Monday, April 16, 2018

TERJEMAH KASYIFATUS SAJA Bag.32


قَالَ الْبَيْجُوْرِيُّ وَلَا بَأْسَ بِتَقْلِيْدِ الْأُصْطُخْرِيِّ فِيْ قَوْلِهِ الْآنَ لِاحْتِيَاجِهِمْ.
Syeh al-Baijuri berkata: "Tidaklah mengapa dengan mengikuti Syeh al-Ushtukhriy dalam pendapatnya itu di jaman sekarang  ini (jaman now), karena butuhnya mereka (Bani Hasyim dan Bani Muththolib)"

وَكَانَ الشَّيْخُ مُحَمَّدٌ الْفَضَالِيُّ رَحِمَهُ اللّٰهُ يُمِيْلُ إِلٰى ذٰلِكَ مَحَبَّةً فِيْهِمْ نَفَعَنَا اللّٰهُ بِهِمْ.
Dan adalah Syeh Muhammad al-Fadholi, semoga Alloh merahmati beliau, berkecendrungan [mengikuti] kepada pendapat tersebut, karena cinta kepada mereka (Bani Hasyim dan Bani Muththolib). Semoga Alloh memberi manfa'at kepada kita dengan sebab mereka.

﴿وَ رَابِعُهَا ﴿صَوْمُ رَمَضَانَ وَفُرِضَ فِيْ شَعْبَانَ مِنَ السَّنَةِ الثَّانِيَةِ مِنَ الْهِجْرَةِ فَصَامَ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تِسْعَ رَمَضَانَاتٍ وَاحِدًا كَامِلًا وَثَمَانِيَةً نَوَاقِصَ.
Dan﴿ rukun Islam yang keempat adalah berpuasa di bulan Romadhon﴿ Dan puasa Romadhon diwajibkan pada bulan Sya'ban di tahun ke dua dari hijrah (2 H). Lalu Nabi Saw berpuasa [sebanyak] 9 kali Romadhon, yang satu kali Romadhon [dilaksanakan] secara sempurna (genap 30 hari) dan yang 8 kali Romadhon [dilaksanakan] secara kurang (hanya 29 hari).

﴿تَنْبِيْهٌ اِعْلَمْ أَنَّ رَمَضَانَ غَيْرُ مُنْصَرِفٍ لِلْعَلَمِيَّةِ إِلَّا إِنْ كَانَ الْمُرَادُ بِهِ كُلَّ رَمَضَانَ مِنْ غَيْرِ تَعْيِيْنٍ وَإِذَا أُرِيْدَ بِهِ ذٰلِكَ صُرِفَ لِأَنَّهُ نَكِرَةٌ وَبَقَاءُ الْأَلِفِ وَالنُّوْنِ الزَّائِدَتَيْنِ لَا يَقْتَضِيْ مَنْعَهُ مِنَ الصَّرْفِ كَمَا قَالَ الشَّرْقَاوِيُّ.
Peringatan﴿ Ketahuilah bahwa lafazh رَمَضَانُ adalah isim ghoiru munshorif (kalimah isim yang tidak menerima tanwin) karena sebagai isim 'alam. Kecuali jika yang dimaksudkan dengan lafazh رَمَضَانُ adalah seluruh Romadhon, dengan tanpa menentukan. Dan apabila yang dimaksud dengan lafazh رَمَضَانُ adalah demikian, maka lafazh رَمَضَانُ menjadi munshorif (bertanwin) [sehingga menjadi رَمَضَانٌ], karena sesungguhnya lafazh tersebut adalah isim nakiroh. Dan masih tetapnya huruf alif dan nun, yang keduanya sebagai tambahan, tidak dapat menyebabkan tercegahnya lafadz رَمَضَانٌ tersebut dari menerima tanwin. Sebagaimana yang telah dikatakan oleh Syeh asy-Syarqowi.

قَالَ أَبُوْ قَاسِمِ الْحَرِيْرِيُّ فِيْ كِتَابِهِ بِنْتُ اللَّيْلَةِ مِنْ بَحْرِ الرَّجَزِ:
Syeh Abul Qosim al-Hariri telah berkata di dalam kitabnya [yang diberi nama] Bintul Lailah (rumah malam), berupa [syair yang] berbahar Rojaz:

وَمِنْهُ مَا جَاءَ عَلٰى فَعْلَانَا ۞ عَلَى اخْتِلَافِ فَائِهِ أَحْيَانَا
Dan termasuk isim Ghoiru Munshorif adalah lafazh yang datang mengikuti wazan فَعْلَانُ  ۞ dengan berbeda-beda harokat pada fa' fi'il-nya sewaktu-waktu.

تَقُوْلُ مَرْوَانُ أَتٰى كِرْمَانَا ۞ وَرَحْمَةُ اللّٰهِ عَلٰى عُثْمَانَا
Engkau berkata: "Marwan mendatangi si Kirman۞ "Dan rohmat Alloh semoga tercurah atas Utsman".

فَهٰذِهِ إِنْ عُرِفَتْ لَمْ تَنْصَرِفْ ۞ وَمَا أَتٰى مُنَكَّرًا مِنْهَا صُرِفْ
Maka kalimah isim yang mengikuti wazan فَعْلَانُ ini, jika dibuat isim ma'rifat, tidak boleh di-tanwin-kan ۞ dan kalimah yang datang dalam bentuk isim nakiroh dari kalimah-kalimah tersebut, boleh di-tanwin-kan.


No comments:

Post a Comment

Yuk kita saling berkomentar dengan baik dan sopan untuk menumbuhkan ukhuwah dan silaturahmi sesama sahabat blogger. Terima Kasih.