Wednesday, April 21, 2021

Tafsir Surat Al-Kautsar ayat 1

إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ

Sungguh, Kami telah memberikan nikmat yang banyak kepadamu. (QS. Al-Kautsar: 1)

 

TAFSIR:

إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ (Sungguh, Kami telah memberimu) menurut qiro'at lain dibaca  أَنْطَيْنَاكَ (Kami telah memberimu), yakni sesungguhnya Kami telah memberimu, hai makhluk yang paling mulia,

 

الْكَوْثَرَ  (nikmat yang banyak) yakni kebaikan yang berlimpah, yaitu kemuliaan kenabian yang mengandung kebaikan dunia dan akhirat. Karena sesungguhnya Kitab Nabi Muhammad adalah kitab yang menguasai kitabnya Nabi Adam, shuhufnya Nabi Ibrahim dan Nabi Musa, maksudnya kitab Al-Qur’an lebih unggul dari semuanya, sebagaimana Adam mempunyai kelebihan dengan nama-nama yang dikuasainya.

Diriwayatkan bahwa Nabi Muhammad berada di pinggir sebuah air telaga dengan ditemani oleh 'Ikrimah bin Abu Jahal. Lalu 'Ikrimah berkata: “Jika engkau benar seorang Nabi, panggillah batu yang ada di seberang telaga itu supaya ia berenang dan tidak tenggelam.” Rosululloh pun menunjuk ke arah batu itu dan batu itu pun bergerak dari tempatnya lalu mengapung di danau hingga sampai di hadapan Nabi dan bersaksi akan kerosulan Nabi Muhammad . Lalu, Nabi berkata kepada 'Ikrimah:

 

يَكْفِيْكَ هٰذَا؟

"Cukupkah tanda ini bagimu?"

 

Ikrimah menjawab: “Sampai batu itu kembali lagi ke tempat semula." Nabi pun memerintahkan kepada batu tersebut untuk kembali ke tempat semula dan batu itu menaati perintah beliau. Mukjizat ini lebih besar daripada mukjizat berupa mengapungnya bahtera Nabi Nuh di atas air.

 

Dari Muhammad bin Khatib disebutkan bahwa ketika ia masih kecil, panci yang berisi air mendidih tumpah mengenai dirinya sehingga kulitnya terbakar. Lalu, ibunya membawanya kepada Rosul dan berkata kepada beliau: “Ini adalah anak Khatib yang kulitnya telah tersiram air panas hingga melepuh sebagaimana yang engkau lihat." Kemudian, Rosululloh meludahi kulitku yang terbakar dan dengan tangannya beliau mengusap semua bagian kulitku yang terbakar seraya berdo'a:

 

أَذْهِبِ الْبَأْسَ رَبَّ النَّاسِ

"Lenyapkanlah penyakit ini, wahai Tuhan manusia."

 

Pada saat itu juga aku sehat dan mukjizat ini lebih besar daripada dijadikannya api sejuk dan membawa kesejahteraan bagi Nabi Ibrahim.

 

Selain itu, Alloh memuliakan Nabi Muhammad, sehingga Dia membelahkan rembulan di atas langit untuk beliau, mengalirkan air dari jari-jemari beliau, dan awan selalu menaungi beliau. Alloh pun memberi beliau Al-Qur'an yang bercahaya sampai ke belahan timur dan belahan barat.

 

Ketika Abu Jahal bermaksud menimpakan batu kepada beliau, Abu Jahal melihat dua ekor ular besar berada di pundak Nabi , sehingga Abu Jahal pergi dengan hati ketakutan. Sebagaimana Alloh telah memuliakan Nabi Musa dengan kemampuannya membelah laut, menyumberkan air dari batu, awan yang selalu menaunginya dan Alloh memuliakannya dengan memberinya tangan yang putih bercahaya serta mengubah tongkatnya menjadi ular yang besar.

 

Batu-batuan yang berada di tangan Rosululloh dan para sahabatnya bertasbih. Ketika Rosululloh mengusap kambing yang kudisan, maka kambing betina yang diusapnya itu menjadi subur susunya. Alloh pun memuliakan beliau dengan memberinya kendaraan Buroq. Sebagaimana gunung-gunung bertasbih bersama Nabi Daud; apabila Nabi Daud memegang besi, maka besi itu menjadi lunak, dan Alloh memuliakan Nabi Daud dengan menghimpun burung-burung baginya.

 

Selain itu, Rosululloh pernah disuguhi kambing oleh orang Yahudi yang dimasak dan telah diracuni, ketika beliau hendak menyuapkannya ke mulut beliau, daging kambing itu bercerita bahwa dirinya telah diracuni.

 

Diriwayatkan bahwa istri Mu'adz bin 'Afro' datang kepada Nabi sedangkan ia mempunyai penyakit sopak (penyakit kulit berupa belang-belang putih di tangan atau kaki), lalu ia mengadukan penyakitnya itu kepada Rosululloh . Kemudian, Rosul mengusap bagian yang terkena penyakit sopak itu dengan perantaraan sebuah tangkai, dan Alloh melenyapkan penyakit sopak itu darinya.

 

Dalam perang Uhud dilaporkan kepada Rosululloh bahwa bola mata seseorang menonjol ke luar. Beliau mengembalikan bola mata itu ke tempatnya sehingga orang itu sembuh kembali. Beliau pun mengetahui Ummul Fadl yang disembunyikan oleh pamannya, lalu Nabi memberitahukan hal itu kepada pamannya, sehingga pamannya yakin Al-'Abbas masuk Islam karena hal tersebut. Sebagaimana Alloh memuliakan Nabi 'Isa dengan menghidupkan orang-orang mati, dan menyembuhkan orang yang buta dan orang yang berpenyakit sopak serta mengetahui segala sesuatu yang disembunyikan oleh orang-orang di dalam rumahnya.

 

Rosululloh tidur di pangkuan ‘Ali, ketika beliau terbangun matahari telah terbenam, namun Alloh mengembalikan matahari hingga Nabi menunaikan sholat 'Asarnya, kemudian matahari dikembalikan sekali lagi untuk Ali hingga ‘Ali pun dapat menunaikan sholat 'Asar pada waktunya.

 

Diriwayatkan bahwa terdapat seekor induk burung yang kehilangan anaknya, lalu burung itu terbang berkeliling di atas kepala Nabi dan berbicara kepada Nabi maka Nabi pun bertanya:

 

أَيُّكُمْ فَجَّعَ هٰذِهِ بِوَلَدِهَا

"Siapakah di antara kamu yang mengambil anak burung ini sehingga burung ini kehilangan anaknya?"

Lalu seorang lelaki menjawab: “Saya.” Nabi pun bersabda:

 

أُرْدُدْ إِلَيْهَا وَلَدَهَا

Kembalikanlah anaknya kepadanya!"

 

Alloh pun memuliakan Nabi dengan memperjalankan beliau pada malam hari ke Baitul Maqdis hanya dalam sesaat. Selain itu, beliau mengirimkan keledainya yang diberi nama Ya'furo kepada orang yang dikehendakinya, lalu orang yang dipanggilnya itu datang dengan mengendarainya.

 

Nabi pernah mengirim sahabat Mu'adz ke salah satu daerah, ketika sampai di padang pasir tiba-tiba muncul singa yang sedang mendekam, sehingga membuat Mu'adz kaget dan takut, namun tidak mungkin ia pulang kembali, dia pun melangkah maju dan berkata: “Aku utusan Rosululloh” maka singa itupun pergi. Jin pun patuh kepada Nabi Nabi .ﷺ

 

Orang Badui datang dengan membawa seekor biyawak, lalu orang Badui itu berkata: “Aku tidak beriman kepadamu sebelum biyawak ini beriman kepadamu," maka biyawak itu pun berkata mengakui kerosulan Nabi . Selain itu, terdapat seekor kijang yang diberi beban oleh seorang Badui lalu dilepaskan, maka kijang itu pun berlari menuju kepada Nabi hingga Nabi melepaskan bebannya. Sebagaimana Alloh mengembalikan matahari bagi Nabi Sulaiman pada suatu waktu dan mengajarkan bahasa burung kepadanya, dan Alloh memuliakannya dengan menempuh jarak perjalanan satu bulan bisa ditempuh dengan perjalanan satu hari, serta jin tunduk patuh kepadanya.

 

Mengingat risalah Nabi seperti itu, maka Alloh pun memberi beliau nama Kautsar, lalu Dia berfirman:

إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ

Sungguh, Kami telah memberikan nikmat yang banyak kepadamu. (QS. Al-Kautsar: 1)

 

'Atho' mengatakan bahwa Kautsar adalah sebuah telaga milik Nabi di mauqif. Tetapi menurut pendapat yang terkenal di kalangan ulama salaf dan ulama khalaf Kautsar adalah nama sebuah sungai di dalam surga.

 

Diriwayatkan dari Ibnu Umar yang telah mengatakan bahwa Rosululloh pernah bersabda:

 

الكوثر نهر في الجنة حافتاه من ذهب، ومجراه على الدر والياقوت، تربته أطيب من المسك، وماؤه أحلى من العسل وأبيض من الثلج

Al-Kautsar adalah sebuah sungai di dalam surga yang kedua tepinya dari emas dan mengalir pada intan dan yaqut, sedangkan tanahnya lebih harum daripada minyak kesturi dan airnya lebih manis daripada madu serta lebih putih daripada salju.

 

Di dalam riwayat sahabat Anas disebutkan sebagai berikut:

 

 أشد بياضا من اللبن وأحلى من العسل فيه طيور خضر، لها أعناق كأعناق البخت من أكل من ذلك الطير، وشرب من ذلك الماء فاز بالرضوان

Air lebih putih daripada susu, rasanya lebih manis daripada madu, padanya terdapat burung-burung hijau yang lehernya seperti leher unta; barang siapa yang makan daging burung itu dan meminum airnya niscaya ia akan beroleh keridaan (kepuasan).

 

Dan sahabat Anas telah menceritakan sebuah hadis, bahwa Rosululloh telah bersabda:

 

 دخلت الجنة فإذا أنا بنهر يجري بياضه بياض اللبن، وأحلى من العسل، وحافتاه خيام الدر، فضربت بيدي إلى مجرى الماء فإذا الثرى مسك أذفر فقلت لجبريل: ما هذا؟ قال: الكوثر الذي أعطاكه الله تعالى

Aku masuk surga, tiba-tiba aku berada di sebuah sungai yang mengalir airnya lebih putih daripada susu, rasanya lebih manis daripada madu dan kedua tepinya dipenuhi dengan kemah-kemah dari mutiara. Lalu kumasukkan tanganku ke dalam air itu, ternyata tanahnya adalah minyak kesturi yang sangat harum. Hal itu kutanyakan kepada Jibril: “Apakah ini?" Jibril menjawab, “Ini adalah telaga Kautsar yang diberikan oleh Alloh kepadamu.”

 

REFERENSI:

Kitab Tafsir Maroh Labid (مَرَاحٌ لَبِيْدٌ) karya Syeh Nawawi Banten


Saturday, April 10, 2021

PASUKAN CAHAYA Vs PASUKAN KEGELAPAN

Dalam kitab Munyatul Faqir (مُنْيَةُ الْفَقِيْرِ) ---karya Imam Abdul Qodir al-Kauhaniy--- halaman 85 terdapat keterangan sebagai berikut:

 

أَنَّ الْمُرِيْدَ إِذَا الْتَقٰى بِالشَّيْخِ وَأَخَذَ عَنْهُ جَاءَ جُنْدُ النُّوْرِ يُرِيْدُ أَنْ يُخْرِجَ جُنْدَ الظُّلْمَةِ مِنْ مَدِيْنَةِ الْقَلْبِ وَيُرِيْدُ جُنْدُ الظُّلْمَةِ الْبَقَاءَ فِيْ وَطَنِهِ فَيَشْتَغِلُ الْحَرْبُ بَيْنَهُمَا وَهٰذَا سَبَبُ اضْطِرَابِ الظَّاهِرِ وَتَوَارُدِ الْأَحْوَالِ عَلَيْهِ. وَذِكْرُ اللِّسَانِ كَالْمِدْفَعِ يَرْمِيْ عَلَيْهِ مِنْ خَارِجٍ. فَإِذَا دَخَلَ الذِّكْرُ مَعَهُ الْقَلْبَ وَخَالَطَ مَعَهُ الْبَلَدَ سَكَتَ اللِّسَانُ وَمَا بَقِيَ إِلَّا السُّيُوْفُ تَضْرِبُ ثُمَّ يَخْرُجُ جُنْدُ الظُّلْمَةِ مِنَ الْقَلْبِ وَيَرْتَاحُ الْقَلْبُ مِنْ تَعَبِ التَّدْبِيْرِ وَالْإِخْتِيَارِ وَأَحْوَالِ الدُّنْيَا. وَيَسْكُنُ الظَّاهِرُ أَيْضًا مِنْ تَعَبِ الْمُجَاهَدَةِ. وَقَدْ يَنْزِلُ جُنْدُ النُّوْرِ عَلٰى جُنْدِ الظُّلْمَةِ فَلَا يَقْدِرُ عَلٰى إِخْرَاجِهِ مِنَ الْقَلْبِ فَيَرْتَحِلُ النُّوْرُ مِنْ حَيْثُ جَاءَ وَيَسْكُنُ الظَّاهِرُ عَلٰى جُنْدِ الظُّلْمَةِ وَيَبْقٰى الْبَاطِنُ مَتْعُوْبًا كَمَا كَانَ.

Artinya:

Sesungguhnya seorang murid apabila ia telah bertemu dengan seorang Syekh (guru mursyid) dan telah menimba ilmu darinya, maka akan datang pasukan cahaya yang ingin mengeluarkan pasukan kegelapan dari perkotaan hati. Namun [karena] pasukan kegelapan ingin tetap ada di tempat tinggalnya (hati). Maka berkobarlah peperangan antara dua pasukan tersebut. Dan pertempuran inilah penyebab tergoncangnya lahiriah (anggota tubuh lahir) seorang murid serta datang silih bergantinya berbagai perubahan kondisi atas hatinya. 

Dan berdzikir dengan lisan itu seperti meriam (senapan mesin) yang bisa menembakkan peluru untuk menembus hati dari luar. Lalu ketika dzikir dengan lisan itu telah menembus masuk ke dalam hati dan telah meresap di perkampungan hati, maka lidah akan terdiam membisu dan tidak ada lagi yang tersisa kecuali pedang-pedang berkilatan yang terus menerus menebas kegelapan di dalam hati. Kemudian pasukan kegelapan pun akan keluar dari kerajaan hati, sehingga hati bisa beristirahat dari payahnya mengatur rencana-rencana, mengusahakan kerajaannya dan [dari payahnya memikirkan perubahan] situasi-situasi dunia. Dan lahiriah pun turut merasa tenang dari payahnya mujahadah (memerangi hawa nafsu). 

Terkadang pasukan cahaya menyerang pasukan kegelapan, namun pasukan cahaya tidak mampu mengeluarkan pasukan kegelapan dari dalam hati. Sehingga berbaliklah pasukan cahaya itu kembali ke asal kedatangannya. Maka lahiriah merasa tenang di bawah kekuasaan pasukan kegelapan, sementara batin masih merasakan kepayahan sebagaimana adanya semula.

Thursday, April 8, 2021

HATI YANG LARI DARI DZIKIR

Dalam kitab Munyatul Faqir (مُنْيَةُ الْفَقِيْرِ) ---karya Imam Abdul Qodir al-Kauhaniy--- halaman 82 - 83 terdapat keterangan sebagai berikut:

وَرُبَّمَا تَكُوْنُ بَعْضُ الْقُلُوْبِ تَفِرُّ مِنَ الذِّكْرِ وَتَتَعَشَّقُ إِلَى اللَّهْوِ وَالْغِنَاءِ. فَهِيَ كَالْجُعَلِ وَهُوَ الَّذِيْ تَقُوْلُ فِيْهِ الْعَامَّةُ أَبُوْ فَسَّاسٍ، فَإِنَّ مِنْ شَأْنِهِ إِنْ قَرُبَتْ مِنْهُ رَائِحَةٌ طَيِّبَةٌ مَاتَ مِنْ سَاعَتِهِ وَلَا يَعِيْشُ إِلَّا بِالنَّتْنِ وَالْخَبَثِ. فَكَذٰلِكَ بَعْضُ الْأَرْوَاحِ الْخَبِيْثَةِ تَنْتَعِشُ بِاللَّهْوِ وَتَفِرُّ مِنَ الذِّكْرِ. يَنْسَحِبُ عَلَيْهَا قَوْلُهُ تَعَالٰى: وَإِذَا ذُكِرَ اللّٰهُ وَحْدَهٗ اشْمَأَزَّتْ قُلُوْبُ الَّذِيْنَ لَا يُؤْمِنُوْنَ بِالْآخِرَةِ وَإِذَا ذُكِرَ الَّذِيْنَ مِنْ دُوْنِهٖ إِذَا هُمْ يَسْتَبْشِرُوْنَ.

Artinya:

Dan terkadang sebagian [kondisi] hati [manusia] itu melarikan diri dari berdzikir [kepada Alloh], dan sangat suka [berasyik-asyik] dengan hiburan dan nyanyian (tembang lagu). Maka hati semacam ini ibarat sejenis kumbang kepik (sejenis kumbang yang suka mengusung kotoran manusia dan hewan untuk dijadikan makanan atau tempat tinggal), yaitu hewan yang oleh mayoritas orang biasa disebut dengan [julukan] Abu Fassas (tukang kentut). Karena sesungguhnya termasuk diantara perilaku kembang kepik itu adalah ia langsung mati seketika jika dekat dengan aroma wewangian. Dan dia tidak bisa hidup kecuali dengan bau busuk dan kotoran. Maka demikian juga sebagian jiwa [manusia] yang buruk, dia bisa hidup dengan hiburan, namun dia akan melarikan diri dari berdzikir. Atas jiwa semacam ini, bisa ditarik [kesimpulan dengan] firman Alloh Ta'ala:

"Dan apabila yang disebut hanya nama Alloh, kesallah hati orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat. Namun apabila nama-nama sesembahan selain Alloh yang disebut, tiba-tiba mereka menjadi bergembira." (QS. Az-Zumar [39]: 45)