Friday, July 29, 2022

DUNIA BERPUTAR SEIRING PENGHUNINYA

Kampung akhirat adalah kampung yang abadi, kesenangannya tiada pernah terputus, masa mudanya tiada pernah layu, dan rezekinya tiada pernah habis. Sebaliknya, dunia ini, kesenangannya dicampuri kekeruhan dan kenikmatannya tiada sempurna. Di saat manusia sedang berada pada puncak kejayaan, kebahagiaan, dan kesenangannya, tiba-tiba ia dikejutkan oleh kemalangan yang menimpanya dan kesengsaraan yang menjeratnya sehingga dia menjadi miskin setelah sebelumnya kaya, menjadi hina setelah sebelumnya terhormat. Terkadang, ia juga dikejutkan oleh kematian yang pasti menimpa semua yang hidup, lalu meninggalkan jabatan dan kekuasaannya sambil memikul beban di atas pundaknya. Setelah itu, ia diberi bantal tanah dan dibiarkan menuju tempat kembalinya sendirian karena memang tiada yang abadi, selain Tuhan-Nya:


كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ. وَيَبْقَىٰ وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ. (الرحمن: ٢٦ - ٢٧)
Artinya:
"Semua yang ada di bumi ini akan binasa. Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan." (Q.S Ar-Rohman : 26-27)

Alloh-lah yang Maha Kekal lagi Maha Abadi, yang mengangkat derajat suatu kaum dan merendahkan martabat kaum lainnya, yang memberikan kekuasaan kepada suatu kaum dan mencabutnya dari kaum yang lainnya:


قُلِ اللّٰهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ ۖ بِيَدِكَ الْخَيْرُ ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ. (الــ عـمـران : ٢٦)
Artinya:
Katakanlah, "Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkau-lah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu." (QS. Ali Imran: 26)

Sebagian putri Raja Arab yang telah kehilangan kekuasaannya pernah berkata: "Sebelumnya, tak seorang pun di muka bumi ini yang pernah iri dan takut kepada kami. Akan tetapi, kini tak seorang pun bangsa Arab yang tidak merasa kasihan kepada kami."

Pada hari Idul Adha, Ibnu Ja'far bin Yahya Al-Barmaki pernah mengunjungi suatu kaum untuk meminta kulit domba untuk dikenakannya, sambil berkata: "Hari raya seperti ini menyusahkan aku, karena aku menanggung beban empat ratus orang dayang (gadis pelayan di istana), sementara aku menyangka Ja'far mendurhakaiku."

Saudara perempuan Ahmad bin Thalan, penguasa negeri Mesir, suka berfoya-foya dalam membelanjakan hartanya, sampai-sampai ketika menikahkan seorang anaknya, dia membelanjakan seratus ribu dinar untuk biaya resepsi pernikahannya. Namun, tak lama kemudian, dia tampak berada di suatu pasar Kota Baghdad sambil meminta-minta kepada setiap orang.

Seorang saleh pernah melewati sebuah rumah yang sedang melangsungkan pesta, dan di sana ada seorang wanita yang berkata:

"Ingatlah, wahai rumah, tak akan ada kesedihan yang memasukimu, dan pemiliknya tak akan pernah diremehkan oleh zaman."

Tak lama kemudian, orang saleh itu kembali melewati rumah tersebut, dan dia dapati pintunya tertutup. Dari dalam rumah itu terdengar isak tangis dan jeritan histeris, dia pun menanyakan keadaan penghuninya. Dikatakan kepadanya bahwa pemilik rumah itu meninggal dunia. Dia mengetuk pintunya, lalu berkata, "Kemarin aku mendengar seorang wanita dari rumah ini berkata begini dan begitu." Tiba-tiba seorang wanita menangis sambil berkata, "Wahai hamba Alloh, Alloh-lah yang mengubah semua ini, sedangkan Dia tiada pernah berubah, dan kematian adalah tujuan akhir semua makhluk." Sambil menangis, orang saleh itu pun pergi meninggalkan mereka.

Abu Bakar r.a., pada masa pemerintahannya, pernah mengirim sejumlah utusan ke Yaman. Di tengah perjalanan, utusan itu melewati sebuah mata air milik orang Arab. Di dekatnya ada sebuah istana megah, banyak binatang ternak yang gemuk dan hamba sahaya. Mereka melihat para wanita berkumpul merayakan pesta perkawinan, sementara di hadapan mereka ada anak gadis menabuh rebana sambil mendendangkan nyanyian:

"Wahai para pendengki, matilah dalam kesedihan. Demikian pula kami tidak akan hidup selamanya."

Utusan itu singgah di tempat dekat mereka, dan disambut hangat oleh pemilik mata air yang meminta maaf atas kesibukannya mengurusi pesta perkawinan. Setelah mendoakannya, utusan itu pun segera pergi.

Pada masa pemerintahan Mu'awiyyah, sebagian utusan itu dikirim lagi ke Yaman. Di tengah perjalanan, mereka melewati kembali tempat mata air itu dan memutuskan untuk singgah di sana. Setibanya di sana, mereka merasa heran karena istana megah yang pernah mereka lihat dulu telah rata dengan tanah, tidak ada mata air, tidak ada tanda-tanda kehidupan, dan tidak ada bekasnya, kecuali tumpukan puing-puing. Mereka pun menuju ke sana, dan mendapati seorang wanita tua yang buta sedang bernaung di sebuah lubang di balik tumpukan puing-puing itu. Mereka menanyainya tentang pemilik mata air tersebut, dan wanita itu menjawab, "Mereka semua telah binasa." Mereka menanyainya lagi tentang pesta perkawinan yang pernah ada sebelumnya. Wanita itu menjawab, "Itu adalah pesta perkawinan saudara perempuanku, dan akulah yang menabuh rebananya." Utusan itu memohon agar wanita itu ikut bersama mereka, tetapi dia menolak sambil berkata, "Sangat berat bagiku untuk meninggalkan tulang belulang yang telah hancur ini sebelum aku mengalami nasib yang serupa dengannya." Tiba-tiba dia terhuyung-huyung, lalu sekarat dan wafat. Utusan itu segera menguburkannya, kemudian pergi.

Itulah sebagian contoh. Di mana pun Anda menaruh perhatian pada setiap generasi dan zaman, pastilah Anda akan menemukan banyak kejadian dan pelajaran berharga yang menceritakan keadaan dunia dan bagaimana ia berputar bersama penghuninya.

Tentang dunia ini, Ibnu Rajab mengilustrasikan, "Dunia ini lebih banyak dicela karena kefanaan dan perubahan kondisinya. Hal ini merupakan bukti tentang akan berakhir dan lenyapnya; sehat digantikan oleh sakit, ada digantikan oleh tiada, masa muda digantikan oleh masa tua, senang digantikan oleh sengsara, dan hidup digantikan oleh mati. Lalu, semua tubuh akan ditinggalkan oleh nyawanya, semua bangunan akan ditimpa kehancuran, pertemuan akan diakhiri oleh perpisahan dengan para kekasih, dan segala sesuatu yang berada di atas tanah akan kembali menjadi tanah.”

Adapun tentang kampung akhirat, Ibnu Rajab mengilustrasikan, "Sebuah kampung yang penghuninya tak akan pernah mati, bangunannya tak akan pernah hancur, masa mudanya tak akan pernah menjadi tua, keindahan dan kebaikannya tak akan pernah berubah, anginnya sepoi-sepoi, airnya menyegarkan, para penghuninya silih berganti dilimpahi rahmat Tuhan Yang Maha Penyayang di antara yang menyayangi, dan mereka merasa senang dapat memandang wajah-Nya setiap waktu:


دَعْوٰىهُمْ فِيْهَا سُبْحٰنَكَ اللّٰهُمَّ وَتَحِيَّتُهُمْ فِيْهَا سَلٰمٌۚ وَاٰخِرُ وَاٰخِرُ دَعْوٰىهُمْ اَنِ الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ. (یونس: ١٠)
Artinya:
Doa mereka di dalamnya, ialah "Subhanakallohumma" (Maha Suci Engkau, ya Tuhan kami), dan salam penghormatan mereka ialah, "Salam" (salam sejahtera). Dan penutup doa mereka ialah, "Alhamdulillahi Robbilal'amin" (segala puji bagi Alloh Tuhan seluruh alam). (QS. Yunus: 10)

Isa a.s. berseru, "Wahai Bani Isroil, remehkanlah dunia ini, pastilah ia menjadi remeh bagi kalian. Rendahkanlah dunia ini, pastilah kalian akan dihormati di akhirat. Janganlah memuliakan dunia, pastilah akhirat dimudahkan bagi kalian. Sesungguhnya dunia ini tidak pantas dihormati karena setiap hari selalu mengajak kepada malapetaka dan kerugian."

Mencintai dunia selalu menyeret pada kesalahan lahir dan batin, khususnya kesalahan yang bergantung kepadanya. Mencintainya membuat pecintanya tidak menyadari kesalahan dan keburukannya, enggan membenci dan menghindarinya. Mencintainya hanya akan menjerumuskan ke dalam hal-hal yang samar, tidak disukai, diharamkan, dan sering menjerumuskan ke dalam kekufuran. Bahkan, cinta pada dunia inilah yang telah menyebabkan semua umat mendustakan para nabi mereka, mengantarkan mereka pada kekafiran dan kebinasaan. Sebab, ketika para rasul melarang mereka berbuat syirik dan maksiat yang digunakan untuk meraih dunia, cinta kepada dunialah yang telah menjadikan mereka menentang dan mendustakan para rosul. Semua kesalahan yang terjadi di dunia ini bersumber dari kecintaan pada dunia. Janganlah lupa bahwa penyebab kesalahan dua ibu bapak kita dahulu adalah mencintai keabadian. Dan janganlah lupa juga bahwa kesalahan iblis dan penyebabnya adalah mencintai kekuasaan yang justru lebih buruk daripada mencintai dunia. Karena hal ini pula, Fir'aun, Haman, dan para pengikutnya menjadi kafir. Begitu pula, Abu Jahal beserta kaumnya dan juga orang-orang Yahudi.

Jadi, mencintai dunia dan kekuasaanlah yang meramaikan neraka dengan penghuninya. Sebaliknya, sikap zuhud terhadap dunia dan kekuasaan meramaikan surga dengan penghuninya.

Akibat mabuk karena cinta dunia jauh lebih buruk daripada mabuk karena minuman keras. Orang yang mabuk karena dunia tidak akan pernah sadar, kecuali setelah dimasukkan ke dalam gelapnya liang lahat. Kalaulah penutupnya dibuka di dunia ini, pastilah dia akan menyadari itu bahwa mabuknya lebih parah daripada mabuk karena minuman keras.

Dunia itu memang sangat menyihir akal sehingga Malik bin Dinar berkata: "Waspadalah terhadap sihir dunia, waspadalah terhadap sihir dunia karena ia dapat menyihir hati para ulama." Yahya bin Mu'adz Ar-Rozi berkata: "Dunia itu arahnya setan. Siapa saja yang mabuk karenanya, dia tidak akan sadar, kecuali setelah bersama orang-orang yang mati dan menyesal bersama orang-orang yang merugi."

Akibat minimal dari mencintai dunia adalah melalaikan cinta kepada Alloh dan mengingat-Nya. Siapa saja yang dilengahkan oleh harta kekayaannya dari mengingat Alloh, pastilah dia termasuk orang-orang yang merugi. Seandainya hati lalai dari mengingat Alloh, pastilah ia dihuni setan dan disetir semaunya. Di antara kecerdikan setan dalam berbuat kejahatan adalah menjadikan seseorang merasa puas dengan sebagian perbuatan baik supaya orang itu beranggapan telah berbuat baik, padahal hatinya telah menjadi budaknya. Lalu, di mana letak kebaikannya bila dia sendiri justru menjadi budaknya.

Mencintai dunia merupakan sumber semua kesalahan dan dapat merusak agama karena beberapa alasan:

Pertama, mencintai dunia melahirkan pengagungan pada dunia, padahal ia sangat hina di sisi Alloh. Dan mengagungkan apa yang dianggap hina oleh Alloh termasuk dosa yang sangat besar.

Kedua, Alloh Ta'ala mengutuk, membenci, dan memurkai selain apa yang ditujukan untuk-Nya. Barang siapa yang menyenangi apa-apa yang dikutuk-Nya, dibenci-Nya, dan dimurkai-Nya, berarti dia telah menawarkan diri untuk dikutuk, dibenci, dan dimurkai-Nya.

Ketiga, orang yang mencintai dunia akan menjadikan dunia sebagai tujuan akhirnya, dan dia akan selalu berupaya untuk meraihnya melalui perbuatan-perbuatan yang sebenarnya dijadikan Alloh sebagai perantara kepada-Nya dan kepada kehidupan akhirat. Dia malah berbuat sebaliknya dan memutarbalikkan hikmah sehingga hatinya terbalik dan langkahnya mundur ke belakang.

Yunus bin Abd Al-A'la berkata: "Tidaklah aku mengumpamakan dunia ini, selain seperti orang tidur, lalu bermimpi melihat apa-apa yang dibenci dan disukainya. Dalam keadaan seperti itu, tiba-tiba aku terjaga."

"Aku perhatikan manusia yang sengsara tidak bosan kepada dunia Karena mereka telanjang dan kelaparan di sana.
Meskipun ia disukai, aku memandangnya sebagai Awan musim panas yang tak lama lagi akan lenyap."

Hal yang lebih mirip dengan dunia adalah bayangan. Dikira ia memiliki hakikat yang tetap, padahal sebenarnya ia menyusut dan mengerut. Engkau mengejarnya untuk menggapainya, tetapi tetap saja tidak bisa meraihnya. Hal lain lagi yang lebih mirip dengannya adalah fatamorgana. Orang dahaga mengira air, padahal ketika mendatanginya, ia tidak menemukan apa-apa, selain ketetapan Alloh yang sudah ada di sisinya. Kemudian, Alloh menyerahkan perhitungan amalnya, dan Alloh sangat cepat perhitungan-Nya. Hal lain yang lebih mirip dengan dunia adalah mimpi, di dalamnya seseorang menyaksikan apa yang disukai dan dibencinya. Ketika terjaga, dia baru sadar bahwa hal itu ternyata tidak ada.

Demi Alloh, penyeru dunia telah menginformasikan di hadapan semua makhluk: "Marilah mengejar ketidakberuntungan." Lalu, bangkitlah orang-orang yang bersungguh-sungguh dan tergila-gila kepada dunia; mereka mencarinya dari pagi sampai sore hari dan terbang dalam memburunya. Namun, tak seorang pun yang kembali, melainkan dalam keadaan sayap patah. Mereka terjerembap di dalam jaringnya, lalu diserahkan untuk disembelih.

Abu Al-'Ala' berkata: Aku pernah bermimpi melihat seorang wanita tua yang mengenakan seluruh perhiasan dunia. Orang-orang mengerumuninya sambil terkagum-kagum menyaksikannya, aku pun ikut datang dan melihatnya. Aku merasa heran terhadap tingkah laku orang-orang yang memandanginya dan menyambutnya. Aku bertanya kepadanya, "Celaka kamu! Siapakah kamu ini?" Wanita itu menjawab, "Engkau tidak mengenaliku?" Aku jawab, "Tidak." la berkata lagi, "Akulah dunia." Aku katakan, "Aku berlindung kepada Alloh SWT dari kejahatanmu." Ia menambahkan, "Apabila engkau ingin dilindungi dari kejahatanku, hindarilah semua perbuatan maksiat yang besar dan yang kecil, dan sering-seringlah berzikir kepada Allah SWT."

Abu Bakar bin Iyasy berkata: Aku pernah bermimpi melihat dunia dalam bentuk seorang wanita tua berupa buruk dan beruban sedang menepukkan kedua tangannya, dan diikuti oleh orang-orang yang juga bertepuk tangan dan menari-nari. Setelah berada di dekatku, ia menghampiriku seraya berkata: "Andai aku bisa memelukmu, pastilah aku memperlakukanmu seperti yang aku lakukan terhadap mereka." Abu Bakar pun menangis.

Ali r.a. telah mengilustrasikan dunia dalam ucapannya: "Sebuah kampung, yang orang sehat menjadi tua renta, orang sakit menjadi menyesal, orang memerlukannya menjadi sedih, orang kaya ditimpa bencana. Kehalalannya mengandung perhitungan, dan keharamannya mengandung neraka."

Ibnu Mas'ud r.a. berkata, "Dunia adalah tempat tinggal bagi orang yang tidak memilikinya, kekayaan bagi orang yang tidak memilikinya, dan yang dihimpun oleh orang yang tidak berakal.

"Umar bin Abdul Aziz mengirim surat kepada Al-Hasan, yang isinya: "Dunia ini tempat persinggahan, bukan tempat menetap. Adam diturunkan ke dunia sebagai hukuman. Jadi, waspadailah dunia, wahai Amirul Mukminin. Bekal yang dihimpun di dalamnya pasti akan ditinggalkan, kekayaannya sebenarnya kemiskinannya, ia akan memakan korbannya dalam segala kondisi, ia menghinakan orang yang memuliakannya, ia menjadikan orang yang mengumpulkannya selalu merasa kurang, ia bagaikan racun yang dimakan orang yang tidak mengenalinya dan mengakibatkan kematiannya. Jadilah di dunia ini bagaikan orang yang mengobati luka-lukanya dengan cara berdiet sementara waktu karena khawatir terjadinya hal yang tidak disukainya pada waktu yang panjang, dan bersabar menahan pahitnya obat karena khawatir panjangnya penderitaan itu. Oleh karena itu, waspadailah dunia yang penuh tipu daya, khayalan, dan ilusi ini. Ia menghiasi diri dengan ilusinya, menimbulkan bencana dengan tipu dayanya, memberikan khayalan dengan angan-angannya, dan memikat dengan tutur katanya. Ia bagaikan pengantin wanita yang cantik jelita, yang semua mata memandangnya, semua hati terpikat padanya, dan semua jiwa merindukannya. Padahal, bagi suaminya sendiri, ia hanyalah seorang pembunuh. Orang yang masih ada tidak mengambil pelajaran dari yang telah tiada, dan orang yang datang kemudian tidak mau mengambil peringatan dari orang yang datang terlebih dahulu. Manakala orang yang mengenal Alloh diberi tahu tentang dunia, dia langsung ingat. Sebaliknya, orang yang sangat merindukannya dan telah berhasil meraihnya untuk memenuhi kebutuhannya, pastilah terpedaya, melampaui batas, dan melupakan tempat kembalinya. Dia mencurahkan pikirannya untuk dunia sampai-sampai kakinya tergelincir. Akibatnya, dia sangat menyesal dan bersedih, yang akhirnya menyatu dalam dirinya antara sekarat dan kepedihannya, kesedihan terhadap yang terlewatkan dan kekurangannya. Dunia pun pergi meninggalkannya dalam keadaan patah hati, apa yang dicarinya tidak sempat diraihnya, jiwanya tak pernah diistirahatkan dari kelelahan, dan akhirnya ia pun meninggal tanpa bekal dan datang tanpa persiapan. Jadi, waspadailah ia (dunia), wahai Amirul Mukminin! Hal yang paling membahagiakanmu padanya adalah hal yang harus lebih engkau waspadai. Sebab, setiap kali pemilik dunia merasa tentram dengannya, pastilah ia (dunia) akan mengarahkannya pada kondisi yang tidak disukai. Orang yang bahagia karena dunia, besok lusa akan celaka. Kebahagiaan dunia akan diikuti oleh kesengsaraan, kekekalan padanya diarahkan pada kematian, kesenangannya bercampur dengan kesedihan, tidak akan kembali darinya apa yang telah berlalu dan telah pergi, tak diketahui pula apa yang bakal terjadi agar bisa diantisipasi. Angan-angannya kosong, cita-citanya sia-sia, kejernihannya keruh, dan kehidupannya sulit. Kalaulah Penciptanya tidak pernah menyampaikan suatu berita tentangnya dan tidak pernah memberikan perumpamaan, pastilah dunia akan membangunkan orang yang tidur dan mengingatkan orang yang lalai. Bagaimana pun, sesungguhnya telah datang keterangan dari Alloh Azza wa Jalla yang berisi larangan dan nasihat. Di sisi Alloh, dunia tidak bernilai dan berharga, bahkan Alloh tidak pernah memandangnya sejak Dia menciptakannya. Sungguh, dunia ini telah ditawarkan kepada Nabi ﷺ lengkap dengan semua kunci dan perbendaharaannya yang tidak akan mengurangi nilai beliau di sisi Alloh, walaupun seberat sayap nyamuk. Namun, beliau tidak mau menerimanya, dan tidak menyukai apa yang tidak disukai Penciptanya atau tidak mau meninggikan apa yang direndahkan Pemiliknya. Menghindarinya adalah pilihan orang-orang saleh, dan menyenanginya adalah tipu daya musuh-musuh Alloh. Orang yang terpedaya dan mampu menguasainya menduga bahwa dirinya telah mulia karenanya, dan melupakan apa yang diperbuat Alloh terhadap nabi Muhammad ﷺ ketika beliau terpaksa mengikatkan batu di perutnya."

Al-Hasan pernah berkata pula, "Hai keturunan Adam, janganlah engkau gantungkan hatimu pada dunia, karena itu berarti engkau telah bergantung pada seburuk-buruk tempat bergantung. Putuskanlah tali-talinya dan tutuplah pintu-pintunya. Hai keturunan Adam, cukuplah bagimu dari dunia itu apa yang bisa mencukupi kebutuhanmu saja." 

Ali berkata lagi: "Sebagian orang memuliakan dunia, lalu ia (dunia) menyalib mereka di atas kayu. Oleh karena itu, rendahkanlah dunia, dan berbahagialah kalian apabila merendahkannya. Bagaimanapun, dunia ini akan sirna, sedangkan amal perbuatan tetap kekal laksana kalung-kalung yang digantungkan di leher."

Isa Al-Masih 'alaihissalam berkata: "Janganlah menjadikan dunia sebagai Tuhan sebab ia akan menjadikan kalian sebagai hamba. Lewatilah dunia ini dan jangan menetap di dalamnya. Ingatlah! Sumber segala kesalahan adalah mencintai dunia. Berapa banyak syahwat yang telah mewariskan kesedihan menahun untuk pemiliknya. Tidaklah dunia itu bersemayam di hati seorang hamba, melainkan hatinya akan menanggung tiga hal; kesibukan yang kelelahannya tak kunjung hilang, kemiskinan yang kecukupannya tak kunjung datang, dan angan-angan yang tiada berujung. Dunia adalah pencari sekaligus yang dicari. Orang yang mencari akhirat akan dicari oleh dunia hingga rezekinya terpenuhi, sedangkan orang yang mencari dunia akan dicari oleh akhirat ketika ajalnya tiba lalu mencengkram lehernya. Hai orang-orang Hawariyin, puaslah dengan kekurangan dunia, tetapi selamat agama, sebagaimana penghuni dunia merasa puas dengan kurang agama meskipun dunia mereka berlimpah!"

Abu Hurairah r.a. berkata: "Dunia ini terkatung-katung antara langit dan bumi sejak Alloh Ta'ala menciptakannya sampai suatu hari Alloh melenyapkannya. Ia menyeru Tuhannya, 'Ya Tuhan, janganlah engkau murka kepadaku.' Alloh menjawab, 'Diam kamu, hai yang tidak ada apa-apanya. Diam kamu, hai yang tidak ada apa-apanya'." 

Al-Fudhail pernah berkata: "Pada hari Kiamat, dunia akan datang dan membanggakan diri karena perhiasan dan kecantikannya. la berkata, 'Ya Tuhan, jadikanlah aku rumah untuk hamba-hamba-Mu yang terbaik.' Tuhan menjawab, 'Aku tidak meridhoimu untuknya. Engkau tidak ada apa-apanya. Jadilah engkau debu yang ber hamburan'."

Isa Al-Masih juga pernah berkata, "Dunia ini laksana jembatan maka lintasilah ia dan jangan kalian diami.

Perumpamaan Isa Al-Masih tersebut benar, karena kehidupan ini memang jembatan menuju akhirat. Buaian ibu merupakan pilar pertama yang berada di awal jembatan, sedangkan liang lahat adalah pilar terakhir yang berada di akhir jembatan. Di antara manusia ada yang bisa melintasi separuh jembatan, ada yang bisa melintasi sepertiganya, ada pula yang tinggal selangkah, tetapi dia tidak menyadarinya. Apa pun keadaannya, jembatan itu haruslah dilintasi. Siapa saja yang berhenti untuk mendirikan bangunan di atasnya dan menghiasinya dengan beragam perhiasan, padahal dia dianjurkan agar segera melintasinya, maka dia sangatlah bodoh.

Jika ada orang yang mengatakan bahwa langit dan bumi ini dipenuhi oleh biji sawi, lalu setiap seribu tahun ada seekor burung yang memindahkan satu biji sawi, pastilah semua biji itu akan habis. Sementara akhirat tidak akan pernah berakhir. Jadi, bandingan dunia dengan akhirat itu laksana satu biji sawi dengan biji-bijian yang tak terhingga. Dunia ini adalah satu hembusan napas dari banyak hembusan napas akhirat dan salah satu saat dari saat-saat di akhirat.

Musa 'alaihis salam juga pernah berkata, "Wahai Tuhanku, perlihatkan kepadaku salah seorang dari wali-wali-Mu." Tuhan menjawab, "Carilah di tempat ini dan itu." Musa pun mencarinya, tetapi di sana dia hanya menemukan tulang-belulang seorang laki-laki yang telah dimakan binatang buas. Dia berkata, "Ya Tuhan, aku tidak melihat apa-apa, selain tulang belulang." Tuhan menjawab, "Ia adalah tulang-belulang seorang wali-Ku." Dia bertanya, "Ya Tuhan, mengapa Engkau kirim binatang buas untuk memakannya?" Tuhan menjawab, "Benar, demi kemuliaan-Ku, tidaklah Aku mengeluarkannya dari dunia, kecuali dalam keadaan lapar dan haus." Musa bertanya lagi, "Wahai Tuhan, mengapa begitu?" Tuhan menjawab, "Karena kedudukannya (yang tinggi) di sisi-Ku. Kalaulah engkau sempat melihatnya, pastilah jiwamu binasa karena rindu kepadanya. Aku tidak rela dunia ini diperuntukkan bagi salah seorang dari wali-wali-Ku."

Tentang firman Allah Ta'ala:


زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِيْنَ. (الــ عـمـران :١٤)

Artinya:

"Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa apa yang diingini, yaitu wanita-wanita dan anak-anak." (Q.S. Ali Imran: 14)

Ibnu Al-Qayyim rahimahulloh berkata, "Yang dimaksud adalah anjuran bersikap zuhud terhadap dunia yang fana dan akan sirna ini, anjuran agar menyenangi kehidupan yang kekal lagi terus berlangsung, penghinaan terhadap orang yang mengutamakan segala perhiasannya dan disejajarkan dengan kedudukan anak kecil yang memandang indah permainannya sehingga merasa senang dan ceria. Hanya saja, dalam ayat tersebut tidak disebutkan subjek yang menjadikan indah tersebut, sehingga Dia tidak berfirman, "Kami menjadikan indah untuk manusia." Alloh mengaitkan perbuatan menjadikan indah dunia ini dengan beragam ketundukan terhadap godaan setan, sebagaimana firman-Nya:


وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ. (الأنغام: ٤٣)

Artinya:

"Dan setan pun menghiasi untuk mereka apa-apa yang mereka kerjakan." (QS. Al-An'am: 43)


Dan firman-Nya: 

وَكَذَٰلِكَ زَيَّنَ لِكَثِيرٍ مِنَ الْمُشْرِكِينَ قَتْلَ أَوْلَادِهِمْ شُرَكَاؤُهُمْ. (الأنغام: ١٣٧)

Artinya:

"Dan demikianlah pemimpin-pemimpin mereka telah menjadikan kebanyakan dari orang-orang yang musyrik itu memandang baik tindakan membunuh anak-anak mereka." (QS. Al-An'am: 137)  sampai akhir ucapannya. 


Seandainya orang yang berakal diuji dengan dunia, tersingkaplah baginya sosok seorang musuh dalam pakaian seorang kawan.

Sufyan Ats-Tsauri rahimahullahu berkata, "Apabila engkau ingin mengetahui nilai dunia, lihatlah di tangan siapa ia berada."

Sufyan At-Tsauri berkata lagi, “Tidak ada kebaikan bagi seorang qori' yang mengagungkan penghuni dunia."

Adapun Yahya bin Mu'adz Ar-Rozi rahimahullohu berkata, "Agama seorang hamba akan tetap rusak selama hatinya bergantung pada cinta dunia."


No comments:

Post a Comment

Yuk kita saling berkomentar dengan baik dan sopan untuk menumbuhkan ukhuwah dan silaturahmi sesama sahabat blogger. Terima Kasih.