhoinya– pernah berkata: "Apabila engkau bersahabat dengan seseorang, janganlah engkau bertanya tentang cintanya kepadamu, tetapi perhatikanlah apa yang ada di hatimu terhadapnya dan dalam jiwamu terhadapnya, karena apa yang ada padamu itu sama dengan apa yang ada padanya, seimbang antara keduanya." Selesai.

 

وَكَانَ سُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ رَحِمَهُ اللّٰهُ تَعَالٰى يَقُوْلُ: إِذَا أَحْدَثَ الرَّجُلُ حَدَثًا وَلَمْ يُبْغِضْهُ مَنْ زَعَمَ أَنَّهُ أَخُوْهُ، فَمَحَبَّتُهُ لِغَيْرِ اللّٰهِ، إِذْ لَوْ كَانَتْ لِلّٰهِ لَغَضِبَ عَلٰى مَنْ عَصَاهُ.

Dan Sufyān ats-Tsaurī –semoga Alloh Ta‘ala merahmatinya– pernah berkata: "Apabila seseorang melakukan suatu perbuatan baru (perbuatan bid'ah alias dosa atau maksiat), namun orang yang mengaku sebagai saudaranya [seagama] tidak membencinya karena perbuatan dosanya itu, maka cintanya bukanlah karena Alloh. Sebab, jika cintanya benar-benar karena Alloh, niscaya ia akan marah terhadap orang yang bermaksiat kepada-Nya."

 

وَكَانَ أَبُوْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ يَقُوْلُ: يُؤْتٰى بِالْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بَيْنَ يَدَيِ اللّٰهِ تَعَالٰى، فَيَقُوْلُ اللّٰهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُ: «هَلْ أَحْبَبْتَ لِيْ وَلِيًّا حَتّٰى أُحِبَّكَ لَهُ؟» اِنْتَهٰى. فَأَحِبُّوْا الصَّالِحِيْنَ، وَاتَّخِذُوْا عِنْدَهُمْ أَيَادِيَ، فَإِنَّ لَهُمْ دَوْلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ.

Dan Abu Huroiroh –semoga Alloh meridhoinya– berkata: "Seorang hamba akan didatangkan pada hari kiamat dan dihadapkan di hadapan Alloh Ta‘ala. Maka Alloh ‘Azza wa Jalla berfirman kepadanya: “Apakah engkau pernah mencintai seorang wali-Ku karena Aku, sehingga Aku mencintaimu karena dia?” Selesai. Maka cintailah orang-orang sholeh dan berbuatlah kebaikan kepada mereka, karena sesungguhnya mereka memiliki kedudukan dan kekuasaan (pertolongan) pada hari kiamat.

 

وَكَانَ الْحَسَنُ الْبَصْرِيُّ رَحِمَهُ اللّٰهُ تَعَالٰى يَقُوْلُ: مُصَارَمَةُ الْفَاسِقِ قُرْبَةٌ إِلَى اللّٰهِ تَعَالٰى.

Dan Hasan Al-Bashrī –semoga Alloh Ta‘ala merahmatinya– pernah berkata: "Menjauhi (memutus hubungan dengan) orang fasik merupakan suatu bentuk pendekatan diri kepada Alloh Ta‘ala."

 

قُلْتُ: وَمُرَادُهُ مُصَارَمَتُهُ بِالْقَلْبِ، أَمَّا فِي الظَّاهِرِ فَلَا يَنْبَغِيْ مُصَارَمَتُهُ لِأَجْلِ تَقْوِيْمِ عِوَجِهِ، وَتَبْغِيْضِهِ فِيْ صِفَاتِ الْفِسْقِ، فَإِنَّ الْفَاسِقَ ضَالَّةُ كُلِّ دَاعٍ إِلَى اللّٰهِ تَعَالٰى، فَافْهَمْ ذٰلِكَ. وَاللّٰهُ أَعْلَمُ.

Aku (Syeh Abdul Wahab As-Sya‘roni) berkomentar: "Yang beliau maksud dengan menjauhi (memutus hubungan) itu adalah menjauhi dengan hati, adapun secara lahir (zahir), maka tidak sepantasnya seseorang menjauhi orang fasik, karena justru perlu berinteraksi dengannya demi meluruskan penyimpangannya dan menanamkan kebencian terhadap sifat-sifat kefasikannya. Sebab, orang fasik itu bagaikan barang hilang bagi setiap dai yang mengajak manusia kepada Alloh Ta‘ala. Maka pahamilah hal ini dengan baik, dan Alloh-lah yang lebih mengetahui.”

 

وَقَدْ سُئِلَ سُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ رَحِمَهُ اللّٰهُ تَعَالٰى: هَلْ نُعَزِّيْ الْفَاسِقَ إِذَا مَاتَ لَهُ مَيِّتٌ؟ قَالَ: لَا.

Dan Sufyān ats-Tsaurī –semoga Alloh Ta‘ala merahmatinya– pernah ditanya: "Apakah kita boleh bertakziah kepada orang fasik ketika salah seorang dari keluarganya meninggal dunia?" Beliau menjawab: "Tak boleh."

 

وَكَانَ الْفُضَيْلُ بْنُ عِيَاضٍ رَحِمَهُ اللّٰهُ تَعَالٰى يَذْكُرُ أَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ، وَيَبْكِيْ وَيَتَرَحَّمُ عَلٰى مُعَاوِيَةَ، وَيَقُوْلُ: إِنَّهُ كَانَ مِنْ أَكَابِرِ الْعُلَمَاءِ، إِلَّا أَنَّهُ ابْتُلِيَ بِحُبِّ الدُّنْيَا. اِنْتَهٰى.

Dan Fuoil bin ‘Iyā –semoga Alloh Ta‘ala merahmatinya– biasa menyebut nama Abu Bakar dan Umar [radhiyallõhu ‘anhumā], lalu menangis dan memohon rahmat untuk Mu‘āwiyah, serta berkata: "Sesungguhnya ia (Mu‘āwiyah) termasuk dari para ulama besar, hanya saja ia diuji dengan cinta dunia." Selesai.

 

قُلْتُ: الَّذِيْ يَنْبَغِيْ حَمْلُ حُبِّهِ لِلدُّنْيَا عَلٰى أَنَّهُ يُحِبُّهَا لِعَمَلِ الْآخِرَةِ، كَمَا عَلَيْهِ السَّلَفُ الصَّالِحُ، بَلْ هُوَ أَوْلٰى بِقَصْدِ ذٰلِكَ مِنَ الْأَوْلِيَاءِ، لِأَنَّهُ صَحَابِيٌّ جَلِيْلٌ، وَاللّٰهُ أَعْلَمُ.

Aku (Syekh Abdul Wahab As-Sya‘roni) berkomentar: "Yang sepantasnya adalah menafsirkan kecintaan (Mu‘āwiyah) terhadap dunia sebagai kecintaan yang ditujukan untuk kepentingan amal akhirat, sebagaimana halnya yang dijalani oleh para salafus sholih dahulu. Bahkan, beliau lebih pantas untuk dimaknai demikian dibanding para wali, karena beliau adalah seorang sahabat Nabi yang agung – dan Alloh Ta‘ala lebih mengetahui hakikatnya."

 

وَكَانَ الْحَسَنُ الْبَصْرِيُّ رَحِمَهُ اللّٰهُ تَعَالٰى يَقُوْلُ: مَنْ اِدَّعٰى أَنَّهُ يُحِبُّ عَبْدًا لِلّٰهِ تَعَالٰى وَلَمْ يُبْغِضْهُ إِذَا عَصٰى اللّٰهَ تَعَالٰى، فَقَدْ كَذَبَ فِيْ دَعْوَاهُ أَنَّهُ يُحِبُّ لِلّٰهِ.

Dan Hasan Al-Bashrī –semoga Alloh Ta‘ala merahmatinya– pernah berkata: "Barang siapa mengaku mencintai seorang hamba karena Alloh Ta‘ala, namun tidak membencinya ketika ia bermaksiat kepada Alloh, maka ia telah berdusta dalam pengakuannya bahwa ia mencintai karena Alloh."

 

وَكَانَ مُحَمَّدٌ بْنُ الْحَنَفِيَّةِ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ يَقُوْلُ: مَنْ أَحَبَّ رَجُلًا مِنْ أَهْلِ النَّارِ لِخَيْرٍ ظَهَرَ مِنْهُ، آجَرَهُ اللّٰهُ عَلٰى ذٰلِكَ، وَمَنْ أَبْغَضَ رَجُلًا مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ لِشَرٍّ ظَهَرَ مِنْهُ، آجَرَهُ اللّٰهُ عَلٰى ذٰلِكَ.

Dan Muhammad bin Al-anafiyyah –semoga Alloh meridhoinya– pernah berkata: "Barang siapa mencintai seseorang dari ahli neraka karena kebaikan yang tampak darinya, maka Alloh akan memberinya pahala atas cintanya itu. Dan barang siapa membenci seseorang dari ahli surga karena keburukan yang tampak darinya, maka Alloh pun akan memberinya pahala atas kebenciannya itu."

 

وَقَدْ كَانَ مَالِكُ بْنُ دِيْنَارٍ رَحِمَهُ اللّٰهُ تَعَالٰى لَا يَطْرُدُ الْكَلْبَ إِذَا جَلَسَ بِحِذَائِهِ، وَيَقُوْلُ: هُوَ خَيْرٌ مِنْ قَرِيْنِ السُّوْءِ، وَكَفٰى بِالْمَرْءِ شَرًّا أَنْ لَا يَكُوْنَ صَالِحًا، وَيَقَعَ فِي الصَّالِحِيْنَ.

Dan Mālik bin Dīnār –semoga Alloh Ta‘ala merahmatinya– tidak pernah mengusir anjing yang duduk di dekatnya, sambil berkata: “Anjing ini lebih baik daripada teman yang buruk. Cukuplah bagi seseorang dianggap buruk apabila ia sendiri tidak sholeh, padahal ia bertempat/berada di tengah orang-orang sholeh.”

 

وَكَانَ أَحْمَدُ بْنُ حَرْبٍ رَحِمَهُ اللّٰهُ تَعَالٰى يَقُوْلُ: لَيْسَ شَيْءٌ أَنْفَعَ لِقَلْبِ الْعَبْدِ مِنْ مُخَالَطَةِ الصَّالِحِيْنَ وَالنَّظَرِ إِلٰى أَفْعَالِهِمْ، وَلَيْسَ شَيْءٌ أَضَرَّ عَلَى الْقَلْبِ مِنْ مُخَالَطَةِ الْفَاسِقِيْنَ وَالنَّظَرِ إِلٰى أَفْعَالِهِمْ.

Dan Ahmad bin arb –semoga Alloh Ta‘ala merahmatinya– pernah berkata: “Tidak ada sesuatu yang lebih bermanfaat bagi hati seorang hamba selain bergaul dengan orang-orang sholeh dan memperhatikan perbuatan mereka. Dan tidak ada sesuatu yang lebih berbahaya bagi hati daripada bergaul dengan orang-orang fasik dan memperhatikan perbuatan mereka.”

 

وَكَانَ يَحْيٰى بْنُ مُعَاذٍ رَحِمَهُ اللّٰهُ تَعَالٰى يَقُوْلُ: وَلِيُّ اللّٰهِ رَيْحَانٌ فِي الْأَرْضِ، فَإِذَا شَمَّهُ الْمُرِيْدُوْنَ، وَوَصَلَتْ رَائِحَتُهُ إِلٰى قُلُوْبِهِمْ، اِشْتَاقُوْا إِلٰى رَبِّهِمْ. اِنْتَهٰى.

Dan Yahyā bin Mu‘ādz –semoga Alloh Ta‘ala merahmatinya– pernah berkata: “Wali Alloh itu bagaikan bunga harum di bumi; ketika para murid (penempuh jalan menuju Alloh) mencium aromanya dan wanginya sampai ke hati mereka, maka mereka pun akan merindukan Tuhan mereka.” Selesai.

 

فَتَأَمَّلْ يَا أَخِيْ حَالَكَ، هَلْ أَحْبَبْتَ أَحَدًا لِلّٰهِ، وَأَبْغَضْتَهُ كَذٰلِكَ لِلّٰهِ تَعَالٰى؟ أَمْ أَحْبَبْتَ بِالْهَوٰى، وَأَبْغَضْتَ بِالْهَوٰى؟ وَابْكِ عَلٰى نَفْسِكَ، وَأَكْثِرْ مِنَ الْاِسْتِغْفَارِ لَيْلًا وَنَهَارًا، وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

Maka renungkanlah, wahai saudaraku, keadaan dirimu: apakah engkau pernah mencintai seseorang karena Alloh dan membencinya juga karena Alloh Ta‘ala? Ataukah engkau mencintai karena hawa nafsu dan membenci karena hawa nafsu? Maka menangislah atas dirimu sendiri, dan perbanyaklah memohon ampun kepada Alloh siang dan malam. Segala puji bagi Alloh, Tuhan semesta alam.

No comments:

Post a Comment

Yuk kita saling berkomentar dengan baik dan sopan untuk menumbuhkan ukhuwah dan silaturahmi sesama sahabat blogger. Terima Kasih.